Menu

Mode Gelap
BHR Ojol Naik 100%, Aplikator Rogoh Rp220 Miliar: Lebaran Tahun Ini Lebih “Nendang” buat Mitra? Di Balik Framing Negatif Polri, Sandri Rumanama Buka Suara Heboh! Ledakan di Kauman Ponorogo Terdengar hingga Kilometeran, Satu Rumah Rusak Parah Rudal Balistik Iran Hantam Kantor Perdana Menteri Israel, ini kata PM Netanyahu Blok M Mendadak Mistis: Luna Maya Perkenalkan Film “Santet Dosa di Atas Dosa” In Memoriam Try Sutrisno, Mantan Panglima ABRI dan Wapres RI ke-6

News

Lonjakan Deforestasi dan Banjir Aceh Tamiang: Data Menhut Ungkap Kerusakan yang Makin Mengancam

badge-check


					Deforestasi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melonjak tajam dalam lima tahun terakhir. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memaparkan data terbaru yang mengaitkan kerusakan hutan dengan banjir bandang Aceh Tamiang. Grafik deforestasi menunjukkan peningkatan eksponensial yang memperparah risiko bencana.(Doc. Ist) Perbesar

Deforestasi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melonjak tajam dalam lima tahun terakhir. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memaparkan data terbaru yang mengaitkan kerusakan hutan dengan banjir bandang Aceh Tamiang. Grafik deforestasi menunjukkan peningkatan eksponensial yang memperparah risiko bencana.(Doc. Ist)

PRABA INSIGHT – ACEH – Gambar drone dari Karang Baru, Aceh Tamiang, beberapa hari setelah banjir bandang, tampak seperti adegan film pascabencana: masjid dan pesantren yang biasanya ramai, kini tertimbun batang-batang pohon yang menggulung seperti mi instan raksasa. Bedanya, ini bukan CGI ini betulan.

Dalam rapat dengan Komisi IV DPR, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni datang membawa sesuatu yang lebih tajam dari suara politisi marah: data deforestasi lima tahun terakhir. Dan datanya tidak ramah. Bahkan cenderung membuat siapa pun ingin mematikan proyektor.

Deforestasi: Angka yang Bikin Alis DPR Lompat

Menurut Raja Juli, dalam lima tahun terakhir, penggundulan hutan di Indonesia justru tancap gas, terutama di tiga provinsi yang belakangan “dihajar” banjir bandang: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Beberapa poin pedas dalam paparan Menhut:

  • Januari–September 2025, deforestasi mencapai 166.450 hektare. Ini naik 28% dibanding angka tahun 2020 yang “baru” 119.092 hektare.
  • Meski begitu, angka 2025 ini sebenarnya turun 23% dibanding 2024 yang mencapai 216.216 hektare. Turun, sih… tapi masih seperti turunnya harga cabe yang tetap mahal.
  • Di Aceh, penggundulan hutan 2024–September 2025 mencapai 10.100 hektare, melompat jauh dari 2020 yang hanya 1.918 hektare. Itu artinya lonjakan 426%—kenaikan yang jika terjadi di gaji pegawai, semua orang pasti bahagia.
  • Raja Juli mencatat ada penurunan kecil deforestasi Aceh sebesar 10,04% dibanding 2024, tapi ya… penurunan dari puncak yang sangat tinggi tetap saja membuat hutan serasa “tipis”.

Grafik Eksponensial yang Lebih Seram dari Film Horor

Dalam presentasinya, Menhut membawa grafik yang memperlihatkan betapa curamnya kenaikan deforestasi di tiga provinsi itu. Kalau grafiknya diibaratkan roller coaster, sudah pasti ada tulisan “bahaya untuk penderita jantung”.

Raja Juli menegaskan kekhawatiran yang sejak lama beredar: semakin luas hutan hilang, semakin galak pula banjir bandang dan longsor yang menyusul.

Dan ketika melihat masjid dan pesantren di Aceh Tamiang tertutup batang pohon yang hanyut seperti sampah raksasa, kita seolah mendapat pengingat gratis: hutan yang hilang tidak pernah pergi sendirian ia membawa bencana ikut serta.


Penulis : Ristanto | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BHR Ojol Naik 100%, Aplikator Rogoh Rp220 Miliar: Lebaran Tahun Ini Lebih “Nendang” buat Mitra?

3 Maret 2026 - 14:12 WIB

Di Balik Framing Negatif Polri, Sandri Rumanama Buka Suara

3 Maret 2026 - 13:08 WIB

In Memoriam Try Sutrisno, Mantan Panglima ABRI dan Wapres RI ke-6

2 Maret 2026 - 13:36 WIB

Video Balap Liar di Lampu Merah Berujung Kecelakaan, Pengendara Tabrakan

1 Maret 2026 - 18:50 WIB

Ini Penjelasan Status AKBP Didik: PTDH, Non-Job di Yanma, tapi Gaji Pokok Masih Dibayar

1 Maret 2026 - 18:43 WIB

Trending di News