PRABAINSIGHT.COM – Selama ini, kalau kita bicara soal kawasan industri sebesar Kabupaten Karawang, yang terbayang pasti deretan pabrik raksasa dengan sistem rekrutmen yang kaku dan minim kompromi.
Mengincar kuota 1 persen untuk pekerja disabilitas sesuai amanat UU Nomor 8 Tahun 2016 saja rasanya seperti mengetuk pintu rumah kosong: sepi dan penuh alasan ketidaksiapan manajemen.
Beruntung, tembok tebal bernama skeptisisme korporat itu perlahan mulai digedor lewat Program “Bersiap” (Kesiapan Kerja di Dunia Industri). Sebanyak 100 kawan penyandang disabilitas kini tengah digembleng lewat program hasil keroyokan Kemnaker, Disnakertrans Jabar, Apindo, hingga Konekin agar bisa langsung siap kerja dan masuk ke ekosistem pabrik.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Benny Tunggul, bahkan membawa kabar yang lumayan bikin adem di tengah gerahnya persaingan cari kerja zaman sekarang. Karawang ternyata diam-diam mencatatkan diri sebagai daerah dengan penyerapan tenaga kerja inklusif tertinggi di Jawa Barat, dengan 343 difabel yang sudah tersebar di 25 perusahaan.
“Data ini salah satu yang tertinggi di Jabar. Dari laporan PPDI, angkatan kerja produktif disabilitas di Karawang hampir seluruhnya terserap alias zero unemployment,” kata Benny dengan nada optimis saat ditemui di Gedung BLK Kompetensi Jabar, Bekasi Timur, Sabtu (20/6/2026).
Tentu saja, angka seratus persen terserap itu jangan bikin kita cepat puas dan buru-buru tepuk tangan. Faktanya, urusan meyakinkan bos-bos pabrik agar mau membuka pintu bagi kawan difabel ini perjuangannya berdarah-darah sejak tahun 2023 lalu.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Karawang, Rosmalia Dewi, blak-blakan menceritakan bagaimana alotnya fase awal meyakinkan sektor industri di sana.
“Awalnya banyak yang merasa keberatan karena ketidaksiapan perusahaan dalam menempatkan penyandang disabilitas,” curhat Rosmalia di lokasi yang sama.
Namun, Rosmalia tidak mau menyerah pada keadaan. Mengetahui ada ribuan cerobong asap pabrik yang berdiri gagah di Karawang, dia memasang target yang sebenarnya sangat masuk akal, tapi sekaligus menampar ego para pengusaha.
“Dari sekitar 1.500 perusahaan di Karawang, kami berusaha agar setidaknya ada satu penyandang disabilitas yang bekerja di setiap industri,” tutur Rosmalia.
Iya, cuma minta satu per perusahaan, masak gak mampu? Biar perusahaan nggak punya alasan “nggak siap” lagi, pelatihan kali ini nggak main-main. CEO dan Founder Konekin, Marthella Sirait, membekali para peserta dengan BERSIAP Academy. Isinya mulai dari urusan K3 inklusif, simulasi kerja, sampai materi mentereng sekelas penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk industri.
“Program ini menghadirkan workshop interaktif dan sesi mentoring profesional yang fokus pada soft skills esensial,” jelas Marthella.
Menariknya, Marthella paham betul kalau yang harus pintar itu bukan cuma calon pekerjanya, tapi juga HRD dan manajemen perusahaannya.
“Pelatihan ini juga memberikan pemahaman urgensi disabilitas kepada perusahaan agar mereka semakin siap menjadi lingkungan kerja yang inklusif,” tambahnya.
Langkah jemput bola ini pun didukung penuh oleh kementerian terkait. Ketua Tim Bidang Disabilitas Kemnaker, Asrian Darma Saputra, menyebutkan bahwa penguatan ini dilakukan lewat transformasi Unit Layanan Disabilitas (ULD) serta kemitraan sosial yang masif.
Ujung-ujungnya, ini bukan cuma soal memenuhi angka statistik kuota 1 persen di atas kertas legalitas. Ini adalah pembuktian nyata bahwa di tengah kerasnya mesin-mesin industri Jawa Barat, ruang untuk kemandirian ekonomi yang ramah dan berkeadilan sosial bagi semua orang itu harus tetap ada—dan diperjuangkan.







