Menu

Mode Gelap
Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Status Febrie Adriansyah Resmi Jadi Tersangka, Ditahan Tanpa Borgol dan Rompi Pink: Privilege atau SOP? DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28 Pidato Prabowo Lagi-Lagi Bikin Ramai: Kali Ini Jurnalis, LSM, dan Pengamat Disebut “Londo Ireng” Video Alphard Terobos Lampu Merah Viral, Pramono Minta Satpam Tak Dipecat dan Polisi Bertindak Tegas Heboh Suzuki Thunder Dilarang Isi BBM, Pertamina Akhirnya Buka Suara

Regional

Viral! Orang Tua Protes Menu MBG, Admin SPPG Justru Balas Nyinyir

badge-check

Respons tidak pantas admin SPPG di Pringsewu viral usai keluhan menu MBG. Simak kronologi, klarifikasi, dan pelajaran pentingnya.(Istimewa) Perbesar

Respons tidak pantas admin SPPG di Pringsewu viral usai keluhan menu MBG. Simak kronologi, klarifikasi, dan pelajaran pentingnya.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – LAMPUNG –Program makan bergizi gratis (MBG) sejatinya lahir dari niat baik: anak-anak dapat asupan layak, orang tua sedikit lega, negara ikut senang. Tapi di Tambahrejo, Pringsewu, Lampung, niat baik itu mendadak berubah jadi bahan omelan publik. Penyebabnya? Bukan cuma ayam yang diduga belum bersih, tapi juga balasan admin yang lebih “pedas” dari sambal.

Ceritanya sederhana, nyaris klise. Seorang wali murid mengeluh soal menu MBG yang diterima anaknya. Ayam yang mestinya siap santap, katanya, masih menyisakan “jejak kehidupan sebelumnya” alias bulu. Keluhan itu disampaikan dengan harapan dapat respons yang menenangkan. Minimal, “terima kasih atas masukannya, kami evaluasi.” Minimal, lho.

Sayangnya, yang datang justru balasan bernada sindiran. Alih-alih jadi peneduh, admin malah seperti menambahkan minyak ke wajan yang sudah panas. Respons tersebut dianggap merendahkan dan jauh dari standar pelayanan publik yang seharusnya mengedepankan empati.

Tak butuh waktu lama, tangkapan layar percakapan itu beredar luas. Warganet—yang selalu punya radar tajam untuk hal-hal semacam ini—langsung bereaksi. Kritik berdatangan, mempertanyakan profesionalitas pengelola, apalagi ini menyangkut program pemerintah yang targetnya anak-anak. Singkatnya, ini bukan sekadar soal ayam, tapi soal sikap.

Setelah ramai dan mulai tak terkendali, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akhirnya turun tangan. Mereka mendatangi orang tua yang mengeluh, menyampaikan permintaan maaf secara langsung, dan memilih jalur damai. Masalah diselesaikan secara kekeluargaan cara paling Indonesia untuk meredam konflik yang keburu viral.

Tak berhenti di situ, pengelola juga mengakui adanya kekurangan dalam proses penyajian makanan. Sebuah pengakuan yang mungkin terlambat, tapi tetap penting. Mereka berjanji akan melakukan evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang. Semoga saja evaluasinya bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar sampai ke dapur secara harfiah dan metaforis.

Dari kasus ini, ada pelajaran sederhana tapi sering dilupakan: di era media sosial, satu balasan bisa lebih berisik dari satu kesalahan. Ayam yang belum bersih mungkin bisa dimaklumi, tapi respons yang tak berempati justru jadi masalah utama.

Karena pada akhirnya, publik tidak hanya menilai apa yang disajikan di piring, tapi juga bagaimana mereka diperlakukan saat bersuara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28

25 Juli 2026 - 00:52

Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

14 Juli 2026 - 19:23

Masalah Data Adminduk Bekasi Utara Dibahas, Rizki Topananda Dorong Pemutakhiran

11 Juli 2026 - 15:14

Benteng Keluarga dan Raperda LGBTQ Kota Bekasi ala Chairun Nisa

11 Juli 2026 - 12:09

Kabar Baik: Lulusan BLK Indramayu Siap Gaspol Garap Daihatsu Langsung di Jepang!

2 Juli 2026 - 19:16

Trending di News