PRABAINSIGHT.COM – BEKASI – Kalau biasanya Kota Bekasi cuma jadi bahan candaan netizen karena panasnya yang “level neraka DLC”, kali ini sorotannya naik kelas global. Bukan karena kuliner atau infrastruktur, tapi karena satu hal yang agak bikin meringis: emisi metana dari TPST Bantargebang.
Berdasarkan data terbaru dari pemantauan lembaga internasional, kawasan ini memuntahkan sekitar 6,3 ton gas metana per jam. Angka yang tidak main-main. Saking besarnya, Bekasi kini duduk manis di posisi kedua sebagai penyumbang emisi metana terbesar di dunia tepat di bawah Campo de Mayo.
Temuan ini bukan hasil “feeling lapangan” atau sekadar asumsi. Data dikumpulkan lewat teknologi pemantauan canggih berbasis satelit seperti Carbon Mapper, satelit Tanager-1 milik Planet Labs, hingga instrumen EMIT milik NASA yang nangkring di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Jadi, ini bukan sekadar isu lokal ini sudah masuk radar dunia.

Source: Carbon Mapper | Planet Labs
Masalahnya, metana bukan gas sembarangan. Dalam jangka 20 tahun, daya rusaknya terhadap pemanasan global jauh lebih “galak” dibanding karbon dioksida. Ia juga ikut andil dalam pembentukan ozon troposfer jenis ozon yang bukan melindungi, tapi justru membahayakan, terutama buat sistem pernapasan manusia.
Dengan kata lain, yang keluar dari tumpukan sampah Bantargebang bukan cuma bau yang bisa bikin orang refleks tahan napas, tapi juga ancaman serius bagi iklim dan kesehatan.
Kondisi ini jadi semacam tamparan keras: pengelolaan sampah di kota besar seperti Bekasi tidak bisa lagi pakai pola lama. Volume sampah yang masuk setiap hari yang mencapai ribuan ton sudah menuntut pendekatan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Karena kalau tidak, Bantargebang bukan cuma akan terus jadi “gunung sampah”, tapi juga kandidat langganan papan atas dalam daftar emisi dunia. Dan jujur saja, itu bukan prestasi yang layak dirayakan.







