Menu

Mode Gelap
PAN “Kehilangan” Eko Patrio dan Uya Kuya: Dari Panggung Hiburan ke Panggung Politik, Lalu ke Pintu Keluar DPR Surya Paloh Nonaktifkan Sahroni dan Nafa Urbach, Ini Alasannya “Kompol C, Brimob yang Namanya Muncul di Kasus Novel Baswedan dan Affan Kurniawan” Fasum Kalideres Harusnya Jadi Taman, Malah Dikuasai Bangunan Liar Geger Nampan MBG Disebut Pakai Minyak Babi, Pemerintah: Tenang, Bisa Diuji di BPOM Kisruh Demo di Senayan, Nurul Arifin Janji Perjuangkan Aspirasi dengan Syarat Ini?

News

Kapolri Cium Tangan Megawati: Salam Hormat, Sinyal Damai, atau Sekadar Adab Ketimuran?

badge-check


					Politikus PDIP Guntur Romli menilai hal tersebut wajar. Lantaran, Megawati telah dianggap ibu bangsa. (Foto ; Ist) Perbesar

Politikus PDIP Guntur Romli menilai hal tersebut wajar. Lantaran, Megawati telah dianggap ibu bangsa. (Foto ; Ist)

PRABA INSIGHT- Kalau cium tangan bisa mengakhiri ketegangan, mungkin banyak pejabat kita yang perlu ikut-ikutan.

Momen dramatis sekaligus penuh simbol terjadi saat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencium tangan Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Bukan di Istana, bukan di ruang rapat, tapi di kediaman Mery Hoegeng istri mendiang Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso di Depok, Senin (23/6).

Di sana, dalam acara ulang tahun Mery yang ke-100, Listyo berdiri di depan rumah. Menunggu. Bersalaman. Hormat. Lalu… cium tangan.

Gestur ini langsung ramai jadi bahan perbincangan warganet. Tapi buat politisi PDIP Guntur Romli, semua ini seharusnya tak perlu dibawa ke arah politik picisan. Menurutnya, itu wajar. Namanya juga ketemu “Ibu Bangsa.”

“Wajar, cium tangan kepada orang tua. Ibu Megawati bukan cuma seperti ibu kita sendiri, beliau juga Ibu Bangsa dan Presiden RI ke-5,” kata Guntur seperti dikutip dari Merdeka.com, Selasa (24/6).

Ia pun membandingkan dengan Jokowi, yang menurutnya juga sering melakukan hal yang sama.

“Cium tangan itu sopan santun. Adab ketimuran. Bukan soal loyalitas politik, tapi tata krama,” ujarnya.

Tapi Bukannya Megawati Lagi Sentil-Sentil Kapolri?

Nah, ini yang bikin momen cium tangan itu terasa makin dramatis, bahkan sedikit plot twist. Soalnya, dalam beberapa pidato politiknya, Megawati memang sempat menyindir keras Kapolri Listyo. Salah satunya terjadi pada 14 Agustus 2024 di Kantor DPP PDIP.

Kala itu, Megawati curhat di depan publik bahwa permintaannya untuk bertemu Kapolri malah nggak digubris.

Megawati sampai harus meluruskan bahwa niatnya bukan untuk menekan atau mengintervensi.

“Memangnya saya enggak boleh (ketemu)? Kalau orang lain saja boleh, masa saya enggak boleh? Karena saya juga yang memisahkan (Polri dari ABRI), terus saya takut? Enggak. Saya orang baik-baik,” tegas Mega.

Kalimat “saya orang baik-baik” ini langsung jadi highlight tersendiri, karena jarang-jarang tokoh sekelas Megawati menyuarakan kekecewaan dengan begitu terbuka.

Namun menurut Guntur, kritik itu bukanlah serangan. Justru bentuk kasih sayang.

Kasih sayang khas ibu yang pernah membesarkan anaknya dalam hal ini, institusi Polri dengan darah dan sejarah politik.

“Kritik Ibu Megawati ke polisi dasarnya sayang. Karena beliau yang memisahkan Polri dari ABRI saat jadi Presiden,” ujar Guntur.

Hoegeng, Polisi Idaman, dan Nostalgia Era Bung Karno

Guntur juga mengingatkan bahwa momen di rumah Mery Hoegeng itu bukan cuma soal cium tangan dan politik simbolik.

Tapi juga mengenang Hoegeng, sosok Kapolri yang jadi legenda kejujuran dan ketegasan.

“Pak Hoegeng itu panutan. Dan keluarganya dekat sekali dengan Bung Karno dan Ibu Megawati,” kata Guntur menambahkan.

Kalau ditarik benang merahnya, bisa jadi cium tangan itu bukan sekadar adab sopan.

Tapi semacam rekonsiliasi simbolik. Antara masa lalu yang dihormati, dan masa kini yang butuh dipeluk kembali.

Penulis : Yohanes MW | Editor: Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

PAN “Kehilangan” Eko Patrio dan Uya Kuya: Dari Panggung Hiburan ke Panggung Politik, Lalu ke Pintu Keluar DPR

31 Agustus 2025 - 07:21 WIB

Surya Paloh Nonaktifkan Sahroni dan Nafa Urbach, Ini Alasannya

31 Agustus 2025 - 07:03 WIB

“Kompol C, Brimob yang Namanya Muncul di Kasus Novel Baswedan dan Affan Kurniawan”

31 Agustus 2025 - 06:54 WIB

Fasum Kalideres Harusnya Jadi Taman, Malah Dikuasai Bangunan Liar

27 Agustus 2025 - 09:08 WIB

Geger Nampan MBG Disebut Pakai Minyak Babi, Pemerintah: Tenang, Bisa Diuji di BPOM

27 Agustus 2025 - 08:52 WIB

Trending di News