Menu

Mode Gelap
Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1 Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

Ekonomi

“Kena Tarif 32% dari Trump, Indonesia Malah Mau Belanja Lebih Banyak?”

badge-check

ilustrasi (ist) Perbesar

ilustrasi (ist)

 

PRABA INSIGHT- Tampaknya, mantan Presiden AS Donald Trump memang belum puas bikin dunia dagdigdug. Kali ini, dia resmi menaikkan tarif impor barang dari enam negara Asia, termasuk Indonesia, jadi 32%. Alasannya? Ya standar: demi “melindungi industri dalam negeri Amerika.”

Padahal sih, ini kayak mantan yang tiba-tiba ngeblok medsos kita tanpa sebab yang jelas.

Per 9 April 2025, tarif baru ini resmi berlaku. Dan seperti biasa, Indonesia langsung kena semprot, padahal nggak ikut-ikut lomba dagang global.

Tapi yang mengejutkan, alih-alih ngamuk atau ngasih sanksi balik, pemerintah kita justru bersikap… tenang. Tenang banget. Sampai-sampai mirip mahasiswa tingkat akhir yang udah pasrah sama nasib skripsi.

Strategi “Kasih Sayang” ala Pemerintah Indonesia

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bilang, Indonesia nggak akan balas dendam. Pemerintah memilih jalur damai.

Bahasa resminya sih “diplomasi dan negosiasi,” tapi vibe-nya kayak orang yang tahu diselingkuhi, tapi masih berharap hubungan bisa diselamatkan.

Yang lebih ajaib lagi, pemerintah justru berencana nambah belanja barang-barang dari AS. Iya, kita mau beli lebih banyak gandum, kapas, minyak, gas, mungkin juga burger dan jeans.

Demi apa? Ya biar kelihatan good boy di mata Amerika. Soalnya, dalam hubungan dagang internasional, jadi anak baik kadang lebih efektif daripada jadi jagoan yang banyak gaya.

Ekspor Bisa Mepet, Tapi Pemerintah Tetap PD

Sektor ekspor unggulan Indonesia ke AS—kayak tekstil, elektronik, sampai alas kaki—potensial kena rem mendadak. Tapi pemerintah tetap optimis. Katanya, target pertumbuhan ekonomi 5,2% masih aman.

Defisit anggaran juga diklaim nggak akan jebol-jebol amat. Bahkan Bank Indonesia juga udah siap pasang badan buat jaga kestabilan rupiah.

Singkatnya, meskipun kita disundul sama tarif baru, Indonesia ogah panik. Lebih pilih gaya kalem, sambil pelan-pelan cari celah buat negosiasi. Ya semacam hubungan cinta yang toxic, tapi masih diusahakan supaya nggak bubar jalan.

Tarif Boleh Naik, Harga Diri Tetap Dijaga

Di tengah gonjang-ganjing perang dagang ala Trump, Indonesia menunjukkan bahwa jadi negara berkembang bukan berarti harus selalu nyolot.

Kadang, jadi bijak itu lebih seksi daripada jadi reaktif. Pemerintah bahkan sudah siapkan delegasi khusus buat ngobrol langsung sama AS. Siapa tahu, ngobrol santai sambil ngopi bisa lebih menyelesaikan masalah ketimbang kirim surat protes berjilid-jilid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada

7 Agustus 2026 - 18:14

Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

7 Agustus 2026 - 17:48

JakOne Mobile Bikin Bank Jakarta Panen Penghargaan, Bukti Transformasi Digital Bukan Sekadar Gimmick

4 Agustus 2026 - 11:11

Pemerintah Resmi Ubah Status Ojol Jadi Pelaku UMKM, Perpres Masuki Tahap Final

21 Juli 2026 - 18:33

Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba

15 Juli 2026 - 13:11

Trending di Ekonomi