PRABA INSIGHT – JAWA TIMUR – Dunia pesantren di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, lagi-lagi diterpa badai yang baunya tak sedap sama sekali. Bukan karena urusan dapur umum kurang garam, tapi karena skandal yang bikin dahi berkerut sekaligus dada panas.
Polda Jawa Timur resmi turun gunung menyelidiki dugaan pencabulan massal yang disebut-sebut terjadi di Pondok Pesantren Nurul Karomah Galis. Dan pelakunya? Bukan orang sembarangan. Bukan pula orang baru kemarin magang jadi ustaz. Terduga pelaku adalah UF, guru mengaji yang juga putra dari salah satu tokoh agama terpandang di wilayah itu. Lengkap sudah paket kekuasaan dan pengaruhnya.
Skandal ini pecah setelah salah satu santriwati, yang selama ini hidup dalam tekanan dan ketakutan, akhirnya berhasil melarikan diri dari pondok. Kisah pelariannya viral di media sosial dan seperti biasa, warganet langsung naik pitam, memantik perhatian publik seluas-luasnya.
Dari keberanian satu orang korban, terbukalah kotak pandora yang bikin bulu kuduk berdiri. UF diduga telah mencabuli lebih dari 30 santriwati. Tiga puluh, Saudara-saudara. Jumlah yang membuat siapa pun bertanya-tanya: ini pesantren atau arena predator berkeliaran?
Keluarga korban tidak tinggal diam. Mereka melaporkan UF ke Polda Jatim pada Senin malam (1/12/2025) dengan nomor laporan LP/B/1727/XI/2025/SPKT/Polda Jatim. Di dalam laporan itulah terungkap dugaan bahwa aksi bejat sang “guru ngaji” ini sudah berjalan lama setidaknya sejak Januari 2023 di Desa Peterongan, Kecamatan Galis.
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Jules Abraham Abast, membenarkan laporan tersebut dan memastikan pihaknya langsung bergerak cepat.
“Saat ini dilakukan penyelidikan. Beberapa saksi juga sudah dimintai keterangan,”
ujar Jules, Senin (7/12/2025).
Karena pelapor adalah keluarga korban dan terlapor adalah anak tokoh agama yang punya pengaruh cukup besar, Polda Jatim akhirnya mengambil alih kasus ini agar penyelidikan bisa berjalan objektif, transparan, dan tidak ditutup-tutupi.
Kini publik menunggu satu hal: kejelasan status hukum UF. Desakan agar kepolisian segera menetapkan tersangka makin keras terdengar, demi memastikan puluhan santriwati yang masa depannya telah dirusak tidak kembali menjadi angka yang dilupakan.
Penulis : Ristanto | Editor : Ivan







