Menu

Mode Gelap
Aliansi Aktivis 98 Bahas Laporan Jampidsus dalam Diskusi Reformasi 98 Bantah Tuduhan Penipuan, Nancy Fidelia Fatima Tegaskan Korban Transaksi Aset Bermasalah Launching Media Kontra Narasi, Survei HAI Catat Kepercayaan Publik terhadap Polri 78,3 Persen Rizki Juniansyah Naik Pangkat Jadi Kapten dan Pindah dari TNI AL ke AD Sidang Brigadir Nurhadi, Jaksa Ungkap Petunjuk Motif dari Kesaksian MALAM JUMAT KLIWON: YANG BANGKIT DARI KUBUR TIDAK SELALU MAYIT

Crime

Tragedi Tempe di Dusun Watuketu: Tiga Anggota Satu Keluarga Ditemukan Tewas dalam Satu Rumah

badge-check


					Tragedi memilukan terjadi di Dusun Watuketu, Situbondo. Tiga anggota satu keluarga ditemukan tewas dengan luka sayatan di leher. Polisi mendalami dugaan pembunuhan berencana dan memeriksa kronologi penemuan korban oleh ayah salah satu korban.(Istimewa) Perbesar

Tragedi memilukan terjadi di Dusun Watuketu, Situbondo. Tiga anggota satu keluarga ditemukan tewas dengan luka sayatan di leher. Polisi mendalami dugaan pembunuhan berencana dan memeriksa kronologi penemuan korban oleh ayah salah satu korban.(Istimewa)

PRABA INSIGHT- JATIM –  Minggu pagi di Dusun Watuketu, Desa Demung, Besuki, Situbondo, biasanya cuma diisi suara burung, wangi dapur, dan gosip kecil di beranda. Tapi 28 Desember 2025 itu, suasana yang biasanya adem mendadak berubah jadi kabar yang bikin satu kampung tercekat.

Di sebuah rumah sederhana, tiga orang dari satu keluarga ditemukan sudah tak bernyawa. Mereka adalah H (58), suami siri; S (38), sang istri; serta N (20), anak S  yang sekaligus anak tiri H. Semuanya ditemukan dalam kondisi mengenaskan, dengan luka serupa di bagian leher. Polisi menyebut dugaan sementara mengarah pada tindak kekerasan berat.

Dan dari semua orang di dunia ini, sosok yang pertama kali mengetahui peristiwa itu adalah Abdur (60) ayah S yang datang cuma untuk… mengantar tempe.

Iya. Tempe.

Pagi itu Abdur datang tanpa firasat apa-apa. Pintu depan diketuk, tapi tak ada jawaban. Karena sunyi, ia masuk lewat pintu samping yang ternyata tidak dikunci. Tempe diletakkannya di meja dapur. Ia keluar lagi. Tak ada apa-apa yang terasa janggal.

Atau mungkin saat itu, hidup memang sedang terlalu pelan untuk memberi tanda.

Setengah jam kemudian, entah karena rasa penasaran atau semacam dorongan batin yang tak bisa dijelaskan, Abdur kembali masuk. Kali ini ia memperhatikan lebih teliti.

Di kamar mandi, ia menemukan H telah tergeletak bersimbah darah. Panik, ia mencari anak dan cucunya. Lampu dinyalakan. Lantai terlihat basah oleh cairan yang bukan air. Di balik pintu kamar, S dan N ditemukan dalam kondisi serupa.

“Saya angkat ibunya dulu, tapi sudah tidak bernapas. Anaknya juga sama,” ujar Abdur lirih.

Dan di situlah dunia runtuh  bukan dengan suara keras  melainkan dengan sunyi yang panjang.

Polisi datang, garis kuning dipasang, barang bukti diperiksa. Luka pada ketiga korban memiliki pola serupa. Dugaan mengarah pada pembunuhan berencana atau kekerasan berat. Pertanyaan pun bertumpuk seperti daun-daun kering di halaman.

Siapa yang sanggup melakukan itu? Kenapa pintu samping dibiarkan tidak terkunci? Dan mengapa tragedi selalu memilih datang ke rumah orang-orang sederhana?

Dusun Watuketu terdiam. Hanya tempe di atas meja yang kini terasa seperti benda simbolis: makanan sehari-hari yang tiba-tiba berubah jadi saksi bisu batas tipis antara rutinitas dan kehilangan.

Abdur pulang bukan dengan hati lega setelah mengantar pesanan, melainkan dengan trauma yang mungkin tak akan selesai disembuhkan oleh waktu.

Karena kadang, hidup memang kejam dengan cara yang tak pernah kita sangka: datang sebagai urusan dapur… lalu pulang sebagai duka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sidang Brigadir Nurhadi, Jaksa Ungkap Petunjuk Motif dari Kesaksian

16 Januari 2026 - 09:31 WIB

Polisi Colong Motor Polisi: Ironi Kehilangan di Markas Sendiri

10 Januari 2026 - 13:55 WIB

Panik, Utang, dan Pisau: Kronik Pembunuhan Anak Politikus di Cilegon

8 Januari 2026 - 05:06 WIB

Kasus Mahasiswi Unima di Tomohon: Surat Pengaduan, Dugaan Pelecehan, dan Penyelidikan Polda Sulut

4 Januari 2026 - 09:21 WIB

Sidang Etik Bripda Seili: Rekonstruksi Cekikan hingga Pertanyaan soal Niat Fatal

4 Januari 2026 - 09:00 WIB

Trending di Crime