Menu

Mode Gelap
Ramadhan Peduli di Depok: Mahasiswa BEM PTAI Bukan Cuma Buka Bersama, Tapi Juga Santuni Anak Yatim Ditegur Saat Apel Pagi, Karyawan di Tojo Una-Una Tewas Diduga Diserang Rekan Kerja Kronologi Tenggelamnya Fregat IRIS Dena: Dari Izin Sandar di India hingga Diduga Ditorpedo di Samudra Hindia Kabar Adik Benjamin Netanyahu Tewas dalam Serangan Rudal Iran Bikin Timur Tengah Makin Panas Update Bantargebang: Longsor Gunungan Sampah Tewaskan 6 Orang, 1 Korban Masih Dicari Pria di Tanjungpinang Diduga Bunuh dan Mutilasi Istri, Baru Bebas 15 Tahun Penjara Kasus Pembunuhan

News

Indonesia Negara Paling Gampang Ditipu, Urutan Kedua Dunia

badge-check


					Indonesia disebut sebagai negara paling gampang ditipu urutan kedua dunia versi Global Fraud Index 2025. Digitalisasi melesat, keamanan dan literasi digital tertinggal. Perbesar

Indonesia disebut sebagai negara paling gampang ditipu urutan kedua dunia versi Global Fraud Index 2025. Digitalisasi melesat, keamanan dan literasi digital tertinggal.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA –Indonesia sedang keranjingan digitalisasi. Semua serba aplikasi, serba online, serba “tinggal klik”. Dari bayar parkir sampai pinjam uang, semuanya bisa lewat ponsel. Masalahnya, yang ikut lincah bukan cuma warganya penipunya juga.

Laporan Global Fraud Index 2025 yang dirilis Sumsub menempatkan Indonesia di peringkat kedua negara paling rentan penipuan di dunia, dengan skor 6,53 dari 10. Posisi ini bikin Indonesia nangkring di urutan 111 dari 112 negara. Tinggal selangkah lagi jadi juru kunci global urusan keamanan dari penipuan.

Dalam daftar enam besar negara paling rawan penipuan, Indonesia berada di tengah barisan yang tak bisa dibilang membanggakan:

  1. Pakistan – 7,48
  2. Indonesia – 6,53
  3. Nigeria – 6,43
  4. India – 6,16
  5. Tanzania – 5,49
  6. Uganda – 5,38

Indonesia kalah tipis dari Pakistan, tapi masih unggul dalam artian yang salah dari Nigeria dan India. Sebuah podium yang seharusnya tidak perlu dirayakan.

Soal modus, kita sudah terlalu hafal. Penipuan jual-beli online, phishing berkedok notifikasi bank, social engineering ala “petugas resmi”, investasi bodong dengan janji hidup tenang sebelum tua, sampai pinjaman online fiktif yang datangnya cepat, hilangnya lebih cepat lagi. Semua pernah mampir di layar ponsel kita—atau minimal di grup WhatsApp keluarga.

Ketua CISSReC, Dr. Pratama Dahlian Persadha, menyebut kondisi ini sebagai paradoks digitalisasi. Layanan digital di Indonesia tumbuh pesat, tapi perlindungan sistem dan kesadaran keamanannya tertinggal jauh di belakang.

Singkatnya, kita rajin membangun etalase digital, tapi lupa pasang gembok.

Menurut Pratama, masalahnya berlapis. Literasi digital masyarakat masih rendah, sementara laporan penipuan sudah mencapai ratusan ribu kasus dengan kerugian triliunan rupiah. Ironisnya, angka sebesar itu belum otomatis berbanding lurus dengan efek jera bagi pelaku.

Di level kebijakan, situasinya tak kalah janggal. Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) sudah disahkan, tapi Badan PDP sebagai eksekutor belum sepenuhnya operasional. Hukumnya ada, tapi yang jaga belum turun ke lapangan. Penipu pun bekerja tanpa perlu banyak mikir.

Belum lagi soal keamanan sistem di sektor publik dan swasta yang masih timpang. Ada instansi yang serius menjaga data, tapi ada pula yang keamanannya seperti pagar bambu cukup buat formalitas, tapi gampang dilewati.

Akhirnya, ekosistem digital Indonesia jadi lahan basah bagi penipuan. Regulasi setengah jalan, infrastruktur keamanan belum merata, edukasi publik minim. Sementara itu, penipu bergerak cepat, adaptif, dan nyaris tanpa hambatan.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, digitalisasi tak lagi soal kemajuan, tapi soal siapa yang paling cepat menipu siapa. Dan Indonesia, alih-alih menjadi kekuatan ekonomi digital, justru terancam dikenal sebagai negara ramah penipu tapi berbahaya bagi warganya sendiri. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ramadhan Peduli di Depok: Mahasiswa BEM PTAI Bukan Cuma Buka Bersama, Tapi Juga Santuni Anak Yatim

10 Maret 2026 - 15:48 WIB

Update Bantargebang: Longsor Gunungan Sampah Tewaskan 6 Orang, 1 Korban Masih Dicari

9 Maret 2026 - 15:03 WIB

Warga Bekasi Utara Geger Temukan Bayi Perempuan Hidup di Dalam Tong Sampah

9 Maret 2026 - 14:28 WIB

Ribut Usai Laga Malut United vs PSM, Wartawan Diintimidasi hingga Wasit Tertahan di Stadion

9 Maret 2026 - 14:21 WIB

Eks Ketua SP JICT Ermanto Usman Ditemukan Tewas di Bekasi, Kasus Kontrak Rp4,08 Triliun Kembali Disorot

8 Maret 2026 - 14:45 WIB

Trending di Crime