“ Ada sebuah teori lama yang jarang dibicarakan orang”
KOLOM ANGKER – Teori itu mengatakan bahwa sebagaimana manusia menciptakan hantu dalam cerita, film, dan mimpi buruknya sendiri, ada sesuatu di luar sana yang diam-diam melakukan hal yang sama terhadap kita.
Mereka mengamati manusia.
Mempelajari kebiasaan manusia.
Mencuri cara manusia berjalan.
Meniru suara manusia.
Menghafal senyum manusia.
Lalu suatu hari…
Mereka mencoba menjadi salah satu dari kita.
Masalahnya, tidak semua berhasil.
Dan yang gagal sering kali terlihat sangat mengerikan.
Cerita ini berasal dari seorang pria yang akan kita sebut Pak Sugino.
Bertahun-tahun setelah kejadian itu berlalu, rambutnya sudah mulai memutih. Ia telah memiliki keluarga, pekerjaan yang baik, dan kehidupan yang jauh lebih tenang.
Namun ada satu malam yang tidak pernah bisa ia lupakan.
Satu malam yang masih membuat tangannya gemetar setiap kali diceritakan.
Satu malam ketika ia yakin dirinya bertemu sesuatu yang bukan manusia…
Tetapi sedang berusaha keras untuk menjadi manusia.
Saat itu usia Pak Sugino masih pertengahan dua puluhan.
Hidupnya sedang hancur.
Masalah datang tanpa jeda.
Ia kehilangan harapan.
Dan pada suatu malam yang dingin, ia memutuskan pergi seorang diri ke sebuah gunung terpencil.
Bukan untuk berkemah.
Bukan untuk mencari ketenangan.
Melainkan untuk menghilang.
Selamanya.
Langit malam tampak seperti kubah hitam raksasa yang menelan seluruh cahaya.
Tidak ada bulan.
Tidak ada bintang.
Tidak ada penerangan selain senter kecil yang cahayanya semakin redup.
Hutan di sekelilingnya menjulang seperti tembok raksasa.
Batang-batang pohon berdiri diam bagai sosok kurus yang mengawasi setiap langkahnya.
Kabut menggantung rendah.
Meliuk di antara akar-akar pohon seperti tangan-tangan pucat yang merayap dari dalam tanah.
Semakin jauh ia masuk ke dalam gunung, semakin terasa bahwa tempat itu tidak menginginkan kehadirannya.
Udara menjadi dingin.
Terlalu dingin.
Dingin yang tidak terasa alami.
Dingin yang seolah keluar dari dalam tulang.
Lalu sesuatu berubah.
Satu per satu suara hutan menghilang.
Jangkrik berhenti bernyanyi.
Burung malam lenyap.
Angin pun berhenti berembus.
Semesta mendadak membeku.
Dan bagi orang yang pernah berada di hutan, ada satu hal yang lebih mengerikan daripada suara aneh.
Kesunyian.
Karena hutan yang hidup tidak pernah benar-benar sunyi.
Pak Sugino berhenti melangkah.
Dadanya mendadak sesak.
Instingnya berteriak agar segera pergi.
Namun sebelum sempat bergerak…
Terdengar suara.
Kresak…
Kresak…
Kresak…
Seseorang sedang berjalan di balik pepohonan.
Perlahan.
Tidak tergesa-gesa.
Seolah tahu bahwa mangsanya tidak punya tempat untuk lari.
Pak Sugino mengarahkan senter ke arah suara.
Dan saat itulah ia melihatnya.
Sosok itu berdiri di antara kabut.
Tinggi.
Terlalu tinggi.
Tubuhnya kurus memanjang seperti bayangan manusia yang diregangkan.
Ia mengenakan seragam putih seperti petugas hotel.
Pakaiannya bersih tanpa noda sedikit pun.
Padahal di sekelilingnya hanya ada lumpur, tanah, dan semak belukar.
Namun yang paling mengganggu adalah wajahnya.
Wajah itu tertutup topeng pucat.
Tidak memiliki ekspresi.
Tidak memiliki kehidupan.
Hanya senyum tipis yang tampak dipaksakan.
Senyum yang tidak pernah mencapai mata.
Dan matanya…
Tuhan…
Matanya terlihat seperti seseorang yang baru pertama kali mengetahui apa itu manusia.
Kosong.
Lapar.
Penasaran.
Sosok itu memandangi Pak Sugino tanpa berkedip.
Satu menit.
Dua menit.
Entah berapa lama.
Lalu kepalanya perlahan miring ke samping.
Krrkk…
Terdengar suara tulang berderak.
Miring lebih jauh.
Lebih jauh lagi.
Hingga sudut yang seharusnya mustahil dilakukan manusia.
Pak Sugino tidak bisa bergerak.
Kakinya seperti tertanam ke tanah.
Dan kemudian…
Sosok itu mulai berjalan mendekat.
Langkahnya aneh.
Bukan seperti manusia berjalan.
Melainkan seperti seseorang yang sedang mengingat cara berjalan.
Setiap gerakan terlihat salah.
Setiap ayunan tangan tampak dipelajari.
Setiap langkah terasa seperti tiruan yang belum sempurna.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Semakin dekat.
Semakin dekat.
Dan semakin dekat.
Hingga Pak Sugino bisa mencium aroma yang keluar dari tubuhnya.
Bukan bau manusia.
Bukan bau tanah.
Melainkan aroma lembap seperti pakaian yang tersimpan puluhan tahun di dalam peti mati yang terkunci rapat.
Lalu sosok itu mengangkat tangan.
Gerakannya patah-patah.
Seperti boneka rusak.
Mulut di balik topeng perlahan terbuka.
Dan suara itu keluar.
Suara yang sampai sekarang masih terdengar dalam mimpi buruk Pak Sugino.
“Se…la…mat… da…tang…”
Suaranya terdengar seperti beberapa orang berbicara bersamaan dari dalam sumur yang sangat dalam.
Kemudian ia berhenti.
Seolah sedang berpikir.
Seolah sedang mencari kalimat berikutnya.
Lalu kembali berbicara.
“Apakah… Anda… ingin… saya… membawakan… barang bawaan Anda… sampai ke kamar…”
Pak Sugino membeku.
Namun yang membuat darahnya serasa berhenti mengalir adalah kalimat berikutnya.
Karena setelah mengucapkannya, sosok itu menundukkan kepala.
Lalu berkata dengan suara pelan.
Seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri.
“Sudah benar?”
Hening.
Kemudian terdengar lagi.
“Apakah seperti itu cara manusia berbicara?”
Jantung Pak Sugino nyaris berhenti.
Makhluk itu tidak sedang menyapa.
Makhluk itu sedang belajar.
Sedang berlatih.
Sedang mencoba menjadi manusia.
Dan entah berapa lama ia telah melakukan hal itu di tengah gunung yang gelap.
Saat itulah Pak Sugino berlari.
Ia berlari tanpa menoleh.
Cabang pohon mencabik wajahnya.
Akar pohon membuatnya jatuh berkali-kali.
Napasnya hampir putus.
Namun ketakutan membuatnya terus bergerak.
Lalu di tengah pelariannya…
Ia mendengar sesuatu.
Bukan dari belakang.
Bukan dari depan.
Melainkan dari segala arah.
Dari antara pohon.
Dari balik kabut.
Dari atas kepalanya.
Puluhan suara identik.
Puluhan suara yang sama.
Mengucapkan kalimat yang sama.
“Apakah seperti itu cara manusia berbicara?”
“Apakah seperti itu cara manusia berbicara?”
“Apakah seperti itu cara manusia berbicara?”
Suara-suara itu terus mengikuti.
Semakin banyak.
Semakin dekat.
Seolah seluruh hutan dipenuhi oleh sesuatu yang sedang belajar menjadi manusia.
Dan mungkin…
Sedang memilih wajah siapa yang akan mereka pakai berikutnya.
Bertahun-tahun telah berlalu sejak malam itu.
Pak Sugino berhasil selamat.
Ia membangun hidup baru.
Namun hingga hari ini, ia selalu merasa tidak nyaman ketika seseorang yang tidak dikenalnya tersenyum terlalu lama.
Atau ketika melihat seseorang berdiri diam sambil mengawasinya tanpa berkedip.
Karena jauh di dalam pikirannya masih tersimpan satu pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawab.
Jika makhluk itu saat itu masih belajar…
Jika saat itu ia masih gagal meniru manusia…
Lalu setelah puluhan tahun berlalu…
Seberapa sempurna penyamarannya sekarang?
Dan saat kalian membaca cerita ini…
Bagaimana jika salah satu dari mereka sedang berdiri di dekat kalian…
Tersenyum…
Tanpa berkedip…
Sambil berpura-pura menjadi manusia?
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











