Menu

Mode Gelap
Ceramah di Kolong Tol, Ustadz Endang: Harta dari Judol dan Pinjol Bisa Jadi Petaka iPhone Rp2 Juta Berujung Parang: Drama Emosi Pembeli di Toko HP Medan yang Viral Ketua Golkar Malra Nus Kei Tewas Ditusuk di Bandara, Salah Satu Pelaku Diduga Atlet MMA Menggugat Sistem Global, Haidar Alwi Dorong Emas Rakyat Jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi RI Sekawan Limo 2 Tayang Mei 2026: Dari Reuni Santai Berujung Teror Pesugihan PHI Group Borong 2 Penghargaan di Grand Honors 2026, Ekspansi 27 Hotel dan Bidik Pasar ASEAN

News

ANM Nilai Aksi SNI Tak Wakili Nelayan Indonesia Timur

badge-check


					Aliansi Nelayan Melanesia menilai aksi Solidaritas Nelayan Indonesia tidak mewakili nelayan Indonesia Timur dan meminta KKP tidak terpengaruh demo yang dinilai Jawa-sentris.(Foto:Istimewa) Perbesar

Aliansi Nelayan Melanesia menilai aksi Solidaritas Nelayan Indonesia tidak mewakili nelayan Indonesia Timur dan meminta KKP tidak terpengaruh demo yang dinilai Jawa-sentris.(Foto:Istimewa)

PRABA INSIGHT – JAKARTA – Kalau semua demo yang bawa embel-embel “nasional” benar-benar mewakili Indonesia, mungkin nelayan di Timur nggak perlu sering angkat alis. Sayangnya, itulah yang dirasakan Aliansi Nelayan Melanesia (ANM) saat melihat aksi Solidaritas Nelayan Indonesia (SNI) belakangan ini.

Bagi ANM, demo tersebut terdengar lantang, tapi sayangnya tidak cukup luas. Yang disuarakan dinilai hanya kepentingan segelintir nelayan itu pun yang basisnya lebih banyak di Pulau Jawa.

Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat ANM, Syahrul Rumau, tak menutup kekecewaannya. Menurut dia, SNI terlalu mudah mengklaim diri sebagai wakil nelayan Indonesia, padahal kenyataannya aspirasi dari kawasan timur seperti NTT, Papua, dan Maluku nyaris tak terdengar.

“Solidaritas nelayan dari mana mereka? Terlalu Jawa-sentris dan tidak mewakili aspirasi nelayan dari NTT, Papua, dan Maluku,” kata Syahrul.

Masalahnya bukan cuma soal siapa yang turun ke jalan, tapi juga soal apa yang diperjuangkan. Syahrul menilai tuntutan SNI cenderung berputar di isu yang itu-itu saja, tanpa mau repot melihat kompleksitas persoalan nelayan di luar Jawa.

“Mereka ini hanya memperjuangkan nasib nelayan di kawasan Pulau Jawa dan Muara Baru. Harga acuan ikan minta paling rendah tapi nggak mau mendaratkan ikannya di wilayah timur, padahal nangkapnya di sana,” ujarnya.

Di sinilah letak ironi yang disorot ANM. Ikan ditangkap di perairan timur, tapi nilai tambahnya justru dibawa ke barat. Nelayan timur dapat lautnya, tapi tidak selalu dapat manfaat ekonominya.

Karena itu, Syahrul mengingatkan agar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tidak mudah terpengaruh oleh aksi yang, menurutnya, hanya mewakili kepentingan kelompok tertentu.

“Saya tegaskan bahwa pemerintah khususnya KKP agar tidak terpengaruh oleh aksi sekelompok orang yang hanya memikirkan nasib mereka sendiri tanpa melihat regulasi dan realitas yang ada,” kata Syahrul.

Bagi ANM, solidaritas nelayan seharusnya bukan sekadar jargon spanduk. Kalau benar ingin nasional, suara dari timur juga harus ikut dihitung bukan cuma dijadikan lokasi tangkap, lalu dilupakan setelah ikan mendarat di Jawa. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ceramah di Kolong Tol, Ustadz Endang: Harta dari Judol dan Pinjol Bisa Jadi Petaka

21 April 2026 - 19:43

Dari Rp200 Ribu ke Rp311 Juta: Drama Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang Bikin Dompet Mau Pensiun Dini

20 April 2026 - 14:56

Mahasiswa UNPAM Desak Pengusutan Tuntas Kasus Penyerangan Andrie Yunus hingga Aktor Intelektual

18 April 2026 - 15:07

Seleknas KKI 2026 Digelar, OSO: Menang Kalah Biasa, Kejujuran yang Utama

18 April 2026 - 14:02

Masuknya MBG ke Pos Pendidikan Dipertanyakan MK: Kebijakan atau Akal-akalan Anggaran?

18 April 2026 - 08:48

Trending di News