PRABA INSIGHT – JAWA TIMUR – Gunung Semeru si raksasa yang berdiri paling tinggi di Pulau Jawa memutuskan buat showtime pada Rabu sore, 19 November 2025. Tepat pukul 16.18 WIB, kamera pemantau BPBD menangkap erupsi besar yang membuat suasana tenang berubah jadi seperti adegan pembuka film survival.
Awan panas guguran (APG) meluncur jauh dari kawah, dan warga di kaki gunung sontak dilanda kepanikan. Aparat pun bergerak cepat. Kalau ini film, pasti sudah muncul tulisan “Emergency Response Activated”.
BPBD Lumajang langsung memastikan satu hal yang tidak ingin didengar siapa pun: status Semeru dinaikkan dari Level II (Waspada) langsung lompat ke Level IV (Awas) semacam “skip level” yang tidak diinginkan.
“Benar, naik awas,” tegas Isnugroho dari BPBD Lumajang. Ia sedang memimpin koordinasi dari pos Kamar Kajang, karena kondisi tidak memungkinkan untuk naik lebih jauh. Bahkan petugas saja harus berhenti di situ artinya, situasinya memang bukan main-main.
Awan Panas Lari 14 Kilometer, Langit Mendadak Gelap, dan Petir Ikut Nyumbang Efek Dramatis
Laporan PPGA Semeru tidak kalah bikin merinding:
- APG meluncur hingga 14 kilometer dari puncak.
- Lereng yang biasanya masih terang sore itu mendadak gelap total seolah lampu alam dimatikan sepihak.
- Kabut tebal, hujan, dan sambaran petir menambah kesan bahwa Semeru sedang “all-out performance”.
Kalau Anda kebetulan berada di sana tanpa konteks, mungkin Anda akan berpikir dunia sedang reboot.
Jalur Vital Putus, Warga Panik Turun, dan Satu Keluarga Lari Tanpa Menunggu Ending
Material vulkanik dan cuaca ekstrem membuat akses ke Jembatan Gladak Perak di Desa Sumberwuluh terputus. Jalur yang biasanya jadi nadi penghubung antara kampung satu dan lainnya kini tidak bisa dilalui.
Warga zona merah tak perlu diberi penjelasan panjang. Mereka tahu kapan harus bergerak.
Japen, warga Dusun Kajar Kuning, menceritakan detik-detik krusial itu.
“Begitu terlihat asap langsung satu keluarga saya bawa turun, warga yang lain juga sudah banyak yang turun,” ujarnya.
Ini bukan latihan. Ini insting bertahan hidup yang bekerja lebih cepat dari notifikasi darurat.
Balai Desa Jadi Tempat Mengungsi, BPBD Terus Evakuasi
Gelombang warga yang mengungsi mulai memenuhi titik aman.
Amin, Sekretaris Desa Penanggal, mengatakan Balai Desa Penanggal kini sudah dipadati warga, termasuk dari kawasan Gunung Sawur dan hunian sementara (huntara).
Tim BPBD, seperti biasa, masih melanjutkan kerja lapangan. Evakuasi terus berjalan untuk memastikan tak ada warga yang tertinggal di zona bahaya.
Hingga tulisan ini diangkat, Semeru masih erupsi. Situasinya masih berubah-ubah, tapi satu hal jelas: warga bergerak cepat, aparat bekerja, dan gunung well gunung tetap menjadi gunung yang kadang memilih dramatis di hari-hari tertentu.
Penulis : Ris Tanto











