PRABAINSIGHT.COM – KUDUS – Kamis (29/1/2026) seharusnya jadi hari biasa di SMA Negeri 2 Kudus. Bel masuk berbunyi, buku dibuka, dan perut seperti biasa menanti jam makan siang. Tapi yang datang bukan semangat belajar, melainkan mual berjamaah. Sirine ambulans meraung-raung, bukan satu dua, tapi seperti konvoi darurat yang tak ada di buku pelajaran.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang katanya menyehatkan, hari itu justru berubah jadi mimpi buruk massal. Soto ayam yang mestinya menguatkan imun, malah bikin ratusan siswa tumbang satu per satu.
Dari “Beberapa” Jadi 118, Masih Bisa Nambah
Awalnya disebut puluhan. Tapi data suka jujur belakangan. Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus akhirnya mengonfirmasi 118 siswa harus dirawat di tujuh rumah sakit berbeda mulai dari RSUD dr. Loekmono Hadi sampai RS Sarkies Aisyiyah.
Dan itu belum final. Pihak sekolah menyebut sekitar 600 siswa mengalami gejala, dari pusing, mual, muntah, sampai diare brutal. Beberapa guru yang ikut menyantap menu “bergizi” itu juga tak luput dari nasib serupa. Jadi, ini bukan sekadar salah makan. Ini tragedi massal.
Soto Ayam yang Lebih Dulu “Matang”
Biang keroknya diduga kuat menu MBG yang dibagikan Rabu (28/1): nasi, soto ayam suwir, tempe, dan taoge. Paket sederhana, tapi dampaknya luar biasa.
“Ayamnya asem, baunya aneh,” kata salah satu siswa dari ranjang rumah sakit, ditemani infus dan ekspresi trauma kuliner.
Kalimat pendek, tapi cukup menjelaskan segalanya. Soto itu tampaknya lebih dulu “hidup” sebelum sampai ke meja makan.
Vendor penyedia, SPPG Purwosari, akhirnya angkat suara. Kepala SPPG, Nasihul Umam, menyampaikan permintaan maaf dan berjanji bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan. Maaf sudah keluar, tapi soto terlanjur masuk perut.
Ambulans Nyaris Kalah oleh Lumpur
Kepanikan tak hanya terjadi di ruang UKS dan kelas. Di lapangan sekolah, satu unit ambulans sempat kepater terjebak lumpur lapangan yang becek. Ironis: kendaraan penyelamat malah butuh diselamatkan.
Di sinilah sisi kemanusiaan muncul. Puluhan siswa laki-laki langsung turun tangan. Seragam putih abu-abu berubah jadi cokelat lumpur. Mereka mendorong ambulans rame-rame, tanpa aba-aba, tanpa panitia. Solidaritas spontan di tengah kekacauan.
Kalau ada pelajaran hari itu, mungkin ini yang paling membekas.
Kudus Siaga, MBG Diperiksa
Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, turun langsung ke lokasi dan rumah sakit. Pemerintah daerah memastikan seluruh biaya perawatan ditanggung melalui skema UHC BPJS Kesehatan. Sampel makanan dan feses korban kini diuji di laboratorium untuk memastikan sumber racun.
Hari ini, SMA 2 Kudus bukan sekadar sekolah. Ia jadi monumen kecil kegagalan pengawasan pangan. Program nasional yang dijual sebagai solusi gizi, mendadak berubah jadi alarm keras.
Karena kalau makan siang saja bisa melumpuhkan ratusan siswa, mungkin yang perlu diperiksa bukan cuma sotonya tapi juga sistemnya.
Editor : Irfan Ardhiyanto











