Menu

Mode Gelap
GMNI Jakarta Demo soal KDMP: Ketika Proyek Desa Dipertanyakan Mahasiswa Sandri Rumanama Minta Standar MEPE Utamakan Keselamatan Polisi di Lapangan Gerakan Nasional Aktivis ’98 Nilai 4 Mahasiswa Trisakti Layak Jadi Pahlawan Nasional Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot Resmi Dimutasi, Kombes Firman Kini Jabat Dirlantas Polda Metro Jaya

News

Bekasi Kota Beracun Nomor 2 Dunia, Bantargebang Hasilkan Gas Metana 6,3 Ton per Jam

badge-check


					TPST Bantargebang di Bekasi menghasilkan 6,3 ton metana per jam, menjadikannya salah satu sumber emisi terbesar dunia menurut data satelit internasional.(istimewa) Perbesar

TPST Bantargebang di Bekasi menghasilkan 6,3 ton metana per jam, menjadikannya salah satu sumber emisi terbesar dunia menurut data satelit internasional.(istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – BEKASI – Kalau biasanya Kota Bekasi cuma jadi bahan candaan netizen karena panasnya yang “level neraka DLC”, kali ini sorotannya naik kelas global. Bukan karena kuliner atau infrastruktur, tapi karena satu hal yang agak bikin meringis: emisi metana dari TPST Bantargebang.

Berdasarkan data terbaru dari pemantauan lembaga internasional, kawasan ini memuntahkan sekitar 6,3 ton gas metana per jam. Angka yang tidak main-main. Saking besarnya, Bekasi kini duduk manis di posisi kedua sebagai penyumbang emisi metana terbesar di dunia tepat di bawah Campo de Mayo.

Temuan ini bukan hasil “feeling lapangan” atau sekadar asumsi. Data dikumpulkan lewat teknologi pemantauan canggih berbasis satelit seperti Carbon Mapper, satelit Tanager-1 milik Planet Labs, hingga instrumen EMIT milik NASA yang nangkring di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Jadi, ini bukan sekadar isu lokal ini sudah masuk radar dunia.

Source: Carbon Mapper | Planet Labs

Masalahnya, metana bukan gas sembarangan. Dalam jangka 20 tahun, daya rusaknya terhadap pemanasan global jauh lebih “galak” dibanding karbon dioksida. Ia juga ikut andil dalam pembentukan ozon troposfer jenis ozon yang bukan melindungi, tapi justru membahayakan, terutama buat sistem pernapasan manusia.

Dengan kata lain, yang keluar dari tumpukan sampah Bantargebang bukan cuma bau yang bisa bikin orang refleks tahan napas, tapi juga ancaman serius bagi iklim dan kesehatan.

Kondisi ini jadi semacam tamparan keras: pengelolaan sampah di kota besar seperti Bekasi tidak bisa lagi pakai pola lama. Volume sampah yang masuk setiap hari yang mencapai ribuan ton sudah menuntut pendekatan yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.

Karena kalau tidak, Bantargebang bukan cuma akan terus jadi “gunung sampah”, tapi juga kandidat langganan papan atas dalam daftar emisi dunia. Dan jujur saja, itu bukan prestasi yang layak dirayakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

GMNI Jakarta Demo soal KDMP: Ketika Proyek Desa Dipertanyakan Mahasiswa

13 Mei 2026 - 17:45

Sandri Rumanama Minta Standar MEPE Utamakan Keselamatan Polisi di Lapangan

13 Mei 2026 - 13:06

Gerakan Nasional Aktivis ’98 Nilai 4 Mahasiswa Trisakti Layak Jadi Pahlawan Nasional

13 Mei 2026 - 00:44

Parliamentary Threshold 7 Persen, OSSO Sebut Demokrasi Bisa Dikuasai Partai Besar

11 Mei 2026 - 19:46

Saling Lapor di Jatiasih: Babak Baru Kasus Dugaan Pengeroyokan dan Lemparan Pot

11 Mei 2026 - 18:57

Trending di News