Menu

Mode Gelap
Banjir Telan Lapas Aceh Tamiang, Imipas Lepas Napi demi Selamatkan Nyawa Gubernur Mualem Semprot Kepala Daerah: “Kalau Cengeng, Mending Mundur Saja!” Tiga Hari Tak Terungkap, Jasad Bayi Ditemukan di Plafon Sekolah Banjarnegara Banjir Memuncak, Bupati Aceh Selatan Hilang dari Lokasi Ternyata Pergi Umrah Viral Bupati Bireuen Bahas Sawit Saat Meninjau Banjir, Warganet Geram Di Tengah Lumpur dan Gelap, Gubernur Mualem Salurkan 30 Ton Sembako untuk Korban Banjir

News

Forum Pemerhati Bangsa: Ketika Pancasila Jadi Slogan, Radikalisme Pun Ikut Pamer Eksistensi

badge-check


					Forum Pemerhati Bangsa bahas bagaimana Pancasila yang cuma jadi slogan membuka ruang radikalisme dan intoleransi, lengkap dengan kritik tajam para narasumber.(Foto: Istimewa) Perbesar

Forum Pemerhati Bangsa bahas bagaimana Pancasila yang cuma jadi slogan membuka ruang radikalisme dan intoleransi, lengkap dengan kritik tajam para narasumber.(Foto: Istimewa)

PRABA INSIGHT – JAKARTA – Zoom yang isinya macam-macam aktivis dari Forum Anti Penindasan sampai HMI MPO Forum Pemerhati Bangsa menggelar diskusi bertema “Ideologi Pancasila dalam Benturannya dengan Paham Radikal dan Intoleran di Indonesia.” Jangan bayangkan ini diskusi yang adem-adem saja; topiknya saja sudah terasa seperti alarm nasional.

Mahadir, yang jadi pembicara utama sekaligus pegiat kebangsaan, langsung membuka diskusi dengan kenyataan pahit: radikalisme itu tumbuh bukan karena rumput tetangga lebih hijau, tapi karena sebagian orang merasa dirinya paling Pancasilais, namun menolak keberadaan kelompok lain.

“Radikalisme dapat tumbuh ketika seseorang mengklaim diri paling Pancasilais, namun dalam praktiknya menolak keberadaan kelompok lain,” kata Mahadir.

Kalimat yang kalau dijadikan stiker motor mungkin bisa viral.

Mahadir melanjutkan bahwa banyak pihak memakai Pancasila seperti tagline promosi: terdengar gagah, tapi tidak dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

“Banyak pihak menjadikan Pancasila sekadar slogan atau identitas simbolik, bukan sebagai pedoman etis dan moral dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Alias, Pancasila di bibir, bukan di laku.

Ia juga mengingatkan bahwa ideologi transnasional makin gampang masuk lewat dunia digital. Ruang maya yang isinya meme, debat, dan hoaks berseliweran itu ternyata juga jadi pintu gerbang bagi paham-paham yang membuat bangsa gampang tersinggung dan mudah dipecah.

Karena itu, Mahadir menekankan pentingnya memperbanyak ruang dialog. “Ruang komunikasi yang inklusif akan memperkecil peluang berkembangnya paham radikal dan intoleran,” ujarnya.

Sederhananya: kalau ngomong saja jarang, ya jangan heran kalau salah paham nyebar lebih cepat daripada WiFi tetangga.

Masuk ke sesi pemuda, Razaq dari Pemuda Forum Tanah Air ikut menyemangati bahwa generasi muda punya posisi strategis dalam menjaga kesehatan kebangsaan—bukan kesehatan mental saja.

“Keberagaman Indonesia merupakan kekuatan yang harus dikelola secara efektif melalui sikap saling menghormati, gitu loh,” kata Razaq.

Kalimatnya santai, tapi poinnya serius.

Ia menilai intoleransi sering muncul ketika perbedaan diperlakukan seperti musuh dan ruang dialog ditutup rapat-rapat. Maka dari itu, pemuda perlu aktif menciptakan ruang diskusi di kampus, komunitas, sampai platform digital.

Razaq juga mengingatkan bahwa radikalisme gampang tumbuh saat seseorang merasa dipinggirkan. Solusinya? Buat ruang yang inklusif.

“Menjaga nilai-nilai Pancasila harus dilakukan melalui tindakan nyata yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan dan semangat gotong royong,” ujarnya.

Sesi tanya jawab makin memanas ketika peserta bernama Febrianti Karepowan bertanya: apakah mungkin orang yang merasa paling Pancasilais justru bisa intoleran?

Pertanyaan ini seperti melempar es batu ke panci panas.

Mahadir menjawab tanpa berputar-putar:

“Intoleransi bisa terjadi jika seseorang memahami Pancasila secara sempit, hanya pada simbol, bukan pada praktik sosial.”(Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Habitat Tesso Nilo Menciut Drastis, Gajah Kian Terdesak

4 Desember 2025 - 14:34 WIB

Taman Nasional Tesso Nilo menyusut drastis dari 81 ribu menjadi 12 ribu hektare, membuat habitat gajah kian terdesak dan memasuki fase kritis.

Banjir, Gelondongan Kayu, dan Investigasi Negara: Haidar Alwi Puji Ketegasan Kapolri

3 Desember 2025 - 13:28 WIB

JIHN Bongkar-Bongkaran Korupsi: Dari Janji sampai Budaya yang Mendarah Daging

3 Desember 2025 - 12:35 WIB

Ridwan Kamil Hadiri Pemeriksaan KPK Terkait Dugaan Korupsi Iklan Bank BJB

2 Desember 2025 - 14:42 WIB

Andreas Harsono, Verifikasi HAM, dan Drama Laporan yang Sering Disalahpahami

2 Desember 2025 - 03:43 WIB

Trending di News