Menu

Breaking News

Health

Debu Vulkanik Bisa Bikin Paru Mengeras, Ketua PDPI Ingatkan Warga: Jangan Tunggu Sesak Makin Parah

badge-check

Ketua PDPI Arif Riad Arifin mengingatkan bahaya debu vulkanik yang bisa memicu peradangan hingga membuat paru mengeras. Warga diminta waspada.(Utami/prabainsight.com) Perbesar

Ketua PDPI Arif Riad Arifin mengingatkan bahaya debu vulkanik yang bisa memicu peradangan hingga membuat paru mengeras. Warga diminta waspada.(Utami/prabainsight.com)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Debu vulkanik bukan sekadar kotoran yang menempel di rumah atau kendaraan. Partikel yang berasal dari erupsi gunung api tersebut dapat memicu peradangan pada paru dan dalam kondisi tertentu berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan serius.

Peringatan itu disampaikan Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr. Dr. Arif Riad Arifin, Sp.P(K), MARS, dalam konferensi pers HUT ke-53 PDPI yang digelar di Rumah PDPI, Cipinang, Jakarta Timur, Selasa (8/9/2026).

Mengangkat tema “Udara Bersih, Paru Sehat, Indonesia Kuat”, kegiatan tersebut menjadi momentum PDPI menyampaikan perhatian terhadap persoalan polusi udara, penyakit paru, hingga ancaman paparan partikel berbahaya dari debu vulkanik dan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Arif meminta masyarakat tidak menganggap sepele gejala gangguan pernapasan setelah berada di wilayah yang terpapar debu vulkanik.

“Batuk, pilak, sesek, napas agak berat, cukup lah ke vaskes. Tapi kalau seseknya memberat, hilang kesadaran, nah itu mesti dibawa langsung ke IGD,” kata Arif.

Menurutnya, kondisi menjadi lebih serius apabila batuk disertai dahak berwarna hitam atau darah.

“Nah kalau batuk, batuknya berdahak, kayak tadi udah diterangkan ya, batuknya dahaknya bisa sampai warna hitam, apalagi ada batuk darah, itu langsung ke IGD rumah sakit,” ujarnya.

Debu Vulkanik Tak Sama dengan Debu Biasa

Arif menjelaskan, gejala akibat paparan debu vulkanik tidak selalu memiliki ciri khusus. Karena itu, riwayat seseorang sebelum mengalami keluhan menjadi penting untuk diperhatikan.

“Sebenarnya nggak ada yang khas ya. Karena kejaraan respirasi pada umumnya sama. Tapi kita lihat dari riwayatnya, kalau dia abis aktivitas, dari tempat yang memang terpapar oleh debu vulkanik, misalnya daerah Lampung tadi ya, dia kemudian merasa sesak, batuk-batuk, kepala pusing, menurun kesadaran, bahkan batuknya mungkin sampai batuk dahak warna hitam atau darah, nah itu segera ke vaskes, jangan ditunda,” jelasnya.

Dia mengatakan debu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu pada umumnya.

“Jadi albu vulkanik itu kan bukan debu biasa, dia itu tadi partikel sendiri yang sifatnya itu korosif. Jadi korosif itu mudah menyebabkan peradangan pada paru sendiri, dan bisa menyebabkan penyakit yang kita sebut penyakit internisial, tadi udah disebutkan pedemositis namanya ya,” kata Arif.

Paparan tersebut, lanjut dia, dapat membuat paru kehilangan kelenturannya.

“Nah itu menyebabkan paru itu tidak menjadi fleksibel, menjadi mengeras. Nah ini yang berbahaya sebenarnya,” ujarnya.

Arif membandingkan kondisi tersebut dengan paparan debu biasa yang pada kondisi tertentu hanya menimbulkan peradangan sementara.

“Beda dengan debu biasa, debu biasa itu kalau kita batuk, cuma peradangan sementara, habis itu sembuh dengan sendiri bisa, tapi kalau debu vulkanik nggak bisa, dia akan cenderung menetap di dalamnya.”

“Nah itu menyebabkan peradangan yang sifatnya lebih lama terjadinya di dalam parunya,” lanjutnya.

Anak-anak dan Lansia Masuk Kelompok Rentan

PDPI juga menyoroti kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi ketika terpapar polusi maupun partikel berbahaya.

Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit penyerta seperti asma, PPOK, penyakit jantung dan diabetes disebut menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

“Kalau golongan rentan yang paling sering, golongan rentan tadi sudah disebut juga, pertama pasti anak-anak, yang kedua itu orang tua, dengan penyakit misalnya asma, PPOK, jakit jantung, gula. Nah ini yang rentan,” tutur Arif.

“Atau orang yang udah usia di atas 65 tahun atau di atas 60 tahun, ini golongan rentan,” sambungnya.

Jangan Asal Sapu Debu Vulkanik

Persoalan lain yang juga perlu diperhatikan adalah cara membersihkan debu vulkanik setelah kondisi mulai mereda.

Arif mengingatkan masyarakat tidak langsung menyapu debu karena tindakan tersebut justru dapat membuat partikel beterbangan dan berisiko terhirup.

“Yang pertama, jangan membersihkan debu hanya dengan moceng gitu ya. Jangan disapu. Tapi mesti dibiur pakai air,” katanya.

“Kenapa? Kalau misalnya sapu kan muap dan cenderung terhidup. Tapi kalau disiram air, otomatis kan terbawa dan tidak menyebar ke atas,” jelas Arif.

Selain membasahi debu, masyarakat juga diminta menggunakan masker yang memiliki kemampuan filtrasi lebih baik ketika melakukan pembersihan.

“Masker, respirator, yaitu N95, atau paling enggak pakai KN95. Itu yang paling,” ujarnya.

“Kalau yang lain akan tembus. Yang lain nggak tembus,” tegas Arif.

Asap Karhutla Bisa Berujung Gagal Napas

Selain debu vulkanik, PDPI turut mengingatkan ancaman kesehatan dari asap karhutla.

Menurut Arif, dampak asap kebakaran bergantung pada jenis material yang terbakar. Partikel dari bahan organik maupun anorganik dapat memberikan konsekuensi berbeda terhadap tubuh.

“Karutah tergantung. Karutah itu tergantung jenis partikel yang terbakar. Karena di kalutah itu kan ada yang partikel organik yang terbakar, dan anorganik yang terbakar.”

“Nah ini masing-masing akan berbeda dampaknya. Walaupun gejala secara respirasinya semua akan sama. Secara semuanya akan sama,” katanya.

Arif mengatakan tingkat keparahan dampak akutnya tetap dapat berbeda.

“Tetapi konsekuensi ketika akutnya akan berbeda,” sambungnya.

Dalam kondisi paling berat, paparan asap dan partikel hasil pembakaran dapat menyebabkan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS).

“Yang paling berat akan terjadi adalah namanya ARDS. ARDS itu parunya putih semua tiba-tiba, mengarami peradangan total sehingga terjadi gagal nafas,” ungkap Arif.

“Nah itu yang paling berat,” imbuhnya.

Udara Bersih Jadi Perhatian PDPI

Peringatan mengenai debu vulkanik dan asap karhutla tersebut disampaikan dalam rangkaian HUT ke-53 PDPI. Melalui tema “Udara Bersih, Paru Sehat, Indonesia Kuat”, PDPI menegaskan pentingnya menjaga kualitas udara sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan respirasi.

Bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan setelah terpapar debu vulkanik maupun asap kebakaran, Arif mengingatkan agar tidak menunggu kondisi memburuk sebelum mencari pertolongan medis.

Terlebih jika muncul sesak yang semakin berat, penurunan kesadaran, batuk berdahak hitam maupun batuk darah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung

10 Agu 2026 - 10:42 WIB

Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung

Operasi Plastik Makin Diminati, Dokter Ingatkan Jangan Asal Ikut Tren, Konsultasi Jadi Kuncinya

5 Agu 2026 - 10:38 WIB

Operasi Plastik Makin Diminati, Dokter Ingatkan Jangan Asal Ikut Tren, Konsultasi Jadi Kuncinya

Menkes Budi Ungkap Ancaman Terbesar TNI-Polri Bukan Peluru, tetapi Stroke dan Penyakit Jantung

30 Jun 2026 - 19:57 WIB

Menkes Budi Ungkap Ancaman Terbesar TNI-Polri Bukan Peluru, tetapi Stroke dan Penyakit Jantung

HBTKVI Ungkap Ketimpangan Dokter BTKV dan Akses Layanan Jantung di Daerah 3T

17 Mei 2026 - 20:25 WIB

HBTKVI Ungkap Ketimpangan Dokter BTKV dan Akses Layanan Jantung di Daerah 3T

Tangan Kesemutan saat Naik Motor Bukan Sekadar Pegal, Bisa Jadi Alarm Saraf Kejepit

16 Mei 2026 - 20:13 WIB

Tangan Kesemutan saat Naik Motor Bukan Sekadar Pegal, Bisa Jadi Alarm Saraf Kejepit
Trending di Health