Menu

Mode Gelap
Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya Hari Purwanto Soroti Dugaan Kriminalisasi Dirjen Bea Cukai, Singgung Dampaknya ke Citra Presiden Prabowo Polda Papua Selatan dan Papua Pegunungan Dinilai Mendesak, Sandri Rumanama: Rakyat Butuh Kepastian Keamanan Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa

News

ANM Nilai Aksi SNI Tak Wakili Nelayan Indonesia Timur

badge-check


					Aliansi Nelayan Melanesia menilai aksi Solidaritas Nelayan Indonesia tidak mewakili nelayan Indonesia Timur dan meminta KKP tidak terpengaruh demo yang dinilai Jawa-sentris.(Foto:Istimewa) Perbesar

Aliansi Nelayan Melanesia menilai aksi Solidaritas Nelayan Indonesia tidak mewakili nelayan Indonesia Timur dan meminta KKP tidak terpengaruh demo yang dinilai Jawa-sentris.(Foto:Istimewa)

PRABA INSIGHT – JAKARTA – Kalau semua demo yang bawa embel-embel “nasional” benar-benar mewakili Indonesia, mungkin nelayan di Timur nggak perlu sering angkat alis. Sayangnya, itulah yang dirasakan Aliansi Nelayan Melanesia (ANM) saat melihat aksi Solidaritas Nelayan Indonesia (SNI) belakangan ini.

Bagi ANM, demo tersebut terdengar lantang, tapi sayangnya tidak cukup luas. Yang disuarakan dinilai hanya kepentingan segelintir nelayan itu pun yang basisnya lebih banyak di Pulau Jawa.

Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat ANM, Syahrul Rumau, tak menutup kekecewaannya. Menurut dia, SNI terlalu mudah mengklaim diri sebagai wakil nelayan Indonesia, padahal kenyataannya aspirasi dari kawasan timur seperti NTT, Papua, dan Maluku nyaris tak terdengar.

“Solidaritas nelayan dari mana mereka? Terlalu Jawa-sentris dan tidak mewakili aspirasi nelayan dari NTT, Papua, dan Maluku,” kata Syahrul.

Masalahnya bukan cuma soal siapa yang turun ke jalan, tapi juga soal apa yang diperjuangkan. Syahrul menilai tuntutan SNI cenderung berputar di isu yang itu-itu saja, tanpa mau repot melihat kompleksitas persoalan nelayan di luar Jawa.

“Mereka ini hanya memperjuangkan nasib nelayan di kawasan Pulau Jawa dan Muara Baru. Harga acuan ikan minta paling rendah tapi nggak mau mendaratkan ikannya di wilayah timur, padahal nangkapnya di sana,” ujarnya.

Di sinilah letak ironi yang disorot ANM. Ikan ditangkap di perairan timur, tapi nilai tambahnya justru dibawa ke barat. Nelayan timur dapat lautnya, tapi tidak selalu dapat manfaat ekonominya.

Karena itu, Syahrul mengingatkan agar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tidak mudah terpengaruh oleh aksi yang, menurutnya, hanya mewakili kepentingan kelompok tertentu.

“Saya tegaskan bahwa pemerintah khususnya KKP agar tidak terpengaruh oleh aksi sekelompok orang yang hanya memikirkan nasib mereka sendiri tanpa melihat regulasi dan realitas yang ada,” kata Syahrul.

Bagi ANM, solidaritas nelayan seharusnya bukan sekadar jargon spanduk. Kalau benar ingin nasional, suara dari timur juga harus ikut dihitung bukan cuma dijadikan lokasi tangkap, lalu dilupakan setelah ikan mendarat di Jawa. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar

11 Mei 2026 - 19:46

Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot

11 Mei 2026 - 18:57

Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya

11 Mei 2026 - 17:15

Hari Purwanto Soroti Dugaan Kriminalisasi Dirjen Bea Cukai, Singgung Dampaknya ke Citra Presiden Prabowo

10 Mei 2026 - 00:53

Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa

9 Mei 2026 - 19:56

Trending di News