Menu

Mode Gelap
Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya Hari Purwanto Soroti Dugaan Kriminalisasi Dirjen Bea Cukai, Singgung Dampaknya ke Citra Presiden Prabowo Polda Papua Selatan dan Papua Pegunungan Dinilai Mendesak, Sandri Rumanama: Rakyat Butuh Kepastian Keamanan Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa

Kolom Angker

Cerita Seram Pembawa Keranda di Tikungan Setan, Kaligesing Godean

badge-check


					Foto ilustrasi (Ist) Perbesar

Foto ilustrasi (Ist)

PRABA INSIGHT – Malam menimpa bumi seperti kain kafan. Angin dingin menggulung dari sela-sela pohon jati yang berdiri tegak di sepanjang Jalan Godean menuju Kaligesing, Kulon Progo.

Di balik kabut pekat yang menggantung, tersimpan cerita yang tak semua orang berani ceritakan, kecuali mereka yang pernah… tersesat ke sisi lain dunia.

Bayu Laksono, 32 tahun, tak pernah menyangka perjalanan pulang dari pemotretan alam bisa menjadi awal dari akhir kewarasannya.


Lintasan Malam

Hari itu, ia memotret kabut pagi di Bukit Menoreh. Seharian penuh ia menjelajah, menangkap matahari tergelincir ke balik pegunungan.

Ia baru memutuskan pulang saat langit sudah gelap. Temannya sudah memperingatkan,

“Jangan lewat Kaligesing malam-malam, Bayu. Jalan itu… bukan sekadar jalan.”

Tapi Bayu tak percaya takhayul. Ia justru menikmati sepi.

Motor trail-nya melaju pelan di jalan berliku dan menanjak. Di tengah perjalanan, udara mendadak menjadi dingin mencengkeram.

GPS-nya berputar-putar tak tentu arah. Musik dari helm bluetooth terputus. Lalu… mesin mati.

Motor berhenti tepat di sebuah tikungan tajam, dikelilingi pohon tinggi dan semak belukar yang gelap.

Bayu mencoba menyalakan ulang. Gagal.

Lalu datanglah… suara itu.

Seperti lantunan doa. Tahlil. Tapi jauh… mendayu. Mengerikan.

Bayu mengernyit. Dari balik kabut muncul cahaya obor.

Langkah kaki terdengar. Irama gending kuno mengalun lirih. Suara tangisan perempuan. Derap yang tak bersumber.

Bayu menatap tak percaya: rombongan pembawa keranda melintas di hadapannya.

Mereka berpakaian putih, mata kosong, langkah seragam tanpa suara. Keranda mereka… tak menyentuh tanah.


Dunia yang Tertukar

Bayu terpaku. Nafas tercekat. Namun ketika ia mencoba berlari, tubuhnya kaku. Saat ia berkedip, suasana sudah berubah.

Asap putih menyelimuti pandangannya. Jalan aspal menghilang. Ia kini berada di jalan tanah merah, di tengah hutan lebat yang tak dikenalnya.

Langit bukan lagi malam, tapi kelam. Seperti mendung abadi. Tak ada suara burung. Tak ada angin.

Ia melihat dirinya sendiri di kejauhan. Dirinya… yang terbaring dalam keranda itu.

“Selamat datang,” suara berat muncul di belakangnya. Sosok tinggi berjubah hitam berdiri, mata merah menyala. “Jiwamu telah kami panggil.”

“Tidak! Aku belum mati!” Bayu berteriak, tapi suaranya tak keluar.

Sosok itu tersenyum.

“Tapi kau sudah menyentuh batas. Dan tak semua yang menyentuh… bisa kembali.”


Ritual di Pohon Berdarah

Bayu dibawa ke sebuah lapangan batu di tengah hutan. Pohon beringin raksasa berdiri di tengah, dari batangnya menetes darah hitam.

Rombongan pembawa keranda membentuk lingkaran. Dari dalam keranda, tubuh Bayu dibaringkan.

“Tubuhnya kami simpan, jiwanya kami ambil,” kata salah satu makhluk bersuara dua lapis.

Bayu berusaha lari, tapi tanah seperti menjadi lumpur. Akar-akar pohon hidup, menjulur mengejarnya. Tangannya terikat udara.

Mulutnya dibungkam oleh rasa takut yang menusuk tulang.

“Lepaskan aku!” jeritnya dalam hati.

Tiba-tiba, dari kejauhan… terdengar suara adzan. Bening. Menembus pekat.

Pohon beringin mengguncang. Darah dari batangnya berubah menjadi air suci. Rombongan berteriak melolong. Langit memekik. Tanah berguncang.

Bayu tertarik ke atas oleh cahaya. Tubuhnya dilemparkan keluar dari kegelapan.


Terbangun di Dunia

Ia tersadar di halaman musala tua yang berada di tepi jalan Kaligesing. Langit mulai terang. Warga sudah berkumpul di sekelilingnya. Ia menggigil. Menangis.

Mbah Dulrohman, penjaga musala, memeluknya.

“Kowe wis mlebu alam sanepo, Le,” bisiknya. “Jalan ini… adalah batas dua dunia. Tidak semua bisa pulang.”

Bayu hanya diam. Ia tahu, sebagian dari dirinya… tertinggal di sana.


Catatan Terakhir

Sejak malam itu, Bayu tidak pernah lagi memotret. Ia tidak pernah menyentuh kamera.

Ia hanya duduk termenung, menatap jalanan dari jendela rumah.

Dan setiap malam Jumat Kliwon, pukul satu dini hari, keranda itu lewat lagi. Tidak semua orang bisa melihatnya. Tapi Bayu bisa.

Karena ia tahu… mereka masih mencarinya.


Jika kau melewati tikungan Godean–Kaligesing di malam hari…
dan mendengar langkah-langkah tanpa suara…
jangan berhenti.
Jangan menoleh.
Jangan ikut.

Karena sekali kau ikut,
tak ada jalan pulang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Keangkeran Telaga Sunyi: Makhluk Peniru Wajah Mengintai di Dasar Telaga Gunung Slamet

8 Mei 2026 - 02:23

“Teror Sungai Musi 1987: Yang Tenggelam Tidak Pernah Pergi”

29 April 2026 - 01:01

Rumah Dokter Tua di Pakem Orderan yang Tidak Pernah Selesai

16 April 2026 - 21:27

KKN Berujung Teror: Cermin Terkutuk yang Membuat Penghuninya Gila dan Mati Gantung Diri

9 April 2026 - 14:30

Pocong Menangis di Kota Mati Lampung

7 April 2026 - 15:04

Trending di Kolom Angker