Menu

Mode Gelap
Garuda Menggila di GBK! Indonesia Hajar Saint Kitts 4-0, Beckham Putra Jadi Bintang Gaduh Tahanan Yaqut, KPK Minta Maaf: Asep Sebut Kekecewaan Publik Adalah Dukungan RI Cari Sumber Minyak Baru di Tengah Krisis Hormuz, Bahlil: Jangan Tanya dari Mana Abdullah Kelrey Tantang KPK, Desak Pemeriksaan Puan Maharani dan Hapsoro Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka

Ekonomi

“Kena Tarif 32% dari Trump, Indonesia Malah Mau Belanja Lebih Banyak?”

badge-check


					ilustrasi (ist) Perbesar

ilustrasi (ist)

 

PRABA INSIGHT- Tampaknya, mantan Presiden AS Donald Trump memang belum puas bikin dunia dagdigdug. Kali ini, dia resmi menaikkan tarif impor barang dari enam negara Asia, termasuk Indonesia, jadi 32%. Alasannya? Ya standar: demi “melindungi industri dalam negeri Amerika.”

Padahal sih, ini kayak mantan yang tiba-tiba ngeblok medsos kita tanpa sebab yang jelas.

Per 9 April 2025, tarif baru ini resmi berlaku. Dan seperti biasa, Indonesia langsung kena semprot, padahal nggak ikut-ikut lomba dagang global.

Tapi yang mengejutkan, alih-alih ngamuk atau ngasih sanksi balik, pemerintah kita justru bersikap… tenang. Tenang banget. Sampai-sampai mirip mahasiswa tingkat akhir yang udah pasrah sama nasib skripsi.

Strategi “Kasih Sayang” ala Pemerintah Indonesia

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bilang, Indonesia nggak akan balas dendam. Pemerintah memilih jalur damai.

Bahasa resminya sih “diplomasi dan negosiasi,” tapi vibe-nya kayak orang yang tahu diselingkuhi, tapi masih berharap hubungan bisa diselamatkan.

Yang lebih ajaib lagi, pemerintah justru berencana nambah belanja barang-barang dari AS. Iya, kita mau beli lebih banyak gandum, kapas, minyak, gas, mungkin juga burger dan jeans.

Demi apa? Ya biar kelihatan good boy di mata Amerika. Soalnya, dalam hubungan dagang internasional, jadi anak baik kadang lebih efektif daripada jadi jagoan yang banyak gaya.

Ekspor Bisa Mepet, Tapi Pemerintah Tetap PD

Sektor ekspor unggulan Indonesia ke AS—kayak tekstil, elektronik, sampai alas kaki—potensial kena rem mendadak. Tapi pemerintah tetap optimis. Katanya, target pertumbuhan ekonomi 5,2% masih aman.

Defisit anggaran juga diklaim nggak akan jebol-jebol amat. Bahkan Bank Indonesia juga udah siap pasang badan buat jaga kestabilan rupiah.

Singkatnya, meskipun kita disundul sama tarif baru, Indonesia ogah panik. Lebih pilih gaya kalem, sambil pelan-pelan cari celah buat negosiasi. Ya semacam hubungan cinta yang toxic, tapi masih diusahakan supaya nggak bubar jalan.

Tarif Boleh Naik, Harga Diri Tetap Dijaga

Di tengah gonjang-ganjing perang dagang ala Trump, Indonesia menunjukkan bahwa jadi negara berkembang bukan berarti harus selalu nyolot.

Kadang, jadi bijak itu lebih seksi daripada jadi reaktif. Pemerintah bahkan sudah siapkan delegasi khusus buat ngobrol langsung sama AS. Siapa tahu, ngobrol santai sambil ngopi bisa lebih menyelesaikan masalah ketimbang kirim surat protes berjilid-jilid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

RI Cari Sumber Minyak Baru di Tengah Krisis Hormuz, Bahlil: Jangan Tanya dari Mana

27 Maret 2026 - 09:05 WIB

Tiket Palangkaraya-Jakarta Tembus Rp200 Juta Bikin Heboh, Garuda Indonesia Pastikan Bukan Tarif Resmi

19 Maret 2026 - 14:38 WIB

Pegadaian Kantor Wilayah IX Jakarta 2 Luncurkan MPL 2026, Bantu Warga dan Dorong UMKM

17 Maret 2026 - 09:22 WIB

Jelang Lebaran, Tarif Tol Batang-Semarang Resmi Naik 29 Persen: Mudik Makin Mahal

17 Maret 2026 - 07:58 WIB

Mudik Gratis Pegadaian 2026, Kantor Wilayah Pegadaian IX Jakarta 2 Ikut Berangkatkan Peserta

16 Maret 2026 - 10:32 WIB

Trending di Ekonomi