Menu

Mode Gelap
Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Sandri Rumanama Minta Pemerintah Berani Naikkan BBM Viral Rekaman CCTV Curanmor di Cipinang Timur, Wajah Terduga Pelaku Terekam Jelas Beli Saham GoTo Saja Nggak Cukup, Negara Harus Ikut Kelola Bisnis Ojol Rayakan Idul Adha, DKM Grand Center Point Bekasi Rajut Toleransi Antar Umat Pesugihan Kandang Bubrah: Rumah Tak Pernah Jadi, Teror Tak Pernah Berhenti Zimperium Bongkar 250 Aplikasi Android Palsu yang Diam-Diam Daftarkan Korban ke Layanan Premium

Ekonomi

Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Sandri Rumanama Minta Pemerintah Berani Naikkan BBM

badge-check


					Rupiah disebut mendekati Rp18.000 per dolar AS. Founder Kontra Narasi Sandri Rumanama mengusulkan kenaikan harga BBM untuk menekan impor migas dan mengurangi beban subsidi APBN.(istimewa) Perbesar

Rupiah disebut mendekati Rp18.000 per dolar AS. Founder Kontra Narasi Sandri Rumanama mengusulkan kenaikan harga BBM untuk menekan impor migas dan mengurangi beban subsidi APBN.(istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA –  Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan. Di tengah kurs rupiah yang disebut mendekati level Rp18.000 per dolar AS, Founder Kontra Narasi, Sandri Rumanama, meminta pemerintah mengambil langkah berani untuk meredam tekanan terhadap mata uang nasional.

Menurut Sandri, salah satu faktor yang membebani perekonomian Indonesia saat ini adalah tingginya biaya impor minyak dan gas bumi (migas). Kondisi tersebut dinilai ikut menekan cadangan devisa negara karena kebutuhan dolar AS untuk membayar impor energi terus meningkat.

“Kurs 1 USD ke rupiah sudah mendekati 18 ribu. Ini harus ada kebijakan berani dari pemerintah,” kata Sandri dalam keterangannya.

Sandri menilai pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) guna mengurangi beban impor migas dan menekan subsidi energi yang selama ini menyedot anggaran negara.

“Biaya impor migas kita sangat membengkak, akhirnya menekan cadangan devisa. Jadi kalau bisa naikkan saja harga BBM agar bisa menekan biaya impor kita dan mengurangi beban subsidi BBM yang menguras APBN. Presiden harus berani mengambil sikap, jangan sampai kita seperti Somalia dan Zimbabwe,” ujarnya.

Selain persoalan impor migas, Sandri juga menyoroti kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal pemerintah. Menurut dia, defisit anggaran yang mendekati batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi perhatian pelaku pasar, terutama ketika penerimaan pajak belum optimal.

Kondisi tersebut, lanjutnya, berpotensi meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila tidak diimbangi dengan langkah-langkah penguatan penerimaan negara dan pengelolaan belanja yang lebih efektif.

Di sisi lain, permintaan terhadap valuta asing (valas) juga mengalami peningkatan. Kenaikan kebutuhan dolar AS terjadi karena sejumlah faktor musiman, mulai dari pembayaran utang luar negeri hingga repatriasi dividen perusahaan.

“Permintaan valas meningkat secara musiman untuk berbagai keperluan, seperti pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen perusahaan baik swasta maupun badan usaha milik negara, dan kebutuhan operasional impor bahan baku serta pengeluaran program-program ambisius pemerintah seperti Koperasi Desa Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis yang benar-benar menguras anggaran negara,” kata Sandri.

Ia menilai berbagai kebutuhan tersebut membuat permintaan dolar AS di pasar meningkat, sementara tekanan terhadap rupiah masih berlangsung.

Pelemahan rupiah memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional. Selain meningkatkan biaya impor, kondisi tersebut juga berpotensi memicu kenaikan harga barang dan jasa, terutama produk yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memastikan kondisi fiskal tetap sehat di tengah berbagai program prioritas yang sedang dijalankan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Beli Saham GoTo Saja Nggak Cukup, Negara Harus Ikut Kelola Bisnis Ojol

30 Mei 2026 - 14:19

Kemenkeu Mengaku Tak Tahu Soal APBN untuk Kurban Prabowo: “Tanya Mensesneg”

28 Mei 2026 - 18:24

Hakim di Makassar Janjikan Menang Kasasi, Rp1 Miliar Melayang dan Perkara Tak Pernah Diurus

28 Mei 2026 - 18:19

Whoosh Ngebut di Rel, Utangnya ke Telkomsel Malah Mandek Rp298 Miliar

22 Mei 2026 - 19:14

Usul 1.000 Bioskop Desa dari APBN 2027: DPR Ingin Film Daerah Tak Mati Sebelum Tayang

22 Mei 2026 - 19:09

Trending di Nasional