Menu

Mode Gelap
Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1 Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

Politik

Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP

badge-check

Wasekjend Depinas SOKSI Rouli Rajagukguk mengkritik pernyataan Deddy Sitorus terhadap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ia menilai serangan tersebut mencerminkan kemunduran etika politik dan mendesak PDIP berbenah.(istimewa) Perbesar

Wasekjend Depinas SOKSI Rouli Rajagukguk mengkritik pernyataan Deddy Sitorus terhadap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Ia menilai serangan tersebut mencerminkan kemunduran etika politik dan mendesak PDIP berbenah.(istimewa)

PRABAINSIGHTT.COM – JAKARTA – Polemik politik yang melibatkan Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Deddy Yevri Sitorus dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terus menuai respons. Kali ini, kritik datang dari Wasekretaris Jenderal Depinas SOKSI, Rouli Rajagukguk, yang menilai pernyataan Deddy telah melampaui batas etika komunikasi politik.

Rouli menyebut penggunaan julukan “si bolu ketan” terhadap Bahlil tidak mencerminkan kualitas kritik yang dibangun di atas data dan argumentasi. Menurutnya, gaya komunikasi seperti itu justru memperlihatkan kemunduran etika politik di tubuh PDIP.

“Pernyataan Ketua DPP PDI Perjuangan, Deddy Yevri Sitorus, yang menyerang Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan tuduhan tanpa bukti dan menggunakan julukan merendahkan seperti ‘si bolu ketan’, adalah cermin nyata dari kegagalan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri dalam mendidik kadernya,” ujar Rouli dalam keterangan tertulis, Selasa (14/7/2026).

Menurut Rouli, kritik politik seharusnya disampaikan secara substantif dan berbasis fakta, bukan melalui serangan personal yang berpotensi merendahkan individu.

“Penggunaan diksi seperti ‘bolu ketan’ oleh seorang pejabat tinggi partai selevel Ketua DPP PDIP adalah tanda degradasi etika kepemimpinan yang sangat memalukan. Ini bukan kritik substantif, melainkan pembunuhan karakter dengan cara merundung (bullying) secara pengecut,” katanya.

Soroti Pola Pembinaan Kader

Rouli menilai polemik tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai pola pembinaan kader di internal PDIP. Ia mempertanyakan standar komunikasi politik yang diterapkan di bawah kepemimpinan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

“Saya mempertanyakan standar kepemimpinan dan komunikasi publik yang diajarkan oleh Megawati Soekarnoputri kepada kadernya. Kegagalan mendidik kader untuk berpolitik dengan basis data dan argumentasi, bukan makian dan asumsi, adalah bukti kemunduran PDIP,” ujarnya.

Singgung Kredibilitas Moral PDIP

Dalam keterangannya, Rouli juga menyinggung sejumlah persoalan hukum yang pernah menyeret kader PDIP. Menurut dia, partai seharusnya lebih dahulu menyelesaikan persoalan internal sebelum melontarkan tudingan kepada pihak lain.

“PDIP tidak memiliki kredibilitas moral untuk berkoar-koar menuntut pemeriksaan korupsi terhadap orang lain, sementara rumah mereka sendiri penuh dengan borok korupsi. Saya menantang Megawati, sebelum kadernya menunjuk hidung Menteri Bahlil, bersihkan dulu kader-kader Anda,” tegasnya.

Ia juga mengungkit kasus buronan Harun Masiku yang hingga kini masih menjadi perhatian publik.

“Perlu saya ingatkan kembali, Megawati bukanlah pemimpin yang bersih-bersih amat, kasus Harun Masiku, kader PDIP yang buron dalam kasus suap komisaris KPU yang tak pernah bisa ditangkap. Di mana komitmen Megawati dalam memberantas korupsi saat kadernya sendiri menjadi simbol korupsi yang memalukan?” katanya.

Dinilai Mengalihkan Perhatian Publik

Rouli berpendapat respons Deddy terhadap Bahlil lebih bernuansa politis daripada memberikan kritik yang konstruktif. Menurut dia, pernyataan tersebut justru dapat dipersepsikan sebagai upaya mengalihkan perhatian publik dari berbagai persoalan internal partai.

“Tindakan Deddy Sitorus yang sangat reaktif ini adalah upaya pengecut untuk membangun narasi seolah-olah PDIP adalah pejuang korupsi, demi mengalihkan isu dari borok internal mereka sendiri. Banyak kader kepala daerah dari PDIP yang tertangkap KPK, dan yang paling memalukan, buronnya kader utama (Harun Masiku) yang tak pernah diselesaikan oleh Megawati,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Rouli meyakini masyarakat semakin kritis dalam menilai dinamika politik nasional dan tidak mudah menerima narasi yang dinilai hanya berisi serangan personal.

“Publik sudah sangat cerdas dan tidak akan mudah terprovokasi oleh narasi serangan politik murahan dan pengecut dari PDIP. Serangan Deddy Sitorus hanyalah cermin borok internal PDIP yang mencoba menutupi kegagalannya sendiri dengan menunjuk-menunjuk orang lain. Di bawah kepemimpinan Megawati yang feodal, PDIP telah kehilangan marwah reformasi dan etik, dan hanya sibuk dengan politik dendam tanpa basis data dan solusi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

KBM UNPAM Dukung Polri Usut Tuntas Dugaan Korupsi Eks Jampidsus, Tegaskan Tak Ada yang Kebal Hukum

19 Juli 2026 - 16:37

Hari Purwanto Desak Aparat Usut Dugaan Fitnah terhadap Megawati, Minta Diselesaikan Lewat Jalur Hukum

16 Juli 2026 - 22:20

Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998

15 Juli 2026 - 15:02

Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut

15 Juli 2026 - 11:37

Ubedilah Badrun: Selama Penegak Hukum Masih Terhubung ke Politik, Sulit Berharap Penegakan Hukum Benar-Benar Independen

7 Juli 2026 - 13:55

Trending di News