Menu

Mode Gelap
Aliansi Aktivis 98 Bahas Laporan Jampidsus dalam Diskusi Reformasi 98 Bantah Tuduhan Penipuan, Nancy Fidelia Fatima Tegaskan Korban Transaksi Aset Bermasalah Launching Media Kontra Narasi, Survei HAI Catat Kepercayaan Publik terhadap Polri 78,3 Persen Rizki Juniansyah Naik Pangkat Jadi Kapten dan Pindah dari TNI AL ke AD Sidang Brigadir Nurhadi, Jaksa Ungkap Petunjuk Motif dari Kesaksian MALAM JUMAT KLIWON: YANG BANGKIT DARI KUBUR TIDAK SELALU MAYIT

Regional

Di Tengah Banjir Aceh Tamiang, Ada Pelaku Kejahatan yang Lebih Tenggelam dari Moralitasnya

badge-check


					Kasus dugaan kekerasan seksual saat evakuasi banjir Aceh Tamiang memicu kemarahan warga. Polisi bertindak cepat mengamankan pelaku dan memulihkan kondisi korban. Perbesar

Kasus dugaan kekerasan seksual saat evakuasi banjir Aceh Tamiang memicu kemarahan warga. Polisi bertindak cepat mengamankan pelaku dan memulihkan kondisi korban.

PRABA INSIGHT – ACEH – Ketika warga Aceh Tamiang sedang sibuk menahan napas menghadapi banjir yang makin menjadi-jadi, muncul satu sosok yang justru lebih “banjir” kebiadaban daripada air yang menggenangi rumah-rumah: seorang sopir truk berinisial S.

Bukannya ikut membantu warga yang sedang kesusahan, pria ini malah memanfaatkan situasi genting untuk melampiaskan nafsu jahatnya kepada seorang mahasiswi yang justru sedang mencari pertolongan. Di saat orang lain berjuang menyelamatkan diri, S malah sibuk menenggelamkan akal sehatnya sendiri.

Kejadian memilukan ini bermula ketika sang korban berusaha mengevakuasi diri dari kawasan yang terendam. Karena kendaraan biasa tak bisa menembus banjir, ia menumpang truk yang dikendarai S sebuah keputusan yang semestinya membawa keselamatan, bukan malapetaka.

Namun, harapan itu dijungkirbalikkan. Di tengah perjalanan evakuasi, S diduga melakukan kekerasan seksual terhadap korban. Situasi darurat yang seharusnya jadi ruang solidaritas malah dijadikan pelaku sebagai panggung kejahatan. Ironi level maksimal.

Kabar ini menyebar lebih cepat daripada arus banjir. Warga yang sudah lelah berjibaku dengan bencana tentu saja marah besar karena musibah alam ternyata masih kalah ganas dibandingkan ulah manusia.

Amarah massa pun meledak. S sempat jadi bulan-bulanan warga yang geram dan merasa kehormatannya diinjak-injak atas nama kemanusiaan.

Untung polisi bergerak cepat. Pelaku berhasil diamankan sebelum massa benar-benar kehilangan sabar. Tidak heroik, tapi setidaknya hukum masih punya kesempatan bekerja.

Kini S mendekam di tahanan. Polisi memastikan proses hukum berjalan tegas dan mengimbau warga untuk menyerahkan sepenuhnya kepada aparat.

Di sisi lain, perhatian utama diarahkan pada pemulihan trauma korban yang harus menanggung dua beban sekaligus: selamat dari bencana alam, tetapi harus menghadapi luka psikologis akibat kejahatan seksual.

Banjir bisa surut. Tapi luka seperti ini, proses pulihnya jauh lebih panjang.


Penulis : Ristanto | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Usai Bantuan Pemprov Dihentikan, Operasional Masjid Agung Bandung Bergantung pada Donasi

13 Januari 2026 - 06:56 WIB

Polisi Tipu Polisi: Polwan Gadungan Tipu Kapolres Pontianak

8 Januari 2026 - 08:56 WIB

Kepala Sekolah Gasak Dana BOS, Mobil Mewah dan Bus Jadi Bukti di Ponorogo

8 Januari 2026 - 08:44 WIB

Kisah Nenek Berlindung di Tanah Sendiri, Dianiaya Penambang Ilegal di Pasaman Timu

8 Januari 2026 - 05:41 WIB

Kematian Alfarisi di Rutan Medaeng: Sorotan KontraS atas Dugaan Kelalaian Negara

2 Januari 2026 - 10:13 WIB

Trending di Regional