PRABA INSIGHT- JATIM – Minggu pagi di Dusun Watuketu, Desa Demung, Besuki, Situbondo, biasanya cuma diisi suara burung, wangi dapur, dan gosip kecil di beranda. Tapi 28 Desember 2025 itu, suasana yang biasanya adem mendadak berubah jadi kabar yang bikin satu kampung tercekat.
Di sebuah rumah sederhana, tiga orang dari satu keluarga ditemukan sudah tak bernyawa. Mereka adalah H (58), suami siri; S (38), sang istri; serta N (20), anak S yang sekaligus anak tiri H. Semuanya ditemukan dalam kondisi mengenaskan, dengan luka serupa di bagian leher. Polisi menyebut dugaan sementara mengarah pada tindak kekerasan berat.
Dan dari semua orang di dunia ini, sosok yang pertama kali mengetahui peristiwa itu adalah Abdur (60) ayah S yang datang cuma untuk… mengantar tempe.
Iya. Tempe.
Pagi itu Abdur datang tanpa firasat apa-apa. Pintu depan diketuk, tapi tak ada jawaban. Karena sunyi, ia masuk lewat pintu samping yang ternyata tidak dikunci. Tempe diletakkannya di meja dapur. Ia keluar lagi. Tak ada apa-apa yang terasa janggal.
Atau mungkin saat itu, hidup memang sedang terlalu pelan untuk memberi tanda.
Setengah jam kemudian, entah karena rasa penasaran atau semacam dorongan batin yang tak bisa dijelaskan, Abdur kembali masuk. Kali ini ia memperhatikan lebih teliti.
Di kamar mandi, ia menemukan H telah tergeletak bersimbah darah. Panik, ia mencari anak dan cucunya. Lampu dinyalakan. Lantai terlihat basah oleh cairan yang bukan air. Di balik pintu kamar, S dan N ditemukan dalam kondisi serupa.
“Saya angkat ibunya dulu, tapi sudah tidak bernapas. Anaknya juga sama,” ujar Abdur lirih.
Dan di situlah dunia runtuh bukan dengan suara keras melainkan dengan sunyi yang panjang.
Polisi datang, garis kuning dipasang, barang bukti diperiksa. Luka pada ketiga korban memiliki pola serupa. Dugaan mengarah pada pembunuhan berencana atau kekerasan berat. Pertanyaan pun bertumpuk seperti daun-daun kering di halaman.
Siapa yang sanggup melakukan itu? Kenapa pintu samping dibiarkan tidak terkunci? Dan mengapa tragedi selalu memilih datang ke rumah orang-orang sederhana?
Dusun Watuketu terdiam. Hanya tempe di atas meja yang kini terasa seperti benda simbolis: makanan sehari-hari yang tiba-tiba berubah jadi saksi bisu batas tipis antara rutinitas dan kehilangan.
Abdur pulang bukan dengan hati lega setelah mengantar pesanan, melainkan dengan trauma yang mungkin tak akan selesai disembuhkan oleh waktu.
Karena kadang, hidup memang kejam dengan cara yang tak pernah kita sangka: datang sebagai urusan dapur… lalu pulang sebagai duka.











