Menu

Mode Gelap
Mau Adu Skill Sama Luís Figo? Pesta Bola HGI 2026 Buka Jalan Buat yang Nggak Cuma Jago Nonton Bola Ketika Sertifikat Dipersoalkan, Warga Kwini 8 Memilih Mengadu ke DPRD, Ombudsman, dan BPN Roy Suryo Menggugat, Polda Metro Santai: “Semua Sudah Sesuai SOP” Rp55 Juta Sudah Dibayar, Tiga Pemuda di Percetakan Mau Print Tetap Disekap, Pelaku Minta Rp150 Juta Komarudin Watubun Santai Soal Jokowi Injak Kepala Kerbau: “PDIP Itu Kepala Banteng, Bukan Kerbau” Spitze Sentosa Indonesia Punya Resep Bikin Kantor Betah: Badminton Bareng Tanpa Sekat Jabatan

Ekonomi

NIB Katanya Bikin Mudah, Rakyat Kecil Malah Makin Pusing Tujuh Keliling

badge-check


					Keluhan pelaku UMKM soal perizinan usaha kian menguat. Digitalisasi NIB yang digadang mempermudah justru dinilai menambah beban dan menjauhkan negara dari rakyat kecil. Perbesar

Keluhan pelaku UMKM soal perizinan usaha kian menguat. Digitalisasi NIB yang digadang mempermudah justru dinilai menambah beban dan menjauhkan negara dari rakyat kecil.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau tujuan digitalisasi perizinan usaha adalah mempermudah hidup rakyat, mungkin ada yang keliru di lapangan. Setidaknya itu yang dirasakan Abdullah Kelrey, Founder Nusa Ina Connection (NIC). Di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kata dia, sistem perizinan usaha justru terasa makin njelimet terutama bagi pelaku usaha mikro dan kecil yang hidupnya sudah ribet dari sananya.

Alih-alih jadi karpet merah bagi pedagang kecil, nelayan, petani, dan pelaku usaha tradisional, Nomor Induk Berusaha (NIB) malah terasa seperti labirin digital tanpa peta. Semua serba online, semua serba aplikasi, tapi tak semua orang punya bekal literasi teknologi yang cukup. Negara tampaknya lupa, sinyal internet tidak tumbuh merata seperti padi di sawah.

“Katanya mempermudah, tapi di lapangan malah jadi beban baru. Banyak rakyat kecil kebingungan, nggak ada pendampingan, akhirnya urusan legalitas usaha mereka mandek di tengah jalan,” ujar Abdullah Kelrey kepada media, Kamis (29/1/2026).

Menurut Kelrey, semangat rakyat kecil untuk naik kelas kerap patah sebelum berkembang. Bukan karena malas, tapi karena terjebak urusan administrasi yang berlapis-lapis. Dari satu meja ke meja lain yang kini berubah jadi satu aplikasi ke aplikasi lain tanpa kepastian kapan selesai.

“Bagaimana mau semangat usaha kalau ngurus izin saja ribetnya kebangetan. Waktu dan tenaga habis, hasilnya belum tentu ada,” katanya.

Ia menilai jargon deregulasi dan kemudahan berusaha yang sering digaungkan pemerintah belum sepenuhnya menyentuh realitas di akar rumput. Proses yang panjang, syarat administrasi yang berlapis, serta minimnya sosialisasi justru berpotensi membuat usaha kecil makin terpinggirkan. Formalisasi UMKM yang niat awalnya baik, bisa berubah jadi palang pintu bagi mereka yang tak siap secara digital.

Kelrey mendorong pemerintah untuk bercermin ulang. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem perizinan termasuk NIB dinilai mendesak. Bukan cuma mempercantik aplikasi, tapi juga menghadirkan pendampingan langsung, layanan offline yang mudah dijangkau, serta kebijakan afirmatif yang benar-benar berpihak pada rakyat kecil.

Sebab bagi pelaku usaha mikro, kehadiran negara seharusnya terasa seperti tangan yang membantu, bukan formulir digital yang bikin dahi berkerut. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Benny Wullur vs Hotman Paris, Akademisi Pertanyakan Pencabutan Inkracht

18 Juni 2026 - 21:25

Potensi Wakaf RI Rp400 Triliun per Tahun, Berry Kurniawan: Mulai Rp1.000 Sehari Bisa Ubah Nasib Umat

17 Juni 2026 - 11:29

Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Sandri Rumanama Minta Pemerintah Berani Naikkan BBM

1 Juni 2026 - 16:03

Beli Saham GoTo Saja Nggak Cukup, Negara Harus Ikut Kelola Bisnis Ojol

30 Mei 2026 - 14:19

Whoosh Ngebut di Rel, Utangnya ke Telkomsel Malah Mandek Rp298 Miliar

22 Mei 2026 - 19:14

Trending di Ekonomi