PRABAINSIGHT.COM – Kalau ini film, mungkin judulnya Catch Me If You Can: Versi Barak. Tapi ini bukan layar lebar. Ini kejadian nyata, lengkap dengan seragam, barak, dan senjata laras panjang.
Seorang warga sipil bernama Indra Hikmal Adam (23) sukses menjalani hidup sebagai anggota Brimob palsu tapi meyakinkan selama satu bulan penuh di Batalyon B Resimen III Pelopor Mako Korbrimob. Ia tinggal di barak, ikut latihan, bahkan tidur sebantal dengan anggota Brimob asli. Semua tampak berjalan normal. Terlalu normal, malah.
Kisah ini kemudian viral di media sosial. Bukan karena aksi heroik, tapi karena satu pertanyaan sederhana yang bikin banyak orang mengernyit: kok bisa?
Menyusup Tanpa Banyak Tanya
Indra, atau yang kemudian dikenal dengan inisial IHA, masuk ke lingkungan Mako Korbrimob dengan penuh percaya diri. Ia mengenakan atribut kepolisian lengkap dan berperilaku seperti anggota Brimob remaja pada umumnya. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang bertanya terlalu jauh.
Bahkan, dalam sejumlah foto yang beredar, IHA terlihat berpose bersama anggota Brimob lain sambil memegang senjata laras panjang. Senjata itu, kata informasi yang beredar, dipinjam dari anggota Brimob asli. Dipinjam. Begitu saja.
Selama sebulan, IHA ikut latihan fisik, berbaur, dan menjalani rutinitas barak tanpa status resmi. Sebuah pencapaian yang, kalau dipikir-pikir, lebih cocok masuk CV ketimbang berita kriminal.
Terbongkar Gara-Gara Rokok
Penyamaran rapi itu akhirnya runtuh bukan karena teknologi canggih atau audit ketat, melainkan karena minta rokok.
Pada Rabu, 23 November 2023, pukul 15.59 WIT, seorang anggota Brimob bernama Brigadir Heri Kusmawan merasa ada yang janggal saat IHA meminta rokok di Barak Remaja. Wajahnya terasa asing. Getarannya beda.
Kecurigaan itu kemudian dikoordinasikan dengan Provos. Tak lama, penyamaran IHA resmi tamat.
IHA diamankan dan dibawa ke Ruang Provos Pas Pelopor, lalu menjalani interogasi oleh AKP Wirudo bersama Paminal Mako Korbrimob.
Bukan Anggota, Tapi Bukan Baru
Dari hasil pemeriksaan, diketahui IHA lahir di Ternate, 15 April 2001, beralamat di Kelurahan Fitu, Kota Ternate Selatan. Statusnya jelas: warga sipil.
Yang bikin alis makin naik, menurut sumber internal, IHA pernah ditangkap dalam kasus serupa. Artinya, ini bukan eksperimen pertama. Lebih mirip ulangan dengan level yang lebih nekat.
Dalam penanganan kasus ini, Brimob menyita 38 barang bukti, mulai dari atribut kepolisian, alat komunikasi, dokumen identitas, hingga barang pribadi lainnya.
Latihan Bareng, Status Bohongan
Selama berada di Mako, IHA ikut latihan bareng anggota Brimob remaja di Batalyon B Resimen III Pelopor. Ia menjalani semuanya seolah-olah memang bagian dari institusi tersebut.
Baru setelah seorang senior menaruh curiga, kepingan cerita mulai terangkai. Dan benar saja, di balik seragam itu tak ada NRP. Tak ada penugasan. Tak ada surat apa pun.
Kini, IHA masih menjalani pemeriksaan oleh Provos Brimob.
Publik Bertanya, Institusi Dievaluasi
Kasus ini tentu mengundang tanya publik. Bukan soal keberanian IHA semata, tapi tentang keamanan dan pengawasan di salah satu markas pasukan elite kepolisian.
Bagaimana mungkin seorang warga sipil bisa menyusup, tinggal, berlatih, bahkan memegang senjata selama sebulan tanpa terdeteksi?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin tak sesederhana cerita ini. Tapi satu hal pasti: kadang, kebobolan besar datang bukan dari serangan frontal, melainkan dari wajah yang terlalu akrab untuk dicurigai.
Dan dari satu batang rokok yang diminta di sore hari.











