PRABAINSIGHT.COM – MEDAN – Di Medan Helvetia, sebuah rumah di Jalan Jawa mendadak berubah jadi panggung tragedi. Bukan thriller Hollywood, bukan juga drama Korea. Ini kisah tentang seorang suami bernama Asrizal atau AS yang sakit hati karena… ajakan “enak-enak” ditolak istrinya, SW.
Ya, sesederhana dan seseram itu.
Dalam dunia normal, orang yang ditolak biasanya paling banter diem dua jam sambil rebahan, atau update status “wanita memang misterius”. Tapi di kepala AS, skripnya beda jauh. Alih-alih move on, ia malah menyiapkan rencana yang bikin merinding.
Cerita bermula pada Kamis (30/10). SW sedang memijat suaminya. Lagi pijat, AS minta jatah biologis. SW menolak. Bagi manusia pada umumnya, ini cuma episode kecil dalam rumah tangga. Bagi AS, ini apparently season finale.
Ia lalu mematikan CCTV. Bukan karena listrik hemat paket irit tapi karena ia benar-benar ingin memastikan aksinya tak terekam. Di titik ini, nalar sudah pamit, empati sudah gugur, dan sisanya tinggal amarah yang salah alamat.
Jumat dini hari (31/10), tragedi itu terjadi. SW dibekap bantal hingga napasnya habis. Di rumah itu sebenarnya ada saksi paling getir: anak kandung SW yang juga anak tiri pelaku. Ia mendengar teriakan, tapi tak berani keluar kamar. Bukan karena tak peduli, melainkan karena sudah terlalu lama hidup bersama figur ayah tiri yang katanya kerap kasar.
Ketakutan bisa jadi juga ikut terkunci di kamar malam itu.
Yang bikin bulu kuduk tambah dingin: setelah semuanya berakhir, AS bukannya panik atau lari. Ia malah tidur. Di sebelah jenazah istrinya. Dengan santai. Tenang. Seolah dunia baik-baik saja dan besok masih ada sarapan.
Pagi harinya, skenario sinetron dimulai. Ia menjemput ibu mertuanya ke pasar. Lalu pulang dengan wajah penuh pura-pura cemas dan berkata:
“Bu, kok SW nggak bangun-bangun ya?”
Kalimat yang terdengar pedih, kalau saja kita tidak tahu siapa dalang yang membuat SW “tak bangun selamanya”.
Kasus ini bukan sekadar kriminal. Ia adalah gambaran betapa berbahayanya ego yang memaksa cinta tunduk, betapa ngeri ketika tubuh istri dianggap hak milik, bukan keputusan bersama.
Kini AS tak lagi bersembunyi di balik drama. Ia harus mempertanggungjawabkan semuanya di balik jeruji tempat di mana bantal kembali jadi bantal, bukan senjata, dan “kejantanan” diuji tanpa korban.







