Menu

Mode Gelap
Kocak! Warung Bakso di Klaten Tarik Biaya AC Rp3 Ribu per Orang, Warganet: Makan Bakso atau Sewa Ruangan? Rumah Mewah Anggota BPK Rp12 Miliar Terbakar, Jagakarsa Mendadak Sunyi oleh Asap dan Duka Kurir COD Diduga Dihajar Oknum TNI di Cakung, Berawal dari Paket Tak Diambil 20 Menit Tangan Kesemutan saat Naik Motor Bukan Sekadar Pegal, Bisa Jadi Alarm Saraf Kejepit Kasus Mesin Es Cacat Produksi di Bekasi: Dana Konsumen Belum Balik Penuh Cannes 2026 Makin Ketat: Gaun Transparan, Ekor Panjang, sampai Sneakers Kini Bisa Bikin Seleb Gagal Masuk Karpet Merah

Health

Kurangi Gadget, Perbanyak Gerak: Betadine Gaungkan Semangat PP Tunas

badge-check


					Betadine dukung PP Tunas untuk batasi screen time anak dan dorong aktivitas bermain aktif demi tumbuh kembang optimal di era digital.(Foto Istimewa) Perbesar

Betadine dukung PP Tunas untuk batasi screen time anak dan dorong aktivitas bermain aktif demi tumbuh kembang optimal di era digital.(Foto Istimewa)

PRABAINSIGHT- JAKARTA – Kalau zaman dulu orang tua khawatir anak pulang kotor karena main tanah, sekarang kekhawatirannya naik level: anak pulang… tapi dari dunia digital. Alias kebanyakan layar. Nah, di tengah keresahan itu, Betadine bareng iNova Pharmaceuticals ikut angkat suara, menyambut hadirnya PP Tunas kebijakan yang intinya mencoba “menyelamatkan” anak-anak dari paparan media sosial terlalu dini.

Masalahnya memang bukan main-main. Anak yang terlalu lama di depan layar bisa mengalami gangguan fokus, perkembangan sosial yang melambat, sampai risiko kesehatan mental. Jadi, pembatasan akses digital ini bukan sekadar larangan orang tua yang dituduh “kolot”, tapi sudah masuk ranah kebijakan.

Tapi menariknya, narasi yang dibangun di sini nggak berhenti di kata “membatasi”. Karena jujur saja, kalau cuma melarang tanpa alternatif, ujung-ujungnya anak tetap cari celah dan biasanya lebih kreatif dari orang tuanya.

Di sinilah pendekatan baru mulai muncul: bukan sekadar membatasi, tapi mendampingi.

Dalam acara Bocil Approved Competition Push Bike Race yang digelar 28 Maret 2026, Anastasya Ratu Chaerani dari iNova Pharmaceuticals Indonesia menegaskan bahwa anak memang “diciptakan” untuk aktif.

“Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan dorongan alami untuk mencoba hal baru. Di sini peran orang tua bukan sekadar membatasi, tetapi mendampingi, dengan memberikan ruang yang aman dan dukungan penuh agar anak dapat bereksplorasi, belajar, dan bertumbuh dengan percaya diri. Kami percaya pada lahirnya Generasi Bening, yakni generasi yang berani mencoba, aktif bereksplorasi, dan berani berkembang. Untuk itu, dibutuhkan keberanian orang tua untuk memberi ruang sekaligus perlindungan yang tepat.”

Kalimat “memberi ruang” ini penting. Karena sering kali, niat melindungi justru berubah jadi overprotektif. Anak dilarang ini-itu, akhirnya tumbuh dengan satu kemampuan utama: jago scrolling, tapi canggung di dunia nyata.

Padahal, aktivitas sederhana seperti main push bike saja punya efek panjang. Anak belajar koordinasi tubuh, keberanian mencoba, sampai ini yang penting belajar jatuh dan bangkit lagi. Sesuatu yang, anehnya, nggak bisa dipelajari dari layar 6 inci.

Menurut Kanya Ayu Paramastri, dokter anak yang juga dikenal sebagai MomDoc, pembatasan screen time memang langkah penting. Tapi ada satu pertanyaan lanjutan yang sering dilupakan: setelah layar dibatasi, anak mau ngapain?

“Pembatasan screen time melalui PP Tunas adalah langkah penting, karena paparan layar yang berlebihan pada anak dapat berdampak pada berbagai aspek tumbuh kembang, mulai dari keterlambatan perkembangan motorik, gangguan fokus, hingga menurunnya kualitas interaksi sosial. Namun, yang tidak kalah penting adalah apa yang menggantikan waktu tersebut. Anak membutuhkan aktivitas fisik dan eksplorasi nyata untuk merangsang perkembangan otak, membangun koordinasi tubuh, serta melatih regulasi emosi dan kepercayaan diri. Active play bukan hanya soal bermain, tetapi fondasi penting bagi tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Di sinilah peran orang tua menjadi krusial, bukan untuk membatasi, tetapi mendampingi dan memastikan anak dapat bereksplorasi dengan aman.”

Masalah berikutnya: kalau anak aktif, ya pasti ada risiko. Jatuh, lecet, nangis. Paket lengkap.

Dan di titik ini, banyak orang tua mulai goyah. Antara ingin anak bebas bermain, tapi juga takut luka sedikit saja.

Padahal, kata dr. Kanya, luka kecil itu bukan musuh. Justru bagian dari proses belajar.

“Dunia anak adalah bermain dan bereksplorasi. Jatuh dan terluka adalah satu paket yang pasti terjadi. Yang pertama perlu dilakukan bukan hanya merawat lukanya, tetapi orang tuanya harus tetap tenang terlebih dahulu, karena anak merespons reaksi orang di sekitarnya.”

Artinya, kadang yang perlu “diobati” dulu bukan lukanya, tapi paniknya orang tua.

Buat yang masih bingung harus ngapain saat anak jatuh, dr. Kanya kasih panduan sederhana: metode 4C Chill, Clean & Disinfect, Cover, Comfort. Simpel, tapi cukup buat bikin situasi nggak makin dramatis.

Soal perawatan luka, ia juga menyinggung penggunaan antiseptik yang ramah di kulit anak. “Antiseptik Bening dengan kandungan Octenidine memberikan perlindungan ganda terhadap bakteri dan jamur tanpa merusak jaringan sehat serta tidak perih, sementara Allantoin memiliki sifat anti-inflamasi untuk membantu melembapkan serta mendukung proses penyembuhan pada kulit anak yang cenderung lebih sensitif, sehingga menjadi antiseptik yang lembut dan Bocil Approved pada kulit anak,” jelasnya.

Di sinilah produk seperti Betadine Bening Antiseptik mencoba masuk: bukan sekadar menyembuhkan luka, tapi juga bikin anak nggak trauma tiap kali harus dirawat. Karena kita semua tahu, drama terbesar kadang bukan lukanya tapi momen “diobatin”.

Pada akhirnya, cerita ini bukan cuma soal antiseptik atau kebijakan pemerintah. Ini soal bagaimana orang tua menyeimbangkan dua hal yang sering dianggap bertolak belakang: melindungi dan melepas.

Karena kalau anak terus dijaga tanpa pernah diberi ruang, dia mungkin aman tapi tidak tumbuh.

Dan mungkin, yang paling perlu diingat:

anak tidak butuh dunia yang sepenuhnya aman.

Mereka butuh dunia yang cukup aman untuk berani mencoba.(Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tangan Kesemutan saat Naik Motor Bukan Sekadar Pegal, Bisa Jadi Alarm Saraf Kejepit

16 Mei 2026 - 20:13

Harga Miring, Risiko Ngeri: Ini Perbedaan Siomai Tenggiri dan Sapu-Sapu Menurut DKPKP

25 April 2026 - 21:22

Hati-hati Inilah 6 Makanan Berisiko saat Berbuka Puasa, Nomer 2 Bikin Garuk-garuk Kepala

19 Februari 2026 - 08:55

Luka Kecil Anak Tak Perlu Panik, Ini Cara Betadine Bening Antiseptik Bantu Perawatan Kulit Sensitif

18 Februari 2026 - 13:54

Anggota DPR Sukur H. Nababan Ajak Warga Bekasi Perkuat GERMAS dan Konsumsi Jamu yang Aman

27 November 2025 - 08:17

Trending di Health