Menu

Mode Gelap
Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya Hari Purwanto Soroti Dugaan Kriminalisasi Dirjen Bea Cukai, Singgung Dampaknya ke Citra Presiden Prabowo Polda Papua Selatan dan Papua Pegunungan Dinilai Mendesak, Sandri Rumanama: Rakyat Butuh Kepastian Keamanan Ketika Pot Bunga Lebih Cepat Bicara daripada Mulut Tetangga di Jatirasa

Ekonomi

“Kena Tarif 32% dari Trump, Indonesia Malah Mau Belanja Lebih Banyak?”

badge-check


					ilustrasi (ist) Perbesar

ilustrasi (ist)

 

PRABA INSIGHT- Tampaknya, mantan Presiden AS Donald Trump memang belum puas bikin dunia dagdigdug. Kali ini, dia resmi menaikkan tarif impor barang dari enam negara Asia, termasuk Indonesia, jadi 32%. Alasannya? Ya standar: demi “melindungi industri dalam negeri Amerika.”

Padahal sih, ini kayak mantan yang tiba-tiba ngeblok medsos kita tanpa sebab yang jelas.

Per 9 April 2025, tarif baru ini resmi berlaku. Dan seperti biasa, Indonesia langsung kena semprot, padahal nggak ikut-ikut lomba dagang global.

Tapi yang mengejutkan, alih-alih ngamuk atau ngasih sanksi balik, pemerintah kita justru bersikap… tenang. Tenang banget. Sampai-sampai mirip mahasiswa tingkat akhir yang udah pasrah sama nasib skripsi.

Strategi “Kasih Sayang” ala Pemerintah Indonesia

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bilang, Indonesia nggak akan balas dendam. Pemerintah memilih jalur damai.

Bahasa resminya sih “diplomasi dan negosiasi,” tapi vibe-nya kayak orang yang tahu diselingkuhi, tapi masih berharap hubungan bisa diselamatkan.

Yang lebih ajaib lagi, pemerintah justru berencana nambah belanja barang-barang dari AS. Iya, kita mau beli lebih banyak gandum, kapas, minyak, gas, mungkin juga burger dan jeans.

Demi apa? Ya biar kelihatan good boy di mata Amerika. Soalnya, dalam hubungan dagang internasional, jadi anak baik kadang lebih efektif daripada jadi jagoan yang banyak gaya.

Ekspor Bisa Mepet, Tapi Pemerintah Tetap PD

Sektor ekspor unggulan Indonesia ke AS—kayak tekstil, elektronik, sampai alas kaki—potensial kena rem mendadak. Tapi pemerintah tetap optimis. Katanya, target pertumbuhan ekonomi 5,2% masih aman.

Defisit anggaran juga diklaim nggak akan jebol-jebol amat. Bahkan Bank Indonesia juga udah siap pasang badan buat jaga kestabilan rupiah.

Singkatnya, meskipun kita disundul sama tarif baru, Indonesia ogah panik. Lebih pilih gaya kalem, sambil pelan-pelan cari celah buat negosiasi. Ya semacam hubungan cinta yang toxic, tapi masih diusahakan supaya nggak bubar jalan.

Tarif Boleh Naik, Harga Diri Tetap Dijaga

Di tengah gonjang-ganjing perang dagang ala Trump, Indonesia menunjukkan bahwa jadi negara berkembang bukan berarti harus selalu nyolot.

Kadang, jadi bijak itu lebih seksi daripada jadi reaktif. Pemerintah bahkan sudah siapkan delegasi khusus buat ngobrol langsung sama AS. Siapa tahu, ngobrol santai sambil ngopi bisa lebih menyelesaikan masalah ketimbang kirim surat protes berjilid-jilid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polda Papua Selatan dan Papua Pegunungan Dinilai Mendesak, Sandri Rumanama: Rakyat Butuh Kepastian Keamanan

10 Mei 2026 - 00:25

Ojol Rayakan Potongan Aplikator Maksimal 8 Persen, APOB: Perjuangan Belum Selesai

9 Mei 2026 - 16:46

Prabowo Kumpulkan “Tim Ekonomi Inti” di Istana, Bahas Apa? Rupiah Melemah, Jawabannya Masih Misteri

5 Mei 2026 - 18:42

Rupiah Turun ke Rp17.424, Airlangga-Purbaya: Ini Bukan Krisis 1998

5 Mei 2026 - 17:51

PPN Jalan Tol Kembali Muncul, DJP Siapkan Pajak Baru di Tengah Target Ribuan Kilometer Tol

22 April 2026 - 20:23

Trending di Ekonomi