PRABA INSIGHT – ACEH – Gambar drone dari Karang Baru, Aceh Tamiang, beberapa hari setelah banjir bandang, tampak seperti adegan film pascabencana: masjid dan pesantren yang biasanya ramai, kini tertimbun batang-batang pohon yang menggulung seperti mi instan raksasa. Bedanya, ini bukan CGI ini betulan.
Dalam rapat dengan Komisi IV DPR, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni datang membawa sesuatu yang lebih tajam dari suara politisi marah: data deforestasi lima tahun terakhir. Dan datanya tidak ramah. Bahkan cenderung membuat siapa pun ingin mematikan proyektor.
Deforestasi: Angka yang Bikin Alis DPR Lompat
Menurut Raja Juli, dalam lima tahun terakhir, penggundulan hutan di Indonesia justru tancap gas, terutama di tiga provinsi yang belakangan “dihajar” banjir bandang: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Beberapa poin pedas dalam paparan Menhut:
- Januari–September 2025, deforestasi mencapai 166.450 hektare. Ini naik 28% dibanding angka tahun 2020 yang “baru” 119.092 hektare.
- Meski begitu, angka 2025 ini sebenarnya turun 23% dibanding 2024 yang mencapai 216.216 hektare. Turun, sih… tapi masih seperti turunnya harga cabe yang tetap mahal.
- Di Aceh, penggundulan hutan 2024–September 2025 mencapai 10.100 hektare, melompat jauh dari 2020 yang hanya 1.918 hektare. Itu artinya lonjakan 426%—kenaikan yang jika terjadi di gaji pegawai, semua orang pasti bahagia.
- Raja Juli mencatat ada penurunan kecil deforestasi Aceh sebesar 10,04% dibanding 2024, tapi ya… penurunan dari puncak yang sangat tinggi tetap saja membuat hutan serasa “tipis”.
Grafik Eksponensial yang Lebih Seram dari Film Horor
Dalam presentasinya, Menhut membawa grafik yang memperlihatkan betapa curamnya kenaikan deforestasi di tiga provinsi itu. Kalau grafiknya diibaratkan roller coaster, sudah pasti ada tulisan “bahaya untuk penderita jantung”.
Raja Juli menegaskan kekhawatiran yang sejak lama beredar: semakin luas hutan hilang, semakin galak pula banjir bandang dan longsor yang menyusul.
Dan ketika melihat masjid dan pesantren di Aceh Tamiang tertutup batang pohon yang hanyut seperti sampah raksasa, kita seolah mendapat pengingat gratis: hutan yang hilang tidak pernah pergi sendirian ia membawa bencana ikut serta.
Penulis : Ristanto | Editor : Ivan







