PRABAINSIGHT.COM – Di panggung geopolitik global, kadang yang paling ribut bukan perangannya, tapi narasinya. Kali ini datang dari dua kubu lama: Amerika Serikat dan Iran. Saling kirim sinyal, tapi sama-sama ogah dibilang lagi ngobrol serius.
Presiden AS, Donald Trump, dengan percaya diri bilang Iran “sangat menginginkan” negosiasi. Bahkan, katanya, Teheran sudah memberi “hadiah yang sangat signifikan” yang konon berkaitan dengan minyak, gas, dan Selat Hormuz. Detailnya? Ya, nggak dijelaskan. Seperti biasa.
Di sisi lain, respons Iran datang cepat dan dingin. Ketua parlemen mereka, Mohammad Bagher Ghalibaf, langsung membantah mentah-mentah.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS, dan fakenews [sic] digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta melarikan diri dari kubangan yang menjebak AS dan Israel,” tulisnya di media sosial X.
Kalau diibaratkan, ini seperti dua orang yang saling kirim chat lewat teman, tapi di depan publik sama-sama bilang, “Siapa? Nggak kenal.”
Faktanya memang agak rumit. Kontak antara AS dan Iran itu ada tapi lewat jalur belakang. Negara seperti Pakistan disebut jadi perantara. Jadi bukan negosiasi formal di meja bundar dengan kopi dan kamera, tapi lebih ke diplomasi bisik-bisik.
Masalahnya, dari bisik-bisik itu ke kesepakatan nyata, jalannya masih jauh.
Belakangan, muncul bocoran soal 15 butir rencana perdamaian dari Trump. Isinya cukup ambisius atau kalau dari sudut pandang Iran, mungkin terlalu ngatur.
Beberapa poin utamanya: Iran diminta berkomitmen tidak membuat senjata nuklir, membongkar fasilitas nuklir, dan menyerahkan uranium yang sudah diperkaya ke Badan Tenaga Atom Internasional. Program rudal juga harus dibatasi. Belum lagi permintaan untuk berhenti mendukung kelompok seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi.
Dan yang tak kalah krusial: Iran diminta membuka kembali Selat Hormuz sebagai jalur maritim bebas. Selat ini bukan jalur biasa sepertiga pasokan minyak dan gas dunia lewat sini. Ditutup sedikit saja, harga BBM global bisa langsung lompat-lompat.
Sebagai gantinya, AS menawarkan bantuan pengembangan proyek nuklir sipil di Bushehr dan pencabutan sanksi internasional.
Kedengarannya seperti paket lengkap. Tapi masalahnya, Iran tidak membelinya.
Menurut media pemerintah mereka, proposal itu langsung ditolak. Sebagai balasan, Teheran justru mengajukan syarat versi sendiri. Salah satunya: penghentian total serangan, jaminan tidak ada agresi lagi, hingga tuntutan ganti rugi atas kerusakan perang.
Belum cukup, Iran juga ingin tetap memegang kendali atas Selat Hormuz dan meminta Israel menghentikan serangan terhadap sekutu-sekutu mereka di kawasan.
Kalau dibandingkan, dua proposal ini seperti dua orang yang mau damai tapi masing-masing bawa daftar syarat yang tidak bisa ditawar.
Sementara itu, Gedung Putih sendiri terdengar agak setengah hati. Juru bicaranya, Karoline Leavitt, menyebut bocoran rencana itu “bersifat spekulatif” dan “tidak sepenuhnya akurat,” meski mengakui ada “unsur kebenaran.”
Artinya? Ya, ada, tapi jangan ditanya detailnya.
Di tengah semua ini, satu hal jadi jelas: kedua pihak sama-sama bilang ingin mengakhiri konflik. Tapi, seperti banyak konflik lainnya, mereka hanya mau berhenti dengan syarat versi mereka sendiri.
Iran, meski terpukul secara militer, masih berdiri. Struktur internalnya memungkinkan mereka tetap bergerak. Mereka masih punya pengaruh, masih bisa menyerang, dan yang paling penting masih menguasai Selat Hormuz.
Sementara itu, semakin sering AS mengatakan Iran “butuh kesepakatan”, semakin kecil insentif Iran untuk benar-benar duduk dan menyepakatinya.
Jadi, apakah perang ini akan segera berakhir? Untuk sekarang, jawabannya masih klasik: semua ingin damai, tapi belum ada yang mau mengalah.(Van)











