Menu

Mode Gelap
3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

News

Aplikator dipanggil Kemenaker Buntut BHR Seharga Cilok

badge-check

Foto ilustrasi (AI) Perbesar

Foto ilustrasi (AI)

PRABA INSIGHT- Di tengah jalanan kota yang penuh klakson dan deru knalpot, para driver ojol kembali dihantam kenyataan yang pahitnya kayak kopi sachet tanpa gula: Bonus Hari Raya (BHR) sebagian besar mereka tahun ini cuma Rp50 ribu.

Iya, beneran. Lima puluh ribu. Kalau mau boros dikit, bisa langsung habis buat beli cilok sama es teh manis.

Nah, karena kegaduhan ini mulai bikin telinga panas, Kemnaker (Kementerian Ketenagakerjaan) akhirnya turun tangan.

Bukan dengan demo dadakan, tapi lewat jalur elegan: memanggil para bos aplikator. Mulai dari Gojek, Grab, sampe yang logonya masih susah dibedakan dari aplikasi pinjol.

Bonus atau Basa-Basi?

Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer atau lebih akrab dipanggil Noel dengan gaya khas santainya bilang bahwa soal BHR ini nggak bisa cuma diseret ke status “mitra” atau “bukan karyawan tetap”.

Walaupun hubungan kerja driver sama aplikator sifatnya kayak teman tapi mesra (alias kemitraan), tapi bukan berarti bisa semena-mena soal hak.

“Jangan mentang-mentang statusnya freelance, jadi haknya ikut-ikutan fleksibel juga,” kata beliau. Dan kita semua tahu, fleksibel itu kadang cuma alasan buat nggak ngasih jaminan apa-apa, kayak hubungan sama mantan mu dulu..cieee..HTS.

Aplikator Dipanggil, Suasana Mulai Gerah

Panggilan Kemnaker ini bukan sekadar basa-basi. Ini bentuk serius bahwa negara (akhirnya) ikut nimbrung dalam drama ojol dan BHR-nya.

Tujuannya jelas: cari formula BHR yang manusiawi. Biar para driver yang tiap hari ngebut di jalanan, nyalip angin dengan kecepatan cahaya nggak cuma dapat bonus setipis saldo akhir bulan.

Kemnaker maunya ada perubahan. Bukan cuma angka BHR-nya yang naik, tapi juga cara pandang terhadap prinsip kerja-kerja digital.

Ojol itu bukan cuma “orang yang antar pesanan,” tapi tulang punggung ekonomi harian sebagian orang.

Akhir Cerita atau Babak Baru?

Pertanyaannya sekarang: akankah ini jadi awal dari perubahan sistemik, atau sekadar gimik manis yang nasibnya kayak notifikasi flash sale sebentar lalu hilang? Netizen udah ramai, driver udah curhat di mana-mana, dan publik menanti apakah negara benar-benar berpihak.

Harapan di Balik Helm dan Debu Jalan

Satu hal yang pasti, meskipun sering disuguhi janji dan wacana, para driver tetap berharap.

Bukan cuma soal BHR yang layak, tapi juga pengakuan bahwa kerja keras mereka pantas dihargai lebih dari sekadar promo aplikasi.

Karena masa depan kerja digital nggak cuma soal algoritma dan promo, tapi juga tentang manusia di balik setir motor yang tiap hari jadi pahlawan bagi perut orang lain.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK

10 Agustus 2026 - 14:40

Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

10 Agustus 2026 - 10:16

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Trending di News