Menu

Mode Gelap
Dua Anak Menteri Jadi Tenaga Ahli, dan Publik Kembali Bertanya soal Meritokrasi KPK Angkut Porsche, Harley hingga Ducati dari Rumah Silmy Karim, Penggeledahan 5 Jam Berbuah Sitaan Kendaraan Mewah Eks Terpidana Kasus Pemerkosaan Kembali Aktif, Kompol RC Duduki Jabatan Baru di Polda Jambi Kejagung Soroti Motor Listrik Rp1,03 Triliun di Program MBG, Vendor Diduga Tak Punya Bengkel Aktif Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Klaim Siap Bongkar Nama-Nama Besar di Kasus SPPG Terbongkar! Dua Hal Ini yang Membuat Prabowo Mantap Menunjuk Nanik Pimpin BGN

Regional

Viral! Orang Tua Protes Menu MBG, Admin SPPG Justru Balas Nyinyir

badge-check


					Respons tidak pantas admin SPPG di Pringsewu viral usai keluhan menu MBG. Simak kronologi, klarifikasi, dan pelajaran pentingnya.(Istimewa) Perbesar

Respons tidak pantas admin SPPG di Pringsewu viral usai keluhan menu MBG. Simak kronologi, klarifikasi, dan pelajaran pentingnya.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – LAMPUNG –Program makan bergizi gratis (MBG) sejatinya lahir dari niat baik: anak-anak dapat asupan layak, orang tua sedikit lega, negara ikut senang. Tapi di Tambahrejo, Pringsewu, Lampung, niat baik itu mendadak berubah jadi bahan omelan publik. Penyebabnya? Bukan cuma ayam yang diduga belum bersih, tapi juga balasan admin yang lebih “pedas” dari sambal.

Ceritanya sederhana, nyaris klise. Seorang wali murid mengeluh soal menu MBG yang diterima anaknya. Ayam yang mestinya siap santap, katanya, masih menyisakan “jejak kehidupan sebelumnya” alias bulu. Keluhan itu disampaikan dengan harapan dapat respons yang menenangkan. Minimal, “terima kasih atas masukannya, kami evaluasi.” Minimal, lho.

Sayangnya, yang datang justru balasan bernada sindiran. Alih-alih jadi peneduh, admin malah seperti menambahkan minyak ke wajan yang sudah panas. Respons tersebut dianggap merendahkan dan jauh dari standar pelayanan publik yang seharusnya mengedepankan empati.

Tak butuh waktu lama, tangkapan layar percakapan itu beredar luas. Warganet—yang selalu punya radar tajam untuk hal-hal semacam ini—langsung bereaksi. Kritik berdatangan, mempertanyakan profesionalitas pengelola, apalagi ini menyangkut program pemerintah yang targetnya anak-anak. Singkatnya, ini bukan sekadar soal ayam, tapi soal sikap.

Setelah ramai dan mulai tak terkendali, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akhirnya turun tangan. Mereka mendatangi orang tua yang mengeluh, menyampaikan permintaan maaf secara langsung, dan memilih jalur damai. Masalah diselesaikan secara kekeluargaan cara paling Indonesia untuk meredam konflik yang keburu viral.

Tak berhenti di situ, pengelola juga mengakui adanya kekurangan dalam proses penyajian makanan. Sebuah pengakuan yang mungkin terlambat, tapi tetap penting. Mereka berjanji akan melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang. Semoga saja evaluasinya bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar sampai ke dapur secara harfiah dan metaforis.

Dari kasus ini, ada pelajaran sederhana tapi sering dilupakan: di era media sosial, satu balasan bisa lebih berisik dari satu kesalahan. Ayam yang belum bersih mungkin bisa dimaklumi, tapi respons yang tak berempati justru jadi masalah utama.

Karena pada akhirnya, publik tidak hanya menilai apa yang disajikan di piring, tapi juga bagaimana mereka diperlakukan saat bersuara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Video Diduga Rekam Kemesraan Dua Pria di Area Kampus PNJ Viral, Kampus Turun Tangan Lakukan Klarifikasi

5 Juni 2026 - 02:40

Demi Cuan Pasutri di Kediri Diduga Produksi dan Jual Puluhan Video Dewasa, Berakhir Ditangkap Polisi

2 Juni 2026 - 13:40

Rayakan Idul Adha, DKM Grand Center Point Bekasi Rajut Toleransi Antar Umat

29 Mei 2026 - 12:30

Duit Pusat Rp200 M Nyangkut, DPR RI Sentil Pembebasan Lahan di Bekasi Timur

28 Mei 2026 - 16:29

Viral Kepala Sekolah Meninggal di Hotel Trenggalek Bersama Guru Perempuan, Polisi Dalami Kronologi

26 Mei 2026 - 20:42

Trending di Regional