Menu

Mode Gelap
Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas Waduh! Pasien Puskesmas Rawa Tembaga Diduga Terima Obat Kedaluwarsa, Dinkes Kota Bekasi Turun Tangan! Kapolri Angkat Tangan soal Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa: “Sudah Bukan Kewenangan Polri” Garuda di Dadaku Ramaikan Jakarta Fair 2026, Keanu Azka dan Quinn Salman Diserbu Penggemar Cilik MILKLAB Ajak Pecinta Kopi Keliling Kafe Jakarta, Berburu Signature Drink Sambil Koleksi Hadiah Demo Dukung MBG di Monas: Dapat Wajan Baru dan Uang Transport 100 ribuan, Uangnya dari Mana?

News

Sandri Rumanama: Indonesia Timur Harus Menjadi Pilar Strategis Pembangunan Nasional

badge-check


					Sandri Rumanama dorong Indonesia Timur jadi pilar pertumbuhan nasional, dengan pembangunan berkeadilan dan potensi sumber daya lokal.(istimewa) Perbesar

Sandri Rumanama dorong Indonesia Timur jadi pilar pertumbuhan nasional, dengan pembangunan berkeadilan dan potensi sumber daya lokal.(istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau kita bicara pembangunan nasional, rasanya Indonesia Timur selalu jadi “tamu undangan” yang duduk di pojokan. Tapi bagi Sandri Rumanama, Koordinator Nasional Presidium Pemuda Timur, keadaan itu nggak bisa dibiarkan terus-terusan. Menurutnya, percepatan pembangunan di wilayah timur negara ini harus jadi prioritas, bukan cuma pelengkap laporan statistik pemerintah.

Sandri, yang juga Direktur Haidar Alwi Institute dan Founder Kontra Narasi, menekankan bahwa Indonesia Timur sebenarnya punya “aset rahasia” yang luar biasa: posisi geopolitik strategis, sumber daya alam melimpah, dan budaya lokal yang kaya. Tapi, semua potensi itu belum banyak berkontribusi buat kesejahteraan masyarakat setempat.

“Selama ini Indonesia Timur masih dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur dasar, konektivitas wilayah, kualitas layanan pendidikan dan kesehatan, serta rendahnya nilai tambah ekonomi sumber daya alam. Kondisi ini membutuhkan pendekatan kebijakan yang lebih afirmatif dan terintegrasi,” kata Sandri di Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Kalau kata Sandri, pembangunan itu nggak bisa cuma “ngebut di angka statistik nasional” tapi lupa menyentuh rakyat. Harus ada keadilan, harus bisa mendorong kemandirian ekonomi masyarakat lokal, dan tentu saja nggak boleh cuma jadi proyek seremonial yang habis liputan media langsung lupa.

Sinergi antar-pemerintah pusat dan daerah jadi kuncinya. Mulai dari memperbaiki konektivitas, membina SDM lokal, sampai hilirisasi sumber daya alam dengan sentuhan kearifan lokal semua itu harus dijalankan bersamaan. Kalau nggak, kata Sandri, Indonesia Timur bisa tetap jadi “mesin pertumbuhan yang diam di tempat”.

“Indonesia Timur harus diposisikan sebagai pilar strategis pembangunan nasional. Jika dikelola dengan serius dan berkeadilan, kawasan ini bisa jadi episentrum baru pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Sandri optimistis. Dengan komitmen politik yang kuat dan kebijakan yang terarah, percepatan pembangunan di Indonesia Timur nggak cuma bakal memperkecil kesenjangan, tapi juga memperkuat persatuan dan keadilan sosial. Jadi kalau selama ini kita cuma melihat Timur sebagai wilayah yang “terlupakan”, mungkin saatnya mulai merhatiin mereka sebagai mesin pertumbuhan baru bagi seluruh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas

23 Juni 2026 - 21:03

Waduh! Pasien Puskesmas Rawa Tembaga Diduga Terima Obat Kedaluwarsa, Dinkes Kota Bekasi Turun Tangan!

23 Juni 2026 - 12:16

Kapolri Angkat Tangan soal Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa: “Sudah Bukan Kewenangan Polri”

23 Juni 2026 - 11:26

Demo Dukung MBG di Monas: Dapat Wajan Baru dan Uang Transport 100 ribuan, Uangnya dari Mana?

23 Juni 2026 - 10:48

Kadisporapar Tanjungbalai Gandeng Aktivis KAMMI, Ini Tujuannya

23 Juni 2026 - 10:48

Trending di News