Menu

Mode Gelap
Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

News

Anggota DPR Sebut OTT KPK Itu “Kampungan”, Usul Koruptor Cukup Ditelepon Dulu

badge-check

Anggota Komisi III DPR RI, Hasbiallah Ilyas, sebut OTT KPK “kampungan” dan usulkan agar pejabat cukup ditelepon untuk mencegah korupsi. Simak kontroversinya di sini. (Foto: Istimewa) Perbesar

Anggota Komisi III DPR RI, Hasbiallah Ilyas, sebut OTT KPK “kampungan” dan usulkan agar pejabat cukup ditelepon untuk mencegah korupsi. Simak kontroversinya di sini. (Foto: Istimewa)

PRABA INSIGHT – JAKARA – Kalau biasanya berita soal operasi tangkap tangan (OTT) bikin publik semangat karena ada pejabat yang kejebak, kali ini justru lain cerita. Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKB, Hasbiallah Ilyas, malah bikin heboh gara-gara komentar pedasnya soal OTT yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dalam sesi fit and proper test calon Dewan Pengawas (Dewas) KPK di Gedung DPR, Jakarta, Hasbiallah menyebut OTT itu… kampungan. Katanya, operasi tangkap tangan justru merugikan keuangan negara.

Menurut dia, KPK kalau mau OTT tuh ribet banget. Persiapannya bisa makan waktu sampai setahun, dan tentu saja ongkos operasionalnya tidak sedikit. Uang rakyat, katanya, malah ikut habis untuk membiayai “drama” OTT.

Hasbiallah punya usulan yang (jujur saja) agak bikin dahi pembaca berkerut. Menurutnya, daripada repot OTT, lebih baik KPK fokus ke pencegahan. Caranya? Cukup telepon pejabat yang mau korupsi, kasih peringatan, dan selesai.

Logikanya, kalau pejabat sudah ditelepon, mereka bisa langsung sadar diri sebelum negara benar-benar rugi. “Ngapain ditangkap, cukup diingatkan saja,” kira-kira begitu maksudnya.

Pernyataan ini jelas menuai sorotan publik. Ada yang ngakak, ada yang geleng-geleng kepala. Sebab, kalau korupsi cukup diingatkan lewat telepon, jangan-jangan nanti kita bisa bikin “call center anti-korupsi”: tekan 1 untuk peringatan, tekan 2 untuk negosiasi, tekan 3 untuk minta maaf.

Penulis  : Ristanto | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

15 Juli 2026 - 11:17

Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

14 Juli 2026 - 19:23

Kuasa Hukum Nancy Soroti Kesaksian Dwi Febri di Sidang Sengketa Aset PN Jaksel, Siap Tempuh Jalur Hukum jika Terbukti Palsu

14 Juli 2026 - 16:48

Dugaan Mega Korupsi di Kejaksaan Jadi Ujian Penegakan Hukum, BEM PTMA Zona III Apresiasi Sikap Prabowo

12 Juli 2026 - 09:17

Masalah Data Adminduk Bekasi Utara Dibahas, Rizki Topananda Dorong Pemutakhiran

11 Juli 2026 - 15:14

Trending di News