PRABA INSIGHT – BATAM – Kadang hidup memang aneh. Tapi yang terjadi di Batam ini bukan cuma aneh ini sudah masuk level “apa sih sebenarnya niatnya hidup kok begini banget?”. Seorang perempuan berinisial DPA, yang datang untuk kerja sebagai LC, justru pulang tinggal nama setelah tiga hari merasakan “pelatihan” ala agensi yang lebih mirip wahana uji nyali dibanding tempat kerja.
Ceritanya, korban direkrut lewat media sosial. Biasalah, iming-iming kerja mudah. Tapi begitu tiba, bukannya disodorin SOP kerja, ia malah diajak melakukan ritual pelaris oleh bos agensi, Wilson Lukman alias WL yang di sekitarnya lebih akrab dipanggil “Koko”. Dan seperti banyak ritual abal-abal lainnya, ini bukan bikin laris, tapi bikin rusak semuanya.
Versi polisi, ritual itu gagal. Koko ngamuk. Dari sinilah kekacauan 72 jam itu dimulai. Korban mengalami kekerasan berlapis-lapis yang bikin siapa pun baca berita ini ingin langsung mengetik: “Hapus aplikasi rekrutmen abal-abal sekarang juga!”
Supaya aksi gelap mereka nggak ketahuan, para pelaku kompak menanggalkan sembilan CCTV. Sembilan. Ini bukan pembersihan jejak, ini sudah kayak persiapan syuting film kriminal dengan sutradara yang nggak punya akal sehat. Tapi tetap saja berantakan, karena pada akhirnya polisi lebih jago.
Saat korban tak bergerak, kepanikan baru datang. Bukan panik ingin bertobat, tapi panik ingin menyelamatkan muka. Mulailah drama episode baru: manggil bidan, beli tabung oksigen, lalu bawa korban ke rumah sakit pakai identitas palsu. Semua dilakukan seperti ingin terlihat heroik, padahal ya… tidak ada yang heroik dari menyembunyikan kejahatan.
Empat orang akhirnya ditangkap, termasuk si Koko. Tiga lainnya ikut terlibat: ada yang membeli lakban, memborgol korban, ada pula yang berjasa melepas CCTV. Motif? Dari sakit hati gara-gara video rekayasa sampai obsesi ritual penglaris yang kayaknya cuma laris di imajinasi mereka.
Agensi tempat korban direkrut, MK Management, juga ikut jadi sorotan. Dugaan praktik eksploitasi dan TPPO muncul. Warganet langsung kompak ngegas: “Mana pelaris? Yang laris malah kriminalnya!”
Polisi masih menyelidiki apakah ada korban lain atau jaringan yang lebih panjang dari sekadar satu agensi. Yang jelas, kasus ini jadi peringatan keras: rekrutmen kerja abal-abal itu bisa berubah jadi tragedi kalau yang berkuasa adalah orang-orang yang pikir ritual lebih penting daripada akal sehat.
Penulis : Ristanto |Editor : Ivan











