Menu

Mode Gelap
Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya Hari Purwanto Soroti Dugaan Kriminalisasi Dirjen Bea Cukai, Singgung Dampaknya ke Citra Presiden Prabowo Polda Papua Selatan dan Papua Pegunungan Dinilai Mendesak, Sandri Rumanama: Rakyat Butuh Kepastian Keamanan Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa

News

Aplikator dipanggil Kemenaker Buntut BHR Seharga Cilok

badge-check


					Foto ilustrasi (AI) Perbesar

Foto ilustrasi (AI)

PRABA INSIGHT- Di tengah jalanan kota yang penuh klakson dan deru knalpot, para driver ojol kembali dihantam kenyataan yang pahitnya kayak kopi sachet tanpa gula: Bonus Hari Raya (BHR) sebagian besar mereka tahun ini cuma Rp50 ribu.

Iya, beneran. Lima puluh ribu. Kalau mau boros dikit, bisa langsung habis buat beli cilok sama es teh manis.

Nah, karena kegaduhan ini mulai bikin telinga panas, Kemnaker (Kementerian Ketenagakerjaan) akhirnya turun tangan.

Bukan dengan demo dadakan, tapi lewat jalur elegan: memanggil para bos aplikator. Mulai dari Gojek, Grab, sampe yang logonya masih susah dibedakan dari aplikasi pinjol.

Bonus atau Basa-Basi?

Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer atau lebih akrab dipanggil Noel dengan gaya khas santainya bilang bahwa soal BHR ini nggak bisa cuma diseret ke status “mitra” atau “bukan karyawan tetap”.

Walaupun hubungan kerja driver sama aplikator sifatnya kayak teman tapi mesra (alias kemitraan), tapi bukan berarti bisa semena-mena soal hak.

“Jangan mentang-mentang statusnya freelance, jadi haknya ikut-ikutan fleksibel juga,” kata beliau. Dan kita semua tahu, fleksibel itu kadang cuma alasan buat nggak ngasih jaminan apa-apa, kayak hubungan sama mantan mu dulu..cieee..HTS.

Aplikator Dipanggil, Suasana Mulai Gerah

Panggilan Kemnaker ini bukan sekadar basa-basi. Ini bentuk serius bahwa negara (akhirnya) ikut nimbrung dalam drama ojol dan BHR-nya.

Tujuannya jelas: cari formula BHR yang manusiawi. Biar para driver yang tiap hari ngebut di jalanan, nyalip angin dengan kecepatan cahaya nggak cuma dapat bonus setipis saldo akhir bulan.

Kemnaker maunya ada perubahan. Bukan cuma angka BHR-nya yang naik, tapi juga cara pandang terhadap prinsip kerja-kerja digital.

Ojol itu bukan cuma “orang yang antar pesanan,” tapi tulang punggung ekonomi harian sebagian orang.

Akhir Cerita atau Babak Baru?

Pertanyaannya sekarang: akankah ini jadi awal dari perubahan sistemik, atau sekadar gimik manis yang nasibnya kayak notifikasi flash sale sebentar lalu hilang? Netizen udah ramai, driver udah curhat di mana-mana, dan publik menanti apakah negara benar-benar berpihak.

Harapan di Balik Helm dan Debu Jalan

Satu hal yang pasti, meskipun sering disuguhi janji dan wacana, para driver tetap berharap.

Bukan cuma soal BHR yang layak, tapi juga pengakuan bahwa kerja keras mereka pantas dihargai lebih dari sekadar promo aplikasi.

Karena masa depan kerja digital nggak cuma soal algoritma dan promo, tapi juga tentang manusia di balik setir motor yang tiap hari jadi pahlawan bagi perut orang lain.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar

11 Mei 2026 - 19:46

Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot

11 Mei 2026 - 18:57

Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya

11 Mei 2026 - 17:15

Hari Purwanto Soroti Dugaan Kriminalisasi Dirjen Bea Cukai, Singgung Dampaknya ke Citra Presiden Prabowo

10 Mei 2026 - 00:53

Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa

9 Mei 2026 - 19:56

Trending di News