PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Ada banyak hal yang bisa dibeli Qatar. Stadion megah? Bisa. Infrastruktur kelas dunia? Bisa. Maskapai penerbangan mewah? Bisa. Bahkan pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia pun bisa.
Namun satu hal yang tampaknya belum berhasil dibeli adalah pertahanan yang tidak mudah jebol.
Dalam laga Grup B yang berlangsung baru-baru ini, Qatar harus menelan kekalahan telak 0-6 dari Kanada. Skor yang bukan hanya menyakitkan bagi pendukung mereka, tetapi juga cukup membuat pencinta sepak bola Asia menghela napas panjang.
Masalahnya bukan sekadar kalah. Dalam sepak bola, kalah adalah bagian dari permainan. Yang menjadi sorotan adalah bagaimana Qatar nyaris tidak berkutik sepanjang pertandingan.
Statistik penguasaan bola menggambarkan cerita yang cukup jelas. Kanada mengendalikan pertandingan dengan penguasaan bola mencapai 79 persen, sementara Qatar hanya 21 persen.
Dengan angka seperti itu, pertandingan terasa lebih mirip sesi latihan menyerang Kanada daripada duel dua tim yang sedang berebut poin penting.
Awalnya Masih Terlihat Normal
Laga sempat berjalan biasa saja pada menit-menit awal.
Kanada bahkan lebih dulu mendapatkan kartu kuning pada menit ke-9 setelah melakukan pelanggaran terhadap pemain Qatar.
Namun setelah momen tersebut, arah pertandingan berubah drastis.
Menit ke-16, Cyle Larin membuka keunggulan Kanada dan mengubah skor menjadi 1-0.
Masih ada waktu untuk bangkit. Setidaknya itu yang mungkin dipikirkan para pendukung Qatar.
Sayangnya, Kanada tidak memberi kesempatan untuk bernapas terlalu lama.
Menit ke-29, Jonathan David ikut mencatatkan namanya di papan skor. Kedudukan berubah menjadi 2-0 dan tekanan terhadap Qatar semakin besar.
Penderitaan semakin lengkap ketika Homam Al Amin menerima kartu merah pada menit ke-33.
Bermain dengan 10 orang menghadapi tim yang sedang percaya diri jelas bukan situasi ideal.
Kanada memanfaatkan kondisi tersebut dengan sangat baik. Menjelang turun minum, tepatnya pada menit 45+3, Jonathan David kembali mencetak gol.
Babak pertama ditutup dengan skor 3-0 untuk Kanada.
Babak Kedua yang Terasa Sangat Panjang bagi Qatar
Jika ada harapan kebangkitan dari ruang ganti Qatar, Kanada tampaknya tidak tertarik memberi ruang untuk skenario tersebut.
Pada menit ke-64, Nathan Saliba memperbesar keunggulan menjadi 4-0.
Di titik ini, pertandingan praktis sudah selesai. Yang tersisa hanyalah pertanyaan berapa banyak gol lagi yang akan tercipta.
Jawaban itu datang beberapa menit kemudian.
Qatar justru menambah penderitaannya sendiri melalui gol bunuh diri Mohammad Al Mannai.
Skor berubah menjadi 5-0.
Bagi seorang pemain belakang, mencetak gol bunuh diri saat tim sedang tertinggal empat gol tentu bukan pengalaman yang ingin dikenang.
Namun Kanada belum selesai.
Pada menit 90+2, Jonathan David melengkapi penampilan impresifnya dengan gol ketiga atau hattrick.
Gol tersebut sekaligus menutup pertandingan dengan skor telak 6-0.
Jonathan David Jadi Mimpi Buruk Qatar
Jika Kanada membutuhkan pahlawan malam itu, jawabannya jelas Jonathan David.
Striker yang kini memperkuat Juventus tersebut tampil tajam sepanjang pertandingan dan menjadi ancaman konstan bagi lini pertahanan Qatar.
Tiga gol yang dicetaknya membuat lini belakang Qatar terlihat kewalahan hampir sepanjang laga.
Sementara itu, kiper Mahmoud Abunada harus enam kali memungut bola dari gawangnya sendiri dalam salah satu malam yang kemungkinan besar ingin segera ia lupakan.
Posisi Klasemen Semakin Sulit
Kemenangan besar ini membawa Kanada ke puncak klasemen Grup B.
Swiss berada di posisi berikutnya setelah meraih kemenangan 4-1 atas Bornia.
Sementara Qatar harus puas menghuni dasar klasemen.
Secara matematis peluang lolos memang masih terbuka. Namun secara performa, Qatar memiliki pekerjaan rumah yang jauh lebih besar daripada sekadar menghitung peluang.
Mereka harus menemukan cara agar pertahanan tidak lagi mudah ditembus, penguasaan bola tidak selalu kalah jauh, dan yang paling penting, mengembalikan kepercayaan diri tim setelah kekalahan yang begitu telak.
Sebab jika penampilan seperti ini kembali terulang, lawan berikutnya tidak akan datang dengan rasa takut.
Mereka akan datang dengan keyakinan bahwa mencetak gol ke gawang Qatar bukan lagi target, melainkan agenda.











