Menu

Mode Gelap
Haji Kilat Tanpa Antre? Ujung-ujungnya Malah Kena Polri, Modus Visa Kerja Terbongkar 17 Korban Kecelakaan KRL Bekasi Timur Masih Dirawat, 3 Jalani Operasi dan 2 Dirujuk karena Kondisi Kritis Fakta Mengejutkan Tom Ogle: Tolak Tawaran Miliaran, Temukan Mobil Irit, Lalu Tewas Misterius Susi Pudjiastuti Resmi Jadi Komisaris Utama Bank BJB, Target Utama: Sikat Pinjol Ilegal di Jabar “Teror Sungai Musi 1987: Yang Tenggelam Tidak Pernah Pergi” Pilu, Tabrakan KA Bekasi Timur Renggut 15 Nyawa, Termasuk Seorang Jurnalis Perempuan

Internasional

Iran Kirim Sinyal Keras ke Ukraina: Jika Bantu Israel Pakai Drone, Bisa Dianggap “Target Sah”

badge-check


					Iran memperingatkan Ukraina bisa menjadi “target sah” jika terbukti membantu Israel dengan teknologi militer atau drone. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global. Perbesar

Iran memperingatkan Ukraina bisa menjadi “target sah” jika terbukti membantu Israel dengan teknologi militer atau drone. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

PRABAINSIGHT.COM – Kadang dalam politik internasional, satu kalimat saja bisa bikin suhu geopolitik naik beberapa derajat. Kali ini yang melempar pernyataan panas adalah pejabat tinggi dari Iran, dan yang kena “warning” adalah Ukraina.

Iran memberi sinyal keras kepada Kyiv: jika Ukraina terbukti membantu Israel dalam konflik yang sedang berlangsung terutama lewat teknologi militer seperti drone maka negara itu bisa dianggap sebagai “target sah.”

Pernyataan ini datang dari Ibrahim Azizi, Ketua Komisi Keamanan Nasional parlemen Iran. Dalam keterangannya, Azizi menyebut bahwa dukungan militer kepada Israel bisa ditafsirkan sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam konflik yang juga melibatkan Iran.

Dengan kata lain, jika Ukraina benar-benar berada di belakang bantuan teknologi atau drone untuk Israel, maka Teheran bisa memandangnya sebagai pihak yang ikut campur dalam konflik.

Azizi bahkan menyinggung dasar hukum internasional untuk memperkuat argumennya. Ia merujuk pada Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang berbicara tentang hak suatu negara untuk melakukan pembelaan diri.

Menurutnya, prinsip itu memberi ruang bagi sebuah negara untuk mengambil tindakan terhadap pihak yang dianggap terlibat dalam agresi.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan sejumlah negara sekutu Barat. Situasi yang sudah panas itu kini makin sensitif karena berbagai negara di luar kawasan juga disebut-sebut memiliki peran tidak langsung.

Menariknya, hubungan Iran dan Ukraina memang sudah lama tidak mulus.

Kyiv sebelumnya mengecam keras dugaan pengiriman drone buatan Iran yang digunakan Rusia dalam perang melawan Ukraina. Kritik tersebut kemudian diikuti dengan langkah-langkah diplomatik dari Ukraina yang membuat hubungan kedua negara semakin dingin.

Jadi ketika Iran kini menyinggung kemungkinan Ukraina membantu Israel, latar belakang hubungan yang sudah tegang itu membuat pernyataan tersebut terasa makin tajam.

Meski begitu, hingga sekarang belum ada tanda bahwa Iran benar-benar mempersiapkan serangan militer langsung terhadap Ukraina.

Banyak analis menilai komentar dari pejabat Iran lebih sebagai pesan politik semacam peringatan keras di tengah rivalitas geopolitik yang semakin kompleks.

Namun satu hal jelas: konflik yang awalnya berpusat di Timur Tengah kini mulai memunculkan bayang-bayang ketegangan yang lebih luas. Ketika negara di luar kawasan ikut disebut-sebut, peta konflik global bisa berubah jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Patung Yesus Dirusak di Lebanon Selatan, Militer Israel Akui dan Janji Investigasi

22 April 2026 - 20:30

Dana Rp263 Triliun untuk Gaza Diduga Dialihkan ke Israel, Nama Donald Trump Disorot

20 April 2026 - 16:41

Pendeta di Irlandia “Salah Doa” untuk Donald Trump, Jemaat Tertawa, Netizen: Ini Bukan Sekadar Kepleset

20 April 2026 - 14:47

Ketegangan Ibadah di Yerusalem: Israel Perketat Akses Minggu Palma, Pemimpin Gereja Protes

16 April 2026 - 20:30

Melania Trump Bantah Keterkaitan dengan Epstein Files, DOJ Buka Dokumen Lama yang Seret Nama Elite Dunia

12 April 2026 - 13:05

Trending di Internasional