PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Ada negara yang langganan juara dunia. Ada pula negara yang hanya sesekali mampir ke panggung besar. Namun, Piala Dunia selalu punya kebiasaan buruk bagi mereka yang terlalu percaya sejarah akan selalu berpihak pada yang kuat.
Brasil kembali merasakan kutukan itu. Di babak 16 besar Piala Dunia 2026, Selecao tumbang 1-2 dari Norwegia di Stadion New York New Jersey. Kekalahan ini bukan hanya menutup perjalanan Brasil, tetapi juga memperpanjang catatan unik yang selama puluhan tahun menjadi cerita kecil dalam sejarah sepak bola dunia: Brasil belum pernah mengalahkan Norwegia di ajang Piala Dunia.
Jika selama ini Norwegia lebih sering dipandang sebagai pelengkap turnamen, maka kemenangan kali ini mengubah cara dunia melihat mereka. Negara Skandinavia itu kembali mengingatkan bahwa sejarah kadang tidak dibuat oleh tim yang paling bertabur bintang, melainkan oleh mereka yang tahu kapan harus menciptakan kejutan.
Di balik kemenangan bersejarah tersebut, dua nama berdiri paling depan. Orjan Nyland menjaga gawang seperti benteng yang sulit ditembus, sementara Erling Haaland memastikan setiap peluang berubah menjadi hukuman bagi Brasil.
Nyland tampil luar biasa sepanjang pertandingan. Kiper berusia 35 tahun itu menggagalkan empat peluang emas Brasil, termasuk menepis tendangan penalti Bruno Guimaraes yang menjadi titik balik pertandingan.
“Sangat sulit menggambarkan perasaan ini. Rasanya luar biasa. Ini adalah perasaan terbaik yang pernah ada,” ujar Nyland kepada FIFA.
Nyland mengatakan sejak awal Norwegia memahami mereka bukan tim yang dijagokan. Namun, keyakinan untuk mengalahkan Brasil menjadi modal utama yang terus dijaga hingga pertandingan usai.
“Kami memang ingin bertahan selama mungkin di sini. Kami tahu kami bukan favorit. Kami tahu pertandingan ini akan sulit, tetapi kami percaya bisa mengalahkan Brasil.”
Bagi Nyland, kemenangan itu terasa semakin istimewa karena kembali menghidupkan sejarah yang selama ini berpihak kepada Norwegia ketika bertemu Brasil di Piala Dunia.
“Sekarang, kami mengalahkan Brasil lagi. Kami tidak pernah kalah dari mereka di Piala Dunia, bukan? Ini luar biasa. Semua orang tahu seberapa hebat Brasil dan arti mereka bagi Piala Dunia.”
Ia menambahkan keberhasilan menggagalkan penalti bukan sekadar keberuntungan. Persiapan bersama pelatih mental, analis pertandingan, hingga pelatih kiper menjadi bekal penting sebelum laga dimulai. Meski demikian, momen paling berharga baginya justru ketika peluit panjang dibunyikan dan kemenangan resmi menjadi milik Norwegia.
Sementara itu, Haaland kembali memperlihatkan mengapa namanya kini identik dengan mesin gol. Dua gol yang ia cetak tidak hanya membawa Norwegia ke perempat final, tetapi juga mengantarkannya masuk dalam buku sejarah Piala Dunia.
Penyerang berusia 25 tahun itu menjadi pemain pertama sejak Gerd Muller pada Piala Dunia 1970 yang mampu mengoleksi tujuh gol hanya dalam empat pertandingan pertamanya di ajang tersebut.
“Begitulah biasanya terjadi. Jika saya mendapat satu atau dua peluang, biasanya akan menjadi gol. Saya tidak tahu bagaimana saya melakukannya, tetapi memang seperti itulah.”
Haaland mengaku dirinya hanya berusaha tetap tenang dan percaya peluang akan datang.
“Saya hanya tetap fokus. Saya berkata kepada diri sendiri bahwa peluang itu akan datang.”
Ia berharap pencapaian Norwegia menjadi warisan bagi generasi berikutnya, sehingga mengenakan seragam tim nasional menjadi impian terbesar anak-anak Norwegia.
“Saya berharap semua anak muda yang menonton wawancara ini, ketika kalian tumbuh dewasa, kalian akan melihat bermain untuk Norwegia sebagai hal yang paling membanggakan dalam hidup. Ini benar-benar luar biasa.”
Malam di New York New Jersey akhirnya menjadi lebih dari sekadar kemenangan 90 menit. Di stadion itu, Norwegia tidak hanya menyingkirkan Brasil. Mereka membuka kembali lembar sejarah lama, lalu menulis babak baru dengan tinta bernama Erling Haaland dan Orjan Nyland.











