Menu

Mode Gelap
Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus Pesan Pramono ke Pendatang: Jakarta Bukan Tempat Coba Nasib Tanpa Skill Kasus Andrie Yunus Memanas: 4 Prajurit BAIS Ditahan, Isu Kabais Mundur Mencuat di Tengah Penyidikan iOS 26.4 Hadir, Fitur Keamanan iPhone Kini Bikin Maling Ketar-ketir Diduga Hendak Bunuh Diri di Depan Istana, Perempuan Diamankan usai Lepas Sepatu

Internasional

Qatar Tegaskan AS Tak Berhak Mengatur Kawasan Teluk Meski Miliki Pangkalan Militer

badge-check


					Menteri Luar Negeri Qatar menegaskan keberadaan Pangkalan Udara Al Udeid tidak memberi Amerika Serikat hak mengendalikan keputusan politik dan keamanan kawasan Teluk. Perbesar

Menteri Luar Negeri Qatar menegaskan keberadaan Pangkalan Udara Al Udeid tidak memberi Amerika Serikat hak mengendalikan keputusan politik dan keamanan kawasan Teluk.

PRABAINSIGHT.COM – Kalau urusan geopolitik biasanya dipenuhi istilah rumit dan kalimat berlapis diplomasi, Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh bin Jassim al-Thani, justru memilih jalan yang lebih membumi: analogi kos-kosan. Ya, kos-kosan. Bukan peta strategi perang.

Lewat pernyataannya soal Pangkalan Udara Al Udeid markas militer Amerika Serikat yang nangkring di wilayah Qatar Sheikh bin Jassim menegaskan satu hal sederhana: numpang itu ya tahu diri. Keberadaan militer AS di Qatar, kata dia, sama saja seperti penyewa apartemen. Punya kamar, boleh. Tapi jangan sampai merasa berhak ngatur satu gedung.

Amerika Serikat, menurut Doha, tidak otomatis punya kuasa menentukan arah politik dan keamanan kawasan Teluk hanya karena pesawat tempurnya parkir rapi di Al Udeid. Pangkalan itu milik Qatar. AS cuma kontraktor tetap, bukan pemilik sah yang bisa pasang plang “wilayah kekuasaan”.

Sindiran Sheikh bin Jassim tak berhenti di situ. Ia juga mengingatkan Washington agar tak bersikap seolah-olah sedang beramal besar kepada Qatar. Soalnya, kalau bicara untung-rugi, keberadaan pangkalan militer itu justru jauh lebih menguntungkan Amerika Serikat.

“Semua orang tahu pangkalan itu lebih penting bagi Amerika ketimbang bagi kami,” kira-kira begitu pesan yang ingin disampaikan. Halus? Tidak juga. Tapi jujur.

Bahkan, Sheikh bin Jassim menyebut, jika suatu hari Qatar memilih menutup atau membongkar pangkalan militer Amerika tersebut, Doha tidak akan terlalu kelabakan. Sebaliknya, Washington-lah yang bakal megap-megap. Bagi kepentingan strategis AS di Timur Tengah, kehilangan Al Udeid ibarat kehilangan satu tangan masih hidup, tapi pincang.

Di bagian paling pedas, ia menyinggung kebiasaan Amerika Serikat yang rajin memberi cap “teroris” ke sana-sini, sambil diam-diam tetap menggantungkan stabilitas militernya pada negara-negara yang mereka kritik. Kontradiktif, tapi nyata.

Singkatnya, pesan Qatar jelas: silakan numpang, silakan kerja sama. Tapi jangan kebablasan merasa jadi bos. Di Timur Tengah, jadi penyewa tetap bukan berarti otomatis naik jabatan jadi penguasa.

Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka

26 Maret 2026 - 08:45 WIB

Bocoran Rahasia Mossad: Hacker Pro-Palestina Handala Serang Sistem dan Data Laura Gelinsky

17 Maret 2026 - 08:11 WIB

Iran Kirim Sinyal Keras ke Ukraina: Jika Bantu Israel Pakai Drone, Bisa Dianggap “Target Sah”

16 Maret 2026 - 11:04 WIB

Anak Cantumkan Jabatan Ayah di CV, Karier Pejabat Istana Korea Selatan Ini Berakhir

16 Maret 2026 - 10:59 WIB

Kronologi Tenggelamnya Fregat IRIS Dena: Dari Izin Sandar di India hingga Diduga Ditorpedo di Samudra Hindia

10 Maret 2026 - 14:52 WIB

Trending di Internasional