PRABAINSIGHT.COM – SEMARANG – Minggu malam di Jalan Jagalan biasanya tak banyak drama. Tapi 22 Februari 2026 beda cerita. Kantor DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Semarang justru jadi panggung pamitan. Bukan satu dua orang, melainkan 13 Dewan Pengurus Cabang (DPC) se-Kota Semarang yang datang bersamaan lalu memilih pergi.
Serentak. Tanpa perlu hitung mundur.
Di partai yang gemar bicara soal anak muda dan perubahan, kejadian ini jelas bukan insiden kecil. Tiga belas DPC sekaligus menyatakan mundur adalah tanda bahwa mesin organisasi sedang batuk berat. Ini bukan soal salah paham sepekan, tapi gejala yang tampaknya sudah lama mengendap.
Cara pamitnya pun tidak sembarangan. Para pengurus datang membawa atribut organisasi. Bendera, seragam, sampai plang nama DPC ikut diboyong. Lilin dinyalakan. Simbol keprihatinan atau duka kecil atas kondisi internal yang, menurut mereka, tak lagi sejalan dengan semangat awal.
Tak ada teriakan. Tak ada adu mulut. Tapi justru di situlah letak kekerasannya. Mundur dengan rapi sering kali lebih menyakitkan daripada ribut-ribut di media sosial.
Pengunduran diri massal ini mengirim sinyal yang cukup terang: ada kebuntuan komunikasi. Ada jarak yang tak lagi bisa dijembatani antara pengurus di tingkat kecamatan dengan struktur di atasnya. Seorang perwakilan DPC menyebut langkah ini sebagai bentuk protes atas dinamika organisasi yang dianggap melenceng dari garis perjuangan awal.
Kalimat itu terdengar sopan. Tapi maknanya keras.
Dari sisi politik lokal, dampaknya jelas. Dengan hengkangnya struktur di 13 kecamatan, PSI Semarang kehilangan fondasi penting kerja organisasi. Mesin partai yang biasanya hidup di level bawah kini harus dibangun ulang sementara waktu politik tidak pernah menunggu siapa pun.
Sampai tulisan ini dibuat, belum ada pernyataan resmi dari DPD PSI Jawa Tengah. Tidak ada penjelasan terbuka soal apa yang sebenarnya terjadi, atau bagaimana kekosongan struktur ini akan diisi. Yang ada baru sunyi dan sunyi dalam politik sering kali bukan kabar baik.
Malam itu, lilin-lilin menyala sebentar lalu padam. Tapi bekasnya tertinggal. Dalam politik, pamitan yang tenang justru sering menandai konflik yang paling dalam.
Dan PSI Semarang, malam itu, sedang belajar arti sunyi.
Editor : Irfan Ardhiyanto










