Menu

Mode Gelap
Rumah Dokter Tua di Pakem Orderan yang Tidak Pernah Selesai 4 Prajurit BAIS TNI Jadi Terdakwa, Motif Penyiraman Aktivis KontraS Diduga Dendam Pribadi Bongkar Kelicikan Ade Armando, Potong Ceramah JK Demi Adsense dan Balas Dendam Politik. Ketegangan Ibadah di Yerusalem: Israel Perketat Akses Minggu Palma, Pemimpin Gereja Protes Proyek Motor Listrik Rp1,2 Triliun untuk BGN Disorot, Kantor Pemenang Tender Mendadak Dijaga Aparat Ahmad Luthfi Kampanye Hemat Energi Naik Sepeda Ratusan Juta, Publik: Ini Hemat atau Gaya?

Regional

Dipicu Perselingkuhan, TKW Asal Ponorogo Runtuhkan Rumah Rp350 Juta Pakai Ekskavator

badge-check


					Aksi nekat TKW di Ponorogo hancurkan rumah Rp350 juta pakai ekskavator usai suami diduga selingkuh. Mediasi gagal, konflik rumah tangga berujung dramatis.(Istimewa) Perbesar

Aksi nekat TKW di Ponorogo hancurkan rumah Rp350 juta pakai ekskavator usai suami diduga selingkuh. Mediasi gagal, konflik rumah tangga berujung dramatis.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – PONOROGO – Selamat datang di Kabupaten Ponorogo, tempat di mana urusan patah hati kadang tak cukup diselesaikan dengan curhat atau status galau. Di sini, ada yang memilih jalur lebih “niat”: merobohkan rumah sendiri pakai ekskavator. Bukan metafora, ini kejadian nyata.

Kisah ini terjadi di Desa Krebet, Kecamatan Jambon. Tokoh utamanya, Saoini (38), baru saja pulang dari Hong Kong setelah bertahun-tahun bekerja keras sebagai pekerja migran. Misinya sederhana dan mulia: membangun rumah layak huni seluas 72 meter persegi dengan nilai sekitar Rp350 juta.

Namun, hidup memang kadang punya plot twist yang tidak manusiawi. Alih-alih disambut setia, Saoini justru dihadapkan pada kenyataan pahit: suaminya, Soeran (42), diduga menjalin hubungan dengan perempuan lain. Lebih pahitnya lagi, perempuan itu masih satu desa. Dekat secara geografis, jauh dari etika.

Saoini tentu tidak tinggal diam. Setelah serangkaian upaya damai yang difasilitasi pihak desa bahkan sampai tiga kali mediasi oleh Kepala Desa Jemiran hasilnya nihil. Masalah klasik tapi pelik: rumah dibangun dari jerih payah Saoini di Hong Kong, sementara tanahnya milik keluarga sang suami.

Di titik ini, logika Saoini cukup tegas: tanah boleh diambil, tapi bangunan hasil keringatnya tidak untuk dinikmati bersama orang ketiga.

Sabtu siang (14/3/2020), suasana Desa Krebet berubah drastis. Sebuah ekskavator masuk ke lokasi, bukan untuk proyek pembangunan, tapi justru pembongkaran. Tanpa banyak seremoni, alat berat itu mulai meratakan rumah permanen yang berdiri kokoh. Dalam hitungan jam, bangunan ratusan juta rupiah itu berubah jadi puing.

Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak ekstrem. Tapi bagi Saoini, mungkin ini satu-satunya cara mengakhiri cerita yang sudah telanjur retak.

Kapolsek Jambon, Iptu Nanang Budianto, membenarkan bahwa akar persoalan adalah adanya pihak ketiga dalam rumah tangga tersebut. Meski rumah sudah rata dengan tanah, kedua belah pihak disebut tidak mempermasalahkan pembongkaran itu.

“Intinya sudah tidak bisa dimediasi. Mereka tidak mempermasalahkan pembongkaran ini,” ujar Iptu Nanang.

Secara hukum, status mereka masih suami istri karena belum resmi bercerai di Pengadilan Agama. Tapi dalam praktiknya, keputusan sudah diambil dengan cara yang… cukup dramatis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ahmad Luthfi Kampanye Hemat Energi Naik Sepeda Ratusan Juta, Publik: Ini Hemat atau Gaya?

16 April 2026 - 20:14

Niat Lunasi Utang Rp2,5 Miliar, Nasabah Ini Malah Dipersulit Bank Data OJK Cuma Rp330 Juta

16 April 2026 - 20:06

Pasien di Karawang Alami Cacat Permanen, Dokter RSU Fikri Medika Dilaporkan

15 April 2026 - 20:16

Oknum Kadis Pertanian Labuan Bajo Diduga Nikah Siri, Istri: Habis Manis Sepah Dibuang

14 April 2026 - 11:39

Oknum DPRD Kabupaten Bekasi Jadi Tersangka Pengeroyokan, Korban: Kok Belum Ditahan?

13 April 2026 - 23:11

Trending di News