PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Minggu pagi biasanya waktunya membakar kalori. Tapi di Jakarta, 500 orang justru sekalian diajak “membakar” semangat untuk masa depan energi Indonesia.
Mereka mengikuti AESI Solar Run 2026 di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta, Minggu (9/8/2026).
Bukan sekadar lomba lari 5K dan 10K, kegiatan yang digelar Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dewan Energi Nasional (DEN), dan PT PLN (Persero) ini membawa satu agenda besar: mendorong masyarakat semakin dekat dengan energi surya.
Tema yang dipilih pun cukup ambisius: “Stepping into 100 GW”.
Sementara gerakannya diberi nama #Run4TheSun.
Kalau biasanya orang lari mengejar garis finis, AESI kali ini ingin masyarakat ikut memahami perjalanan panjang Indonesia menuju energi bersih.
Bukan Cuma Lari, Ada Pesan dari Balik Sepatu Running
Rute Solar Run 2026 dimulai dari kawasan Jalan M.H. Thamrin hingga Jalan Sudirman.
Sebanyak 500 peserta ikut ambil bagian dalam kategori 5K dan 10K.
Namun, AESI tidak ingin kegiatan tersebut berhenti sebagai agenda olahraga Minggu pagi.
Justru, olahraga dijadikan pintu masuk untuk membicarakan sesuatu yang bagi sebagian masyarakat mungkin terdengar berat: transisi energi.
Ketua Acara AESI Solar Run 2026 sekaligus Wakil Ketua Umum AESI Bidang Riset dan Teknologi, I Made Aditya Suryawidya, menjelaskan alasan pemilihan format fun run.
“Kami sengaja memilih format fun run karena lari adalah kegiatan yang bisa dilakukan siapa saja. Tidak semua orang tertarik membaca dokumen kebijakan energi, tetapi hampir semua orang bisa diajak berlari pada Minggu pagi. Dari situ, percakapan tentang energi surya menjadi jauh lebih mudah dimulai. Melalui olahraga bersama, kami ingin kehadiran energi surya semakin terasa dalam keseharian masyarakat.”
Masuk akal.
Sebab bicara soal energi memang kadang terasa seperti membaca buku manual setebal batu bata. Ada istilah teknis, regulasi, investasi, kapasitas pembangkit, sampai urusan jaringan listrik.
Tapi kalau dimulai sambil lari?
Setidaknya pembahasannya terasa lebih ringan.
Apalagi rutenya melewati kawasan CFD. Pesan soal energi surya pun tidak hanya diterima 500 peserta, tetapi juga masyarakat yang kebetulan sedang beraktivitas di sepanjang jalur.
Aditya mengatakan:
“Setiap peserta yang melintas membawa pesan yang sama, bahwa pemanfaatan energi surya bisa dimulai hari ini, dan bisa dimulai dari atap rumah masing-masing.”
Nah, ini menarik.
Atap rumah yang selama ini paling banter dipakai untuk menaruh antena, jemuran, atau jadi tempat kucing berteduh, punya potensi lain: menjadi bagian dari sumber energi bersih.
Pemerintah: Jangan Cuma Badan yang Sehat, Energinya Juga
Kementerian ESDM ikut memberikan dukungan dalam kegiatan tersebut.
Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan Kementerian ESDM Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, S.Sos., M.M., Ph.D., yang hadir mewakili Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Prof. Ahmad Erani Yustika, menilai kegiatan tersebut positif untuk mendorong ekosistem energi surya.
“Kami menyambut baik AESI Solar Run 2026. Run for the Sun merupakan suatu event yang sangat positif, karena pemerintah ingin mendorong ekosistem dari energi surya secara masif. Fokus kita bersama saat ini adalah bagaimana caranya agar Indonesia bisa mencapai target pengembangan energi surya nasional. Maka dari itu, pada kesempatan pada pagi hari ini, tidak hanya kita lari sehat, tapi juga memulai Indonesia sehat, dari pasokan energi surya. Selamat berlari bersama-sama, sehat, dan bersama-sama mewujudkan Indonesia dengan pasokan energi surya yang maksimal.”
Pesannya kurang lebih begini: jangan sampai cuma badan yang diajak sehat.
Pasokan energi juga harus dipikirkan.
Karena membangun kemandirian energi tidak cukup dengan slogan. Butuh ekosistem, teknologi, kebijakan, investasi, infrastruktur, dan tentu saja masyarakat yang mau ikut terlibat.
PLN Bilang Transisi Energi Itu Bukan Sprint
Kalau ada yang mengira transisi energi bisa selesai secepat lomba lari 100 meter, PLN punya analogi lain.
Direktur Manajemen Risiko PT PLN (Persero) Denny Triyanto menyebut perjalanan transisi energi seperti lari jarak jauh.
“Kami mengapresiasi Kementerian ESDM dan AESI, atas terselenggaranya event hari ini. Satu pesan saja, transisi energi itu seperti lari jarak jauh ibaratnya. Kita sama-sama tahu finish line-nya, yang penting adalah untuk sampai kesana kita perlu endurance, pace, dan yang lebih seru lagi, kita kerjakan bersama. Karena development energi bersih, termasuk solar development ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri, kita harus sama-sama dan berkolaborasi. Mari kita buktikan bahwa hari ini kita dengan penuh energi dan semangat untuk cleaner energy. Run for your health, run for clean energy, and run for Indonesia.”
Analogi ini cukup relevan.
Lari jarak jauh tidak bisa asal gas di awal lalu kehabisan tenaga sebelum finis.
Transisi energi pun demikian.
Dibutuhkan endurance, pace, dan yang paling penting kolaborasi.
Sebab mengembangkan energi bersih bukan pekerjaan satu lembaga saja.
Pemerintah punya kebijakan. PLN punya peran strategis dalam sistem kelistrikan. Industri membawa teknologi dan investasi. Masyarakat menjadi bagian dari pengguna energi.
Kalau semuanya jalan sendiri-sendiri, ya seperti ikut lomba lari tapi tidak tahu garis finisnya di mana.
Sekjen DEN Ikut Lari 10K
Kolaborasi itu bukan hanya ucapan di atas panggung.
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Dr. Ir. Dadan Kusdiana, M.Sc., bahkan ikut turun ke lintasan.
Dadan mengambil kategori 10K bersama peserta lainnya.
Menurut dia, pemerintah memang tidak bisa bekerja sendirian dalam mendorong energi surya.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian dalam mendorong pemanfaatan energi surya. Kehadiran asosiasi dan masyarakat, bersama pemerintah dalam satu kegiatan seperti ini menunjukkan semangat kolaborasi yang positif. Kami mengapresiasi inisiatif AESI yang mengemas edukasi transisi energi melalui cara yang dekat dengan keseharian masyarakat,” ujar Dadan.
Kalimat “pemerintah tidak bisa bekerja sendirian” menjadi salah satu poin penting dalam acara tersebut.
Sebab energi surya pada akhirnya bukan cuma persoalan pemerintah.
Kalau ingin pemanfaatannya meluas, masyarakat juga harus tahu, paham, dan punya akses terhadap teknologinya.
AESI Ingin Energi Surya Tidak Berhenti Jadi Wacana
Ketua Umum AESI Mada Ayu Habsari mengatakan antusiasme peserta Solar Run menjadi simbol dukungan terhadap agenda pengembangan energi surya nasional.
Ia menilai ekosistem energi surya saat ini sedang dibangun dan membutuhkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada runners yang hadir di acara Solar Run. Transisi energi surya adalah impian dan agenda nasional kita. Untuk itu, AESI hadir berkolaborasi dengan ESDM dan juga PLN agar dapat mewujudkan misi besar dari Presiden kita. Ekosistem energi surya saat ini sedang dibangun, dan kita perlu bekerjasama dengan para stakeholders, untuk mengakselerasi program yang saat ini sedang berjalan. AESI berharap untuk dapat membangun perkuatan ekosistem, sehingga kolaborasi lintas Kementerian, Kementerian, Koperasi desa, dan sandbox program yang saat ini tengah berjalan, dapat terlaksana dengan baik. Dukungan dari runners pada hari ini adalah simbol semangat mengejar mimpi kita, yaitu Indonesia yang lebih bersih.”
AESI berharap pengembangan Solar PV bisa semakin luas.
Bukan hanya untuk sektor rumah tangga, tetapi juga sektor komersial dan industri.
Artinya, pembicaraan mengenai energi surya diharapkan tidak berhenti pada acara kampanye.
Harus ada kelanjutan dalam bentuk pemanfaatan nyata.
Target 100 GW: Lari Hari Ini, Perjalanan Panjang Besok
Tema “Stepping into 100 GW” menjadi salah satu pesan utama AESI Solar Run 2026.
Target tersebut tentu bukan sesuatu yang bisa dicapai dengan satu kali kegiatan lari.
Tidak juga cukup dengan membuat tagar yang ramai sehari lalu hilang ditelan algoritma.
Dibutuhkan perjalanan panjang.
Karena itulah olahraga lari dipilih sebagai simbol.
Ada start. Ada proses. Ada rasa lelah. Ada kebutuhan menjaga ritme. Dan tentu saja ada garis finis yang harus dituju.
Begitu juga dengan transisi energi.
Indonesia membutuhkan langkah konsisten untuk meningkatkan pemanfaatan energi bersih, termasuk energi surya.
Dan menurut AESI, salah satu langkah awalnya adalah membuat masyarakat semakin familiar dengan Solar PV dan PLTS atap.








