Menu

Mode Gelap
Swarm Lepas “Amayadori”, Lagu Tentang Berdamai dengan Hidup Setelah Dihantam Badai Kesalahan Polemik Konten LGBTIQ SUMA UI Memanas, Universitas Indonesia Tegaskan Itu Bukan Sikap Resmi Kampus Kenalan dari Dating App Berujung Apes, HP dan iPad Milik Wanita 19 Tahun Digondol Pria 37 Tahun Rumah Indofood di Jakarta Fair 2026 Bukan Sekadar Tempat Belanja, Ada Duel Masak Aldi Taher hingga Mabar E-sports Ketum DPP GMNI Muhamad Risyad: Mahasiswa Harus Kritis, Jangan Terjebak Provokasi Komisaris PT YAT Jadi Tersangka, Kejagung Ungkap Dugaan Markup Motor Listrik MBG Rp1 Triliun

Regional

Ahmad Luthfi Kampanye Hemat Energi Naik Sepeda Ratusan Juta, Publik: Ini Hemat atau Gaya?

badge-check


					Gubernur Jateng Ahmad Luthfi jadi sorotan usai gowes pakai sepeda listrik seharga ratusan juta. Benarkah kampanye hemat energi atau sekadar gaya?(Istimewa) Perbesar

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi jadi sorotan usai gowes pakai sepeda listrik seharga ratusan juta. Benarkah kampanye hemat energi atau sekadar gaya?(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – SEMARANG – Kalau biasanya kampanye hemat energi identik dengan matiin lampu atau cabut charger yang nggak dipakai, di Jawa Tengah ceritanya agak naik level. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memilih cara yang lebih “niat”: berangkat kerja naik sepeda listrik gunung. Masalahnya, ini bukan sepeda biasa yang kamu parkir di depan warung.

Ini sepeda yang harganya bisa bikin motor matic langsung minder.

Di media sosial, aksi gowes sang gubernur langsung jadi bahan obrolan. Bukan karena sepedanya dikayuh pelan atau cepat, tapi karena jenisnya: Specialized Turbo Levo sebuah e-MTB (electric mountain bike) yang desainnya futuristik, full suspension, dan tentu saja… mahal.

Di pasar Indonesia, sepeda ini disebut-sebut punya harga mulai dari Rp130 juta sampai Rp190 juta. Kalau kamu tipe yang nggak mau setengah-setengah, varian tertingginya bahkan bisa tembus di atas Rp250 juta. Iya, ini sepeda, bukan DP rumah.

Secara teknologi, memang nggak kaleng-kaleng. Motor listriknya sudah terintegrasi di rangka, baterainya disembunyikan rapi, dan yang paling penting: dia bisa bantu ngedorong tenaga saat dikayuh. Jadi kalau capek sedikit, tinggal biarkan teknologi bekerja. Cocok buat segala medan, dari jalur gunung sampai jalanan kota yang penuh drama.

Nah, di sinilah netizen mulai terbelah. Di satu sisi, kampanye hemat energi pakai sepeda tentu patut diapresiasi. Tapi di sisi lain, muncul pertanyaan sederhana: kalau alatnya sendiri pakai barang premium, ini masih kampanye hemat atau sudah masuk kategori flexing ramah lingkungan?

Menanggapi ramainya obrolan, Ahmad Luthfi buru-buru meluruskan. Katanya, sepeda itu bukan miliknya. Ia hanya meminjamnya saat kegiatan gowes bareng jajaran OPD pada Kamis pagi (9/4).

Jadi, ini bukan soal koleksi pribadi, tapi lebih ke properti dadakan buat acara.

Meski begitu, cerita ini tetap menyisakan satu pelajaran menarik: di era sekarang, bahkan niat baik seperti hemat energi pun bisa berubah jadi bahan debat publik tergantung alat yang dipakai.

Karena ya, jujur saja, kalau kamu kampanye hidup sederhana tapi alatnya setara harga mobil bekas, wajar kalau orang jadi mikir dua kali.(van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Sawah Produktif Disulap Jadi Tambak Udang dan Negara Harus Bayar Mahal

12 Juni 2026 - 22:51

Angka Pengangguran Jabar Tembus 6,74%, FKLPID Sebut Ada 26 Juta Angkatan Kerja

10 Juni 2026 - 21:03

Workshop Kreatif GMKB Bekasi: Cara Anak Muda Lepas dari Jeratan “Gagap Zaman”

7 Juni 2026 - 19:37

Video Diduga Rekam Kemesraan Dua Pria di Area Kampus PNJ Viral, Kampus Turun Tangan Lakukan Klarifikasi

5 Juni 2026 - 02:40

Demi Cuan Pasutri di Kediri Diduga Produksi dan Jual Puluhan Video Dewasa, Berakhir Ditangkap Polisi

2 Juni 2026 - 13:40

Trending di Crime