Menu ✖

Breaking News

News

Abdullah Komisi III DPR RI Minta KPK Tak Takut Bongkar Dugaan Korupsi Proyek Kereta Cepat Whoosh

badge-check

Abdullah Komisi III DPR RI minta KPK usut dugaan korupsi proyek Kereta Cepat Whoosh. Jokowi sebut proyek ini investasi sosial, bukan soal laba.(Foto: DPR-RI) Perbesar

Abdullah Komisi III DPR RI minta KPK usut dugaan korupsi proyek Kereta Cepat Whoosh. Jokowi sebut proyek ini investasi sosial, bukan soal laba.(Foto: DPR-RI)

PRABA INSIGHT – Kalau Anda pikir proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung cuma soal siapa yang paling cepat sampai Bandung, ternyata ada “perlombaan lain” yang kini lebih seru: siapa yang bakal tercepat dibongkar KPK.

Komisi III DPR RI akhirnya buka suara soal dugaan korupsi dalam proyek kebanggaan nasional ini. Abdullah, anggota Komisi III dari Fraksi PKB, meminta KPK untuk tidak sekadar jadi penonton di rel kereta cepat. Katanya, lembaga antirasuah itu harus gaspol transparan, profesional, dan tanpa pandang bulu.

“KPK tidak boleh takut dalam menangani kasus ini. Dugaan mark up anggaran dalam proyek kereta cepat harus diusut secara tuntas dan transparan,” ujar Abdullah di Jakarta, Selasa (28/10/2025).

Abdullah juga menegaskan, siapa pun yang ketahuan ikut “menumpang keuntungan” dalam proyek ini baik dari pemerintah, BUMN, maupun swasta harus ditarik ke jalur hukum, bukan ke stasiun berikutnya.

“KPK tidak boleh pandang bulu. Jika dalam penyelidikan ditemukan tindak pidana korupsi, para pelakunya harus diseret ke jalur hukum tanpa pengecualian,” katanya.

Menurutnya, proyek kereta cepat Whoosh seharusnya jadi kebanggaan nasional, bukan “beban nasional” karena pembengkakan biaya. “Kalau sampai duit rakyat lari ke arah yang salah, ya ini bukan soal kecepatan lagi, tapi kejujuran,” kira-kira begitu pesan yang tersirat.

Kereta Cepat, Biaya Cepat Membengkak

Sebagai pengingat, proyek Whoosh ini ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional sejak 2016. Nilai investasinya? Sekitar 7,27 miliar dolar AS, alias Rp118,37 triliun dengan kurs Rp16.283 per dolar. Itu pun sudah termasuk pembengkakan biaya alias cost overrun sekitar 1,2 miliar dolar. Jadi kalau Anda merasa harga tiket ke Bandung mahal, bayangkan saja berapa mahalnya membangun relnya.

Sebagian besar biayanya dibiayai lewat pinjaman dari China Development Bank (CDB) sebanyak 75 persen. Sisanya disetor oleh para pemegang saham. Proyek ini dikerjakan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) kerja sama antara konsorsium Indonesia dan Tiongkok.

Dari pihak Indonesia, ada PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang pegang 60 persen saham. PSBI ini terdiri atas KAI, Wijaya Karya (WIKA), Jasa Marga, dan PTPN VIII, dengan KAI jadi “masinis utama” alias pemegang saham mayoritas 58,5 persen.

Jokowi: Jangan Cuma Hitung Untung, Hitung Manfaat Sosial Juga

Sementara itu, Presiden ke-7 RI Joko Widodo tampak tetap optimistis. Menurutnya, proyek transportasi massal seperti kereta cepat tidak bisa dinilai dari untung-rugi finansial semata.

“Transportasi massal, transportasi umum itu tidak diukur dari laba, tetapi diukur dari keuntungan sosial. Contoh seperti kereta cepat, menumbuhkan titik-titik pertumbuhan ekonomi, menumbuhkan UMKM, warung-warung yang berjualan di titik-titik pertumbuhan ekonomi baru itu,” tutur Jokowi.

Presiden juga menyebut, kemacetan di Jakarta dan sekitarnya sudah bikin rugi besar. Berdasarkan hitungan pemerintah, kerugian akibat macet di Jakarta mencapai Rp65 triliun per tahun. Kalau ditambah Jabodetabek dan Bandung, bisa tembus Rp100 triliun. Jadi, subsidi transportasi publik menurut Jokowi bukan pemborosan, tapi “investasi sosial” yang harus dijalankan.

“Subsidi itu bukan kerugian, tapi investasi sosial,” tegasnya.

Kini, Whoosh sudah mengangkut lebih dari 12 juta penumpang dengan rata-rata 19.000 pengguna per hari. Jokowi yakin, kalau penumpangnya terus naik, “kerugian” akan ikut melambat berbeda dengan kecepatannya yang tetap whoosh.

“Kalau setiap tahun naik terus, orang berpindah, maka kerugiannya akan semakin mengecil,” ujarnya menutup. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Profil Kombes Pol Suhasto, Alumni Akpol 1998 yang Kini Jabat Dirtipideksus Bareskrim Polri

14 Okt 2026 - 21:43 WIB

Profil Kombes Pol Suhasto, Alumni Akpol 1998 yang Kini Jabat Dirtipideksus Bareskrim Polri

Bantu Posyandu Hingga Lapangan Badminton, Wildan Sentuh Warga Bantargebang

13 Okt 2026 - 16:14 WIB

Bantu Posyandu Hingga Lapangan Badminton, Wildan Sentuh Warga Bantargebang

PBJS Jabodetabek 2026 Usulkan Friedrich Silaban Pahlawan Nasional

12 Okt 2026 - 19:25 WIB

PBJS Jabodetabek 2026 Usulkan Friedrich Silaban Pahlawan Nasional

‘Tuan Takur Utara’ Alias Alex Jiblo Satukan Ulama dan Kader PAN Sambut Pemilu 2029

12 Okt 2026 - 19:09 WIB

‘Tuan Takur Utara’ Alias Alex Jiblo Satukan Ulama dan Kader PAN Sambut Pemilu 2029

Kaskogartap II/Bandung Ikuti Pangandaran Run Piala Panglima TNI 2026 

11 Okt 2026 - 18:58 WIB

Kaskogartap II/Bandung Ikuti Pangandaran Run Piala Panglima TNI 2026 
Trending di News