KOLOM ANGKER – Sebelum kamu lanjut membaca…
Pastikan kamu tidak sendirian.
Dan kalau kamu sedang di tempat sepi… mungkin ini saat yang tepat untuk berhenti.
Karena ada satu hal yang harus kamu tahu
Tidak semua titik di peta itu benar-benar ada.
Dan tidak semua yang memesan… adalah manusia.
Di lereng dingin Pakem, Sleman, ada satu bangunan tua yang sudah lama ditinggalkan. Orang-orang menyebutnya Rumah Dokter Tua.
Dulu… itu bagian dari sanatorium. Tempat pasien TBC dikurung, diisolasi… menunggu sembuh atau mati.
Bangunan itu dulunya hidup.
Sekarang… hanya berdiri.
Kosong.
Atau setidaknya… terlihat kosong.
Aku dulu cuma dengar cerita itu sambil lalu.
Sampai malam itu.
Jam 21.30.
Orderan masuk.
Ayam krispi.
Alamat: Pakem.
Aku terima.
Tanpa mikir.
Awalnya biasa saja.
Lampu jalan masih ada. Warung masih buka.
Tapi semakin jauh aku jalan…
Semua mulai hilang.
Lampu… satu per satu padam.
Rumah… berubah jadi bayangan.
Udara… makin dingin. Terlalu dingin.
Dan anehnya
Tidak ada suara.
Bahkan jangkrik pun seperti… diam.
“Masih 300 meter,” kataku pelan sambil lihat map.
Lalu aku sampai.
Di depan sebuah gerbang tua.
Tertutup semak.
Gelap.
Seperti… tidak pernah dibuka bertahun-tahun.
Tapi titik di map… ada di dalam.
Perasaan itu langsung datang.
Perasaan yang bikin tengkukmu dingin.
Aku memutuskan balik.
Aku putar motor
BRUKKK!
Sesuatu jatuh.
Keras.
Tepat di samping kakiku.
Aku diam.
Tidak berani napas.
Perlahan… aku menunduk.
Dan di situlah aku melihatnya.
Bukan karung.
Bukan kain.
Itu… terikat.
Memanjang.
Dan… hitam.
Pocong.
Tapi bukan yang putih seperti di cerita orang.
Yang ini…
Hitam legam.
Seperti hangus terbakar.
Diam.
Tidak bergerak.
Tapi entah kenapa… aku merasa dia sedang melihatku.
Aku teriak.
Lari.
Tanpa sadar… aku malah masuk ke dalam gerbang.
Di dalam… lebih gelap.
Tanah lembab.
Bau busuk.
Bau obat… seperti rumah sakit tua.
Aku terus lari.
Sampai akhirnya aku berhenti di dekat sesuatu.
Besar.
Tinggi.
Seperti lemari.
Aku duduk di sampingnya.
Napas nggak karuan.
Tubuh gemetar.
Sunyi.
Sepi.
Terlalu sepi.
Lalu…
Takk…
Aku diam.
Takk… takk…
Sesuatu jatuh.
Mengenai helmku.
Pelan.
Seperti tetesan air.
Aku menahan napas.
Takk… takk… takk…
Semakin sering.
Lalu aku merasakan sesuatu…
Masuk dari leher jaketku.
Dingin.
Merayap.
Satu.
Dua.
Lalu banyak.
Aku panik.
Tanganku langsung ke tengkuk.
Dan saat aku menyentuhnya
Aku tahu.
Itu bukan air.
Itu bukan debu.
Itu…
bergerak.
Belatung.
Bau busuk langsung menyeruak.
Menusuk.
Aku berdiri dengan gemetar.
Pelan… sangat pelan…
Aku menengadah.
Ke atas benda yang tadi kusandari.
Dan
Dia sudah ada di sana.
Pocong hitam itu.
Duduk.
Diam.
Kakinya terikat… tapi tubuhnya seperti hidup.
Miring ke depan.
Seolah… siap jatuh ke arahku.
Wajahnya gelap.
Kosong.
Tapi aku tahu
Dia sedang menatapku.
Dari tubuhnya…
Belatung jatuh.
Bukan satu dua.
Tapi seperti… dikeluarkan.
Dari dalam.
Dari… mulutnya.
Aku tidak ingat bagaimana aku lari.
Aku cuma tahu aku berlari.
Menabrak.
Jatuh.
Bangkit.
Lari lagi.
Sampai keluar.
Motorku masih di sana.
Aku langsung naik.
Gas.
Tanpa menoleh.
Tidak sekali pun.
Sampai aku jauh.
Sangat jauh.
Aku berhenti.
Tangan masih gemetar.
Aku buka aplikasi.
Orderan itu…
Masih ada.
Alamatnya…
Masih sama.
Seolah-olah…
Tidak pernah terjadi apa-apa.
Sejak malam itu…
Aku tidak pernah kembali ke Pakem.
Tidak pernah ambil orderan ke arah sana.
Karena sekarang aku tahu
Yang mengirim order itu nyata.
Tapi yang menunggu… bukan manusia.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











