PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Ada kabar yang bikin Timur Tengah makin panas dari padang pasirnya: mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dilaporkan tewas dalam serangan udara Israel pada awal operasi militer di wilayah Iran.
Informasi ini pertama kali muncul dari media Israel, Ma’ariv, lalu dikutip oleh New York Post. Disebutkan, Ahmadinejad saat itu sedang berstatus tahanan rumah ketika serangan terarah menghantam kediamannya. Sampai tulisan ini dibuat, belum ada pernyataan resmi dari otoritas Iran yang membenarkan atau membantah kabar tersebut.
Yang bikin situasi makin dramatis, gelombang serangan pada Sabtu (28/2/2026) itu juga disebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Kabar kematian Khamenei bahkan dilaporkan telah dikonfirmasi media pemerintah Iran pada Minggu (1/3). Jika benar, ini bukan sekadar serangan militer biasa ini gempa politik kelas berat.
Dari Wali Kota Jadi Presiden Paling Kontroversial
Ahmadinejad bukan tokoh sembarangan. Ia adalah presiden keenam Iran yang menjabat pada 2005–2013. Kariernya melesat dari posisi Wali Kota Teheran, lalu secara mengejutkan mengalahkan tokoh senior Akbar Hashemi Rafsanjani dalam Pilpres 2005.
Gaya politiknya? Konfrontatif. Retorikanya? Meledak-ledak.
Pemilihan ulangnya pada 2009 memicu salah satu krisis politik terbesar dalam sejarah Republik Islam Iran. Hasil pemilu yang disengketakan melahirkan gelombang demonstrasi besar yang dikenal sebagai Gerakan Hijau. Protes itu kemudian dibungkam dengan tangan besi. Sejak saat itu, citra Ahmadinejad makin terbelah: bagi pendukungnya, ia simbol perlawanan; bagi pengkritiknya, ia wajah otoritarianisme modern.
Nuklir, Sanksi, dan Retorika Anti-Israel
Di era Ahmadinejad, isu program nuklir Iran jadi santapan utama diplomasi global. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjatuhkan beberapa putaran sanksi yang makin menekan ekonomi Iran.
Ia juga dikenal luas karena retorikanya yang keras terhadap Israel. Salah satu pernyataannya yang paling kontroversial adalah soal Israel yang disebutnya harus “dihapus dari peta.” Ia bahkan secara terbuka meragukan Holocaust menyebutnya sebagai mitos politik.
Pada 2006, pemerintahannya menggelar konferensi bertajuk “Review of the Global Vision of the Holocaust” di Teheran. Forum ini dikecam dunia karena memberi ruang bagi penyangkal Holocaust, termasuk mantan pemimpin Ku Klux Klan, David Duke. Dunia internasional murka. Iran makin terisolasi.
Mesianisme, Columbia, dan Aliansi Chavez
Ahmadinejad juga bukan tipe politisi yang jaim. Saat berbicara di Universitas Columbia pada 2007, ia pernah menyatakan tidak ada homoseksual di Iran. Ruangan pun riuh oleh tawa.
Di dalam negeri, ia kerap menyinggung soal keyakinan Syiah tentang kedatangan Imam Mahdi. Dalam berbagai forum internasional, termasuk di PBB, ia menyelipkan doa-doa mesianis. Bagi pengkritiknya, ini berbahaya: ketika teologi dan kebijakan publik dicampur seperti kopi sachet dan air panas, hasilnya bisa terlalu pekat untuk dicerna rasionalitas.
Di panggung global, ia menjalin hubungan erat dengan Presiden Venezuela saat itu, Hugo Chavez. Keduanya kompak memposisikan diri sebagai oposisi terhadap dominasi Amerika Serikat.
Ekonomi Seret dan Konflik dengan Khamenei
Di dalam negeri, kebijakan seperti program perumahan Mehr dan reformasi subsidi disebut-sebut memperparah inflasi serta salah urus ekonomi. Ahmadinejad memang datang dengan semangat populis, tapi ekonomi Iran justru kerap megap-megap di bawah tekanan sanksi dan kebijakan internal yang kontroversial.
Menjelang akhir karier politiknya, ia justru berseteru dengan Ali Khamenei. Beberapa kali ia dilarang mencalonkan diri lagi sebagai presiden. Dari orang kuat, ia perlahan tersisih dari lingkar kekuasaan.
Akhir yang Dramatis?
Jika laporan soal tewasnya Ahmadinejad benar, maka riwayat politiknya ditutup dengan cara yang tak kalah dramatis dari gaya kepemimpinannya: serangan udara, konflik regional, dan ketegangan global.
Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran. Dalam politik Timur Tengah, kabar bisa melesat lebih cepat dari rudal dan kebenaran sering datang belakangan.
Satu hal yang pasti: nama Ahmadinejad sudah lama tercatat dalam sejarah sebagai simbol perlawanan Iran terhadap tekanan Barat, sekaligus sebagai figur yang memecah opini dunia. Dan kini, dunia menunggu kepastian apakah ini benar akhir dari salah satu tokoh paling kontroversial Iran abad ke-21. (Van)











