Menu

Mode Gelap
Hebat! 100 Difabel di Karawang Siap Dobrak Tembok Kaku Dunia Industri Keren! Kolaborasi LSPR, Kombas dan Lansia Jatiasih Cetak Batik di SAPA Lansia Vol. 2 Dany Stefanus: Pemerintah Punya Waktu 3 Minggu, Jika Tak Ada Kepastian Perppu Ojol, Siap Turun Aksi Besar Ketika Qatar Jadi Sasaran Empuk Kanada: Kalah 0-6 dan Dipermalukan Sepanjang Laga Naik Lebih dari 1.000 Persen, Pertumbuhan Harta Zita Anjani Jadi Sorotan Publik MLFF Belum Meluncur Juga, Pemerintah Masih Mengutak-atik Formula Tol Tanpa Henti

News

Keren! Kolaborasi LSPR, Kombas dan Lansia Jatiasih Cetak Batik di SAPA Lansia Vol. 2

badge-check


					Para narasumber saat menunjukan batik karya SELASIH Perbesar

Para narasumber saat menunjukan batik karya SELASIH

PRABAINSIGHT.COM, BEKASI – Menjadi tua di Indonesia itu sering kali menyebalkan. Kalau nggak dianggap sebagai kelompok yang “sudah selesai” lalu disuruh diam di rumah, ya ujung-ujungnya cuma dijadikan dinas pengasuh cucu seumur hidup tanpa digaji.

Padahal, para lansia juga manusia yang butuh ruang publik inklusif agar sisa hidupnya bisa diisi dengan hal-hal produktif, seru, dan tentu saja, bikin bahagia.

Isu krusial soal hak bahagia di hari tua inilah yang mendasari sekumpulan mahasiswa Gen Z dari LSPR Institute menggelar program bertajuk “SAPA Lansia Vol. 2: Panggung Ceria, Cerita Karya Lansia” di Halaman Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Sabtu (20/6/2026).

Lewat kolaborasi apik dengan Sekolah Lansia SELASIH Jatiasih, anak-anak muda ini mencoba memutar balik takdir para simbah lewat jalur antimainstream: melestarikan budaya batik sekaligus meruntuhkan sekat antargenerasi.

Kepala Sekolah Lansia Jatiasih, Chan Widyatno, atau yang lebih akrab disapa Mami Chan, dengan tegas langsung menembak jantung masalah soal mindset kolot masyarakat terhadap orang tua. Di sekolah yang dipimpinnya, para lansia justru dicambuk untuk mandiri dan menolak pasrah pada keadaan.

“Harapan ke depan, lansia itu harus bisa memperhatikan diri sendiri. Kami mengajarkan bahwa anak cucu itu bukan lagi tanggung jawab penuh kami setelah pensiun. Kami boleh menjaga cucu, tapi tidak boleh sampai menghalangi hak kami untuk bersosialisasi atau pergi ke pengajian,” tegas Mami Chan bersemangat.

Mami Chan mengaku girang bukan main, melihat kedatangan mahasiswa LSPR yang sukses mengembalikan senyum lebar di wajah para peserta, lewat interaksi sosial yang memanusiakan mereka.

Sebagai mentor di lapangan, Ketua Komunitas Batik Bekasi, Barito Hakim Putra, melihat proses membatik bagi para lansia ini bukan sekadar urusan produksi tekstil komersial, melainkan sebuah ruang rekreasi dan terapi kebahagiaan.

“Definisi batik itu menorehkan malam panas ke atas kain hingga menjadi karya seni. Untuk para lansia di SELASIH, kami menggunakan pendekatan yang adaptif. Ada yang tangannya gemetar, jadi tekniknya kami sesuaikan bisa pakai kuas atau cap, tanpa keluar dari pakem lima unsur batik,” kata Barito menjabarkan prosesnya.

Barito bahkan dibuat takjub dengan daya tahan karya para lansia ini yang nilai jualnya tidak bisa dianggap remeh. Biar bakat ini nggak mandek di Jatiasih saja, Barito langsung berjanji untuk memboyong karya simbah-simbah SELASIH ini agar terlibat langsung dalam pameran bergengsi Indonesia Fashion Week (IFW) di Ancol, Juli mendatang.

Urusan mendatangkan kebahagiaan ini memang bukan agenda musiman. Dosen Community Development LSPR Institute, Rizka Septiana, M.Si., menekankan bahwa program ini adalah wujud nyata komitmen kampus terhadap isu keberlanjutan dalam Sustainable Development Goals (SDGs).

Jika volume pertama di Pondok Gede kemarin urusannya adalah tanaman obat, kali ini giliran potensi seni budaya lokal Jatiasih yang digarap lewat tangan-tangan kreatif Gen Z.

“Ini bukan sekadar proyek tugas akhir mahasiswa, melainkan program yang sudah berjalan secara sistemik. Hambatan terbesar mahasiswa dalam proses learning by doing ini sebenarnya adalah adaptasi etika dan komunikasi antargenerasi dengan rupa-rupa karakter narasumber,” ungkap Rizka jujur.

Menurut Rizka, program yang lolos seleksi ketat internal kampus ini, diproyeksikan memberikan dampak jangka panjang, yang nantinya bakal dikembangkan lagi ke dalam tugas akhir yang lebih luas.

Ketua Pelaksana SAPA Lansia Vol. 2, Hafidah Anindya Priyambodo, menambahkan bahwa acara ini memang didesain total sebagai panggung pembuktian kalau kreativitas itu nggak kenal tanggal kedaluwarsa.

“Melalui SAPA Lansia Vol. 2, kami ingin mendukung lansia untuk terus aktif, berdaya, dan mendapatkan apresiasi dari masyarakat,” pungkas Hafidah saat sesi konferensi pers.

Sebagai gong dari seluruh rangkaian acara, Halaman Kecamatan Jatiasih mendadak berubah menjadi runway megah lewat gelaran Fashion Show Batik SELASIH yang dipamerkan langsung oleh para lansia.

Tidak cuma pamer baju, mereka juga unjuk gigi lewat pertunjukan musik angklung, tari berbaris, hingga peluncuran Majalah SELASIH. Rangkaian panggung ceria ini akhirnya ditutup dengan senam bersama dan makan siang lintas generasi yang hangat sebuah bukti bahwa menjadi tua, ternyata bisa dirayakan dengan cara yang sangat keren.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Hebat! 100 Difabel di Karawang Siap Dobrak Tembok Kaku Dunia Industri

20 Juni 2026 - 16:43

Dany Stefanus: Pemerintah Punya Waktu 3 Minggu, Jika Tak Ada Kepastian Perppu Ojol, Siap Turun Aksi Besar

19 Juni 2026 - 22:35

Naik Lebih dari 1.000 Persen, Pertumbuhan Harta Zita Anjani Jadi Sorotan Publik

19 Juni 2026 - 21:06

MLFF Belum Meluncur Juga, Pemerintah Masih Mengutak-atik Formula Tol Tanpa Henti

19 Juni 2026 - 20:59

RUU Polri Dikritik Tertutup dan Tergesa, Sandri Rumanama: “Mengada-ngada Saja Itu”

19 Juni 2026 - 19:48

Trending di News