Menu

Mode Gelap
Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Status Febrie Adriansyah Resmi Jadi Tersangka, Ditahan Tanpa Borgol dan Rompi Pink: Privilege atau SOP? DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28 Pidato Prabowo Lagi-Lagi Bikin Ramai: Kali Ini Jurnalis, LSM, dan Pengamat Disebut “Londo Ireng” Video Alphard Terobos Lampu Merah Viral, Pramono Minta Satpam Tak Dipecat dan Polisi Bertindak Tegas Heboh Suzuki Thunder Dilarang Isi BBM, Pertamina Akhirnya Buka Suara

Health

Hati-hati Inilah 6 Makanan Berisiko saat Berbuka Puasa, Nomer 2 Bikin Garuk-garuk Kepala

badge-check

Buka puasa bukan ajang balas dendam. Ini 6 makanan yang sering bikin perut kaget dan gonk saat berbuka puasa, dari gorengan sampai minuman manis. Perbesar

Buka puasa bukan ajang balas dendam. Ini 6 makanan yang sering bikin perut kaget dan gonk saat berbuka puasa, dari gorengan sampai minuman manis.

PRABAINSIGHT – JAKARTA – Setelah seharian puasa, manusia cenderung berubah jadi makhluk lapar akut. Azan Magrib belum selesai, tangan sudah sibuk mengincar gorengan, minuman manis, dan segala sesuatu yang berminyak. Seolah-olah perut ini mesin penghancur segala jenis makanan. Padahal, faktanya tidak sesederhana itu.

Menurut Welltech, selama puasa tubuh menurunkan produksi enzim pencernaan. Artinya, sistem cerna kita sedang “low power mode”. Kalau tiba-tiba disuruh mengolah nugget, gorengan, dan es sirup sekaligus, jangan kaget kalau perut kemudian membalas dengan begah, mual, atau asam lambung yang naik tanpa permisi.

Supaya drama pencernaan tidak terjadi, ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya tidak dijadikan sambutan pertama saat berbuka.

Pertama, makanan instan dan ultra-proses.

Mi instan, sosis, nugget, atau camilan kemasan memang praktis dan terasa menyelamatkan hidup. Tapi menurut Welltech, makanan jenis ini tinggi kalori dan rendah nutrisi. Pencernaan yang baru bangun dari tidur panjang langsung disuruh kerja rodi. Hasilnya? Perut protes dalam diam.

Kedua, gorengan dan makanan super berlemak.

Gorengan itu memang ikon Ramadan. Tapi Advanced Food Intolerance Labs mencatat, makanan berlemak tinggi bisa memicu peradangan dan memperlambat kerja lambung. Akhirnya, baru rakaat ketiga tarawih, perut sudah melilit seperti lagi demo.

Ketiga, minuman manis berlebihan.

Es sirup memang terasa seperti anugerah setelah puasa. Masalahnya, gula berlebih bikin gula darah naik mendadak lalu jatuh bebas. Efeknya bukan cuma lemas, tapi juga bikin kita pengin nambah manis-manis lagi. Lingkaran setan, tapi versi takjil.

Keempat, kopi dan kafein.

Buat para pejuang kopi, Advanced Food Intolerance Labs menyarankan untuk menahan diri. Kafein di perut kosong bisa memicu asam lambung naik. Apalagi kalau kopinya dicampur krimer dan sirup. Perut yang tadinya baik-baik saja bisa langsung berubah sensitif.

Kelima, sayuran mentah yang terlalu ambisius.

Sayur itu sehat, tapi timing itu penting. Brokoli, kubis, dan kembang kol mentah, menurut Advanced Food Intolerance Labs, bisa bikin perut kembung kalau dimakan saat berbuka. Seratnya terlalu “galak” untuk sistem cerna yang masih setengah sadar.

Keenam, daging merah dalam porsi besar.

Welltech menjelaskan, daging merah butuh waktu cerna lebih lama. Kalau langsung disantap sebagai menu pembuka, energi tubuh habis buat mencerna, bukan buat beribadah. Wajar kalau akhirnya ngantuk dan rebahan jadi pilihan paling logis.

Lalu, kenapa sih buka puasa harus pakai mikir?

Everyday Health menyebut puasa memberi waktu bagi tubuh untuk menstabilkan gula darah dan metabolisme. Tapi semua manfaat itu bisa buyar kalau berbuka dilakukan secara brutal. Tubuh butuh transisi, bukan kejutan.

Mulailah dengan air putih, beri jeda sebentar, lalu isi perut dengan makanan ringan yang ramah. Bukan karena sok sehat, tapi karena perut juga punya batas kesabaran.

Intinya, buka puasa bukan lomba siapa paling cepat kenyang. Ini soal berdamai dengan tubuh setelah seharian bekerja dalam sunyi. Kalau perut diperlakukan dengan lembut, dia juga nggak akan drama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Menkes Budi Ungkap Ancaman Terbesar TNI-Polri Bukan Peluru, tetapi Stroke dan Penyakit Jantung

30 Juni 2026 - 19:57

HBTKVI Ungkap Ketimpangan Dokter BTKV dan Akses Layanan Jantung di Daerah 3T

17 Mei 2026 - 20:25

Tangan Kesemutan saat Naik Motor Bukan Sekadar Pegal, Bisa Jadi Alarm Saraf Kejepit

16 Mei 2026 - 20:13

Harga Miring, Risiko Ngeri: Ini Perbedaan Siomai Tenggiri dan Sapu-Sapu Menurut DKPKP

25 April 2026 - 21:22

Kurangi Gadget, Perbanyak Gerak: Betadine Gaungkan Semangat PP Tunas

1 April 2026 - 10:21

Trending di Health