PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Rapat perdana Board of Peace baru saja digelar. Namanya saja sudah berat: Board of Peace. Kedengarannya seperti rapat yang isinya bukan sekadar notulen, tapi juga harapan umat manusia. Di forum itulah Presiden Prabowo Subianto bicara soal Gaza dengan nada optimistis, meski tetap sadar bahwa dunia tidak pernah sesederhana judul rapat.
“Ya, Alhamdulillah tadi (rapat) berjalan dengan baik, lancar ya. Kita lihat kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai,” kata Presiden Prabowo, Jumat (20/2/2026).
Optimisme itu bukan tanpa dasar. Menurut Presiden, aliran bantuan kemanusiaan ke Gaza justru sedang berada di titik yang relatif tinggi jika dibandingkan beberapa tahun terakhir. Dalam situasi yang serba darurat, kabar soal makanan yang mengalir deras jelas bukan berita kecil.
“Sementara saya kira aliran bantuan makan, kebutuhan rakyat Gaza saya kira tertinggi selama beberapa tahun. Jadi makan cukup, kebutuhan-kebutuhan lain mengalir deras,” lanjut Presiden Prabowo.
Di tengah dunia yang sering ribut soal geopolitik, sanksi, dan veto, kalimat “makan cukup” terdengar seperti kemewahan. Gaza, yang selama ini lebih sering muncul di berita sebagai lokasi konflik, untuk sementara punya kabar yang sedikit lebih manusiawi.
Tapi Prabowo tidak menjual harapan kosong. Ia tahu betul, urusan perdamaian bukan perkara klik submit. Hambatan masih berjajar rapi di depan mata, dari yang kelihatan sampai yang sengaja disembunyikan.
“Saya juga ingatkan banyak kesulitan, di depan masih banyak hambatan, rintangan, obstacles,” ucapnya.
Perdamaian Bukan Sekadar Optimisme
Meski tantangan masih menggunung, Presiden memastikan Indonesia tidak berniat menurunkan volumenya dalam urusan Palestina. Bersama negara-negara Muslim lainnya, komitmen untuk mendorong perdamaian justru ditegaskan ulang sekali lagi, di rapat yang namanya saja sudah mengandung kata peace.
“Kita harus bertekad untuk mencapai keberhasilan demi rakyat Palestina. Kita tentunya komit, tadi beberapa negara-negara muslim semua menegaskan komitmen kita untuk benar-benar mencapai lasting peace,” tegas Presiden Prabowo.
Dan seperti pidato-pidato diplomasi yang serius tapi realistis, Prabowo kembali menegaskan satu hal yang sejak lama jadi sikap Indonesia: tidak ada jalan pintas untuk damai abadi.
“Bagi kita the real, the only long lasting solution is a two-state solution,” tutup Presiden Prabowo.
Rapat perdana Board of Peace pun selesai. Perdamaian belum datang besok pagi. Tapi setidaknya, di tengah dunia yang sering lebih sibuk berdebat daripada memberi makan, ada kabar bahwa bantuan mengalir dan komitmen masih diucapkan dengan lantang. (Van)







