Menu

Mode Gelap
Ramadhan Peduli di Depok: Mahasiswa BEM PTAI Bukan Cuma Buka Bersama, Tapi Juga Santuni Anak Yatim Ditegur Saat Apel Pagi, Karyawan di Tojo Una-Una Tewas Diduga Diserang Rekan Kerja Kronologi Tenggelamnya Fregat IRIS Dena: Dari Izin Sandar di India hingga Diduga Ditorpedo di Samudra Hindia Kabar Adik Benjamin Netanyahu Tewas dalam Serangan Rudal Iran Bikin Timur Tengah Makin Panas Update Bantargebang: Longsor Gunungan Sampah Tewaskan 6 Orang, 1 Korban Masih Dicari Pria di Tanjungpinang Diduga Bunuh dan Mutilasi Istri, Baru Bebas 15 Tahun Penjara Kasus Pembunuhan

Regional

Jakarta Mau Masuk Abad ke-6, Betawi Nggak Mau Cuma Jadi Penonton

badge-check


					Raker Bamus Betawi 1982 yang di gelar di Bogor, Jawa Barat (foto:Praba/Ist) Perbesar

Raker Bamus Betawi 1982 yang di gelar di Bogor, Jawa Barat (foto:Praba/Ist)

PRABA INSIGHT – Belum juga seminggu pegang SK, Pengurus Bamus Suku Betawi 1982 periode 2025–2030 langsung tancap gas. Rapat kerja perdana digelar di Green Forest Hotel, Bogor.

Di tengah sejuknya pepohonan, para tokoh Betawi justru makin panas membahas masa depan: dari budaya, peradaban, sampai strategi Betawi agar gak sekadar jadi “penonton” di era Jakarta pasca-ibu kota.

“Raker ini ngebahas aturan organisasi yang jadi turunan AD/ART hasil Mubes. Intinya, kita benahin dulu rumah tangga kita sendiri, biar kerja gak ngawur,” kata Muhammad Ikhsan, Sekjen Bamus Suku Betawi 1982.

Tapi jangan dikira cuma rapat birokratis ala-ala kantor kelurahan. Ini soal peran penting majelis adat, pengurus harian, sampai majelis kehormatan.

Semua disusun biar organisasi ini gak cuma eksis di undangan kawinan, tapi juga relevan menghadapi dinamika Jakarta yang makin ngacir.

“Jakarta berubahnya cepet banget, apalagi setelah UU No. 2 Tahun 2024 soal DKJ disahkan. Betawi harus lincah dan adaptif,” lanjut Ikhsan.

Bahasa kasarnya: Kalau diem aja, ya bakal kegilas zaman.

Sementara itu, rencana kerja dua tahun ke depan juga dibedah habis-habisan. Mulai dari penguatan budaya, pengembangan SDM Betawi, peningkatan kesejahteraan warga, sampai roadmap pasca-Ibukota pindah dibahas tuntas. Pokoknya Betawi gak mau lagi cuma jadi “ciri khas wisata”.

“Begitu Ibu Kota pindah, Betawi jangan cuma ditinggalin. Kita harus siap. Soal kota global, aglomerasi, dana abadi kebudayaan, dan posisi lembaga adat mesti kita pikirin bener-bener,” tegas Junaedi alias Bang Juned, Ketua Bidang Organisasi yang juga ketua pelaksana Raker.

Kalau orang lain masih sibuk debat definisi aglomerasi, Betawi udah nyusun strategi.

Dari sisi politik, Bang Boim alias Ichwan Ridwan, Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan Bamus, bilang kalau hasil Raker ini bakal sejalan dengan visi-misi Gubernur Pram dan Bang Doel.

Ada sinyal kuat: Betawi mau jadi partner strategis Pemprov, bukan cuma penonton di tribun.

“Kalo Jakarta maju, yang paling ngerasain dampaknya ya orang Betawi. Jadi wajib hukumnya bantuin Gubernur buat majukan kota ini,” ujar Boim dengan semangat ala orator panggung rakyat.

Dan menjelang usia 500 tahun Jakarta, Bang Boim pun narik napas panjang dan ngasih satu pernyataan yang rada mistis tapi filosofis:

“Peradaban itu biasanya mencapai puncak di abad ke-6 sampai ke-7. Jadi, ini momentum Betawi buat unjuk taji. Raker ini harus jadi titik tolak kegemilangan Betawi untuk abad-abad yang akan datang.”

 

Penulis : Alma Khairunnisa | Editor: Irfan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ditegur Saat Apel Pagi, Karyawan di Tojo Una-Una Tewas Diduga Diserang Rekan Kerja

10 Maret 2026 - 15:02 WIB

Heboh! Ledakan di Kauman Ponorogo Terdengar hingga Kilometeran, Satu Rumah Rusak Parah

3 Maret 2026 - 11:48 WIB

Terungkap! Pemprov Kaltim Anggarkan Puluhan Juta untuk Naskah Pidato Gubernur

1 Maret 2026 - 18:18 WIB

Viral! Istri Prajurit di Cenderawasih Diduga Terlibat Selingkuh dengan 13 Anggota TNI AD

27 Februari 2026 - 12:23 WIB

Duar Maut di Situbondo! Ledakan Petasan Hancurkan Rumah, 2 Orang Tewas Termasuk Remaja 15 Tahun

26 Februari 2026 - 14:46 WIB

Trending di News