Menu

Mode Gelap
Aliansi Aktivis 98 Bahas Laporan Jampidsus dalam Diskusi Reformasi 98 Bantah Tuduhan Penipuan, Nancy Fidelia Fatima Tegaskan Korban Transaksi Aset Bermasalah Launching Media Kontra Narasi, Survei HAI Catat Kepercayaan Publik terhadap Polri 78,3 Persen Rizki Juniansyah Naik Pangkat Jadi Kapten dan Pindah dari TNI AL ke AD Sidang Brigadir Nurhadi, Jaksa Ungkap Petunjuk Motif dari Kesaksian MALAM JUMAT KLIWON: YANG BANGKIT DARI KUBUR TIDAK SELALU MAYIT

Regional

Dari Drone hingga Parang: Kronologi Bentrokan WNA China dan Prajurit TNI di Ketapang

badge-check


					Bentrokan terjadi di area tambang PT Sultan Rafli Mandiri, Ketapang, Kalimantan Barat. Sejumlah WNA asal China diduga menyerang prajurit TNI dengan senjata tajam dan alat kejut listrik. Imigrasi dan aparat gabungan turun tangan.(Istimewa) Perbesar

Bentrokan terjadi di area tambang PT Sultan Rafli Mandiri, Ketapang, Kalimantan Barat. Sejumlah WNA asal China diduga menyerang prajurit TNI dengan senjata tajam dan alat kejut listrik. Imigrasi dan aparat gabungan turun tangan.(Istimewa)

PRABA INSIGHT – KALBAR –  Kalau ada yang bilang konflik di area tambang biasanya cuma ribut internal perusahaan, kasus di Ketapang ini jelas bukan kaleng-kaleng. Minggu (14/12) lalu, suasana di area tambang PT Sultan Rafli Mandiri (PT SRM), Kalimantan Barat, mendadak berubah dari adem jadi tegang. Bukan karena harga nikel, tapi karena prajurit TNI diserang ramai-ramai.

Konfirmasi resmi akhirnya keluar dari Kodam XII/Tanjungpura. Dan isinya cukup bikin dahi berkerut.

Kapendam XII/Tanjungpura, Kolonel Inf Yusub Dody Sandra, menjelaskan semuanya bermula saat prajurit Batalyon Zipur 6/SD sedang latihan rutin. Situasi normal, sampai laporan datang dari satpam: ada drone tak dikenal mondar-mandir di area latihan militer.

Empat prajurit kemudian mengecek lokasi. Di sanalah mereka menemukan empat Warga Negara Asing (WNA) asal China yang sedang asyik mengendalikan drone. Awalnya tampak seperti klarifikasi biasa. Tapi cerita berubah cepat.

Saat prajurit hendak meminta keterangan secara baik-baik, tiba-tiba sebelas WNA lain muncul. Totalnya 15 orang. Dan mereka tidak datang untuk berdialog.

Alih-alih klarifikasi, para WNA tersebut justru menyerang prajurit TNI secara agresif. Bukan dengan tangan kosong, tapi lengkap dengan “perlengkapan tempur”: senjata tajam jenis parang, airsoft gun, hingga alat kejut listrik atau stun gun.

Melihat situasi yang tidak seimbang dan berpotensi berujung pertumpahan darah, prajurit TNI memilih langkah taktis: mundur ke area perusahaan untuk meredam eskalasi konflik.

Namun, kerusakan sudah terlanjur terjadi. Satu unit mobil Hilux rusak berat, sementara sepeda motor Vario hancur akibat amuk massa.

Belakangan terungkap, keberadaan para WNA tersebut berkaitan dengan konflik internal PT SRM. Perusahaan tambang itu diketahui telah berganti kepemilikan. Masalahnya, manajemen baru yang sah tidak pernah memberikan izin kepada para Tenaga Kerja Asing (TKA) tersebut untuk beroperasi.

Dengan kata lain, kehadiran mereka di lokasi tambang patut diduga tanpa restu pemilik sah atau kalau mau jujur, ilegal.

Penyerangan terhadap prajurit TNI ini jelas bukan perkara sepele. Di Jakarta, kabar tersebut langsung memantik reaksi keras pemerintah pusat.

Pelaksana Tugas Dirjen Imigrasi, Yuldi Yusman, mengirim tim khusus dari pusat pada Selasa (16/12/2025). Operasi gabungan pun digelar, melibatkan Imigrasi, TNI (Kodim dan Mabes), serta Polri (Polres dan Polsek).

Hasilnya, sebanyak 26 WNA China berhasil diamankan dan kini ditahan di Kantor Imigrasi Ketapang. Padahal, total target dalam operasi ini mencapai 34 orang. Artinya, perburuan belum selesai.

Kasus ini sudah jauh melampaui sengketa tenaga kerja. Menyerang aparat militer Indonesia di wilayah kedaulatan Indonesia, apalagi dengan senjata tajam, jelas masuk ranah pidana berat.

Kini, para WNA yang bertindak bak “Rambo” dadakan itu tinggal menunggu arah nasib: jeruji besi terlebih dulu, lalu kemungkinan deportasi. Negara sedang tidak sedang bercanda.


Penulis : Ristanto | Editor: Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Usai Bantuan Pemprov Dihentikan, Operasional Masjid Agung Bandung Bergantung pada Donasi

13 Januari 2026 - 06:56 WIB

Polisi Tipu Polisi: Polwan Gadungan Tipu Kapolres Pontianak

8 Januari 2026 - 08:56 WIB

Kepala Sekolah Gasak Dana BOS, Mobil Mewah dan Bus Jadi Bukti di Ponorogo

8 Januari 2026 - 08:44 WIB

Kisah Nenek Berlindung di Tanah Sendiri, Dianiaya Penambang Ilegal di Pasaman Timu

8 Januari 2026 - 05:41 WIB

Kematian Alfarisi di Rutan Medaeng: Sorotan KontraS atas Dugaan Kelalaian Negara

2 Januari 2026 - 10:13 WIB

Trending di Regional