PRABA INSIGHT- SUMSEL – Ada yang aneh dengan kehidupan di Sumatera Selatan belakangan ini. Bukan, bukan soal cuaca yang makin galak atau jalanan yang makin penuh lobang. Ini soal antrean Solar yang panjangnya bisa bikin orang bertanya-tanya: ini mau beli BBM atau ikut maraton tengah malam?
Ketua Umum Lintas Aktivis Antar Generasi Indonesia (LAAGI), Sukma Hidayat, akhirnya angkat suara. Ia meminta Gubernur Sumatera Selatan untuk meninjau ulang kebijakan pengisian BBM Solar yang alih-alih memudahkan justru bikin warga makin sengsara.
Menurut Sukma, kebijakan itu seharusnya diarahkan untuk memperjuangkan tambahan kuota Solar. Soalnya, kebutuhan kendaraan di Palembang dan sekitarnya tiap hari bukannya menurun, malah seperti tugas kuliah: makin menumpuk.
“Setelah kebijakan diberlakukan, antrean kendaraan malah makin panjang. Ada yang sampai tiga kilometer antre dari jam 10 malam sampai jam 4 pagi,” kata Sukma. Yang bikin tambah nelangsa, setelah mengantre lama, sering kali Solar sudah habis. Lengkap sudah penderitaannya.
Usulan Anti-Drama dari Sukma
Sukma kemudian mengajukan saran untuk meredam drama Solar ini.
Pertama, empat SPBU yang sebelumnya ditutup diminta kembali buka dan melayani Solar. Tapi khusus kendaraan pribadi, ya truk dan bus silakan minggir dulu.
Kedua, 14 SPBU yang buka tengah malam diusulkan ganti sistem. Biar nggak pada berebut jam 22.00–04.00, Sukma menawarkan pola baru:
- 06.00–12.00 WIB untuk pelat ganjil,
- 12.30–17.00 WIB untuk pelat genap,
- 20.00–00.00 WIB untuk semua kendaraan (silakan datang rame-rame).
Ketiga, tujuh SPBU yang sudah buka sesuai jam normal diminta tetap beroperasi seperti biasa. Jangan ikut-ikutan ribet.
Sukma berharap Gubernur Sumsel tidak membiarkan warga bertarung dengan antrean tiga kilometer tiap malam. “Semoga keputusan ini bisa ditinjau ulang agar masyarakat tidak semakin terbebani,” ujarnya. (Van)











